Kapolri Ajak BEM dan OKP Perkokoh NKRI Demi Mewujudkan Kemajuan Bangsa

Nasional 0
kapolri-ajak-bem-okp-perkokoh-nkri

Kapolri Ajak BEM dan OKP Perkokoh NKRI

DETEKSI.co – Jakarta, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian menjadi pembicara dalam acara Halal bihalal bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Jabodetabek dan Banten serta OKP, Rabu, (26/7/2017). Acara digelar di Auditorium Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) itu, Kapolri memaparkan beberapa poin penting terkait tema acara “Memperkokoh NKRI, Mewujudkan Kemajuan Bangsa.”

Dalam acara itu, Kapolri menjelaskan, sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran pemuda dan mahasiswa. “Sekelompok mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA Batavia, pada tahun 1908 mempelopori berdirinya organisasi kebangsaan Boedi Oetomo,” kata Tito.

Oleh karena itu, lebih lanjut dipaparkan Tito, pendirian ini jadi awal kebangkitan nasionalisme dan perjuangan kebangsaan. Lanjut perjuangan pemuda dan mahasiswa makin mengkristal dan bergelora pada Oktober 1928 saat kalangan pemuda juga mahasiswa mendeklarasikan Soempah Pemoeda. Babakan berikutnya perjuangan kemerdekaan dipelopori kalangan kaum muda. “Jadi peran dan eksistensi mahasiswa dan pemuda jelas tidak terbantahkan. Keberadaan dan perannya sangat vital,” paparnya.

Bahkan, Tito menyebutkan, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Indonesia juga tidak lepas dari peran pemuda. Kalangan Pemuda lah yang “memaksa” dua tokoh bangsa tersebut memproklamirkan Indonesia pada 17 Agustus 1945, mengingat para pemuda mendengar kabar bahwa deklarasi kemerdekaan akan dilakukan setelah 17 Agustus. Proklamasi inilah kesepakatan bangsa Indonesia untuk merdeka. “Ini fakta sejarah. Banyak negara yang merdeka karena pemberian penjajahnya atau tidak mengalami penjajahan bangsa lain,” sebut alumnus terbaik Lembah Tidar ini.

Orang nomor satu di Polri ini mengambil contoh Selandia Baru, di mana ia pernah mengenyam pendidikan di negara tersebut. Suku asli Selandia Baru, yakni Maori, berjuang melawan pendatang Inggris. Inggris tidak menjajah Tapi keberadaan pendatang sangat dominan. Konflik sering terjadi di antara dua pihak. Satu sama lain tidak bisa mengalahkan. Lalu dibuat perjanjian bernama Way Tangi. “Lelah bertikai, dua komponen itu bersepakat damai, dan keduanya menjadi pendiri Selandia baru, saling menghormati dan sama – sama membangun Selandia Baru yang maju. Ini cukup berhasil, asimilasi sukses dan salah satu negara yang maju,” imbuhnya.

Selain itu, Tito mengungkapkan, semua pihak perlu menyadari, jangan anggap Indonesia ini sesuatu yang taken for granted. “Seperti kita bernafas, hal biasa. Tidak bisa. Ini semua diraih dengan perjuangan dan cucuran darah pendahulu kita yang antara lain dipelopori pemuda dan mahasiswa. Kita perlu syukuri 72 tahun bangsa kita masih utuh dan tegak di tengah tantangan dan ancaman yang kian kompleks,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tito menerangkan, beberapa waktu ia mendampingi Presiden menerima Presiden Afghanistan. Pres Afghanistan heran dan takjub melihat Indonesia yang plural dan beragama bisa utuh dan damai. Ia menceritakan Afghanistan yang 95 persen muslim dan Arab, konflik terus dan tiap minggu nyaris bom meledak. Presiden Afghanistan ingin belajar keragaman dan perdamaian dari Indonesia. “Nah, jadi ini peran mahasiswa dan pemuda tidak lepas dalam mempertahankan dan memperkuat NKRI,” terang Tito.

Kapolri menjelasakan, pertanyaannya sekarang, tantangan apa yg dihadapi bangsa kita saat ini? Ia melihat yang terpenting adalah tantangan berkompetisi dengan bangsa lain. Ini era globalisasi. Dampak globalisasi dunia makin kecil dan persaingan meraih kemajuan makin sengit. “Perlu adik – adik ketahui, bahwa dunia ini tengah mengalami anarki. Anarki tidak selalu berkonotasi negatif. Anarki bisa berarti terjadinya Ketidakteraturan karena tidak ada otoritas tunggal, maka terjadi kekacauan atau dis order,” jelasnya.

Ditegaskannya, tidak ada Presiden dunia. Presiden PBB bukan Presiden dunia. Tidak ada yang punya kekuatan menekan. Indonesia negara bangsa, seperti Australia negara bangsa. Karena tidak ada otoritas tunggal, yang terjadi adalah hukum rimba, yangbkuat menekan dan mendikte yang lemah. Amerika kini jadi kekuatan tunggal dan bertindak banyak menekan dan mendikte negara lain. Dulu ada dua kekuatan besar, AS dan Soviet, sehingga ada keseimbangan kekuatan. “Amerika maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka memenangkan kompetisi. Bagaimana kita? Kita tak ada pilihan lain kecuali memenangkan kompetisi,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri, Tito mengenang percakapannya dengan teman semasa sekolah di Singapura. “Saya masih terngiang ucapan teman sekolah saya di NTU, Singapore. Dia bilang: “You have everything but you have nothing.” Indonesia punya segalanya tapi tidak bisa memiliki dan menikmati satupun. SDA kita kaya, minyak dan lainnya melimpah. Tapi faktanya Hampir semua Import. Singapura negara kecil dan tidak punya SDA, Tapi kita impor minyak dari mereka di masa lalu. Singapura maju karena memenangkan kompetisi dengan memprioritaskan pembangunan SDM,” kenangnya.

Oleh karena itu, Tito menambahkan, mampukah kita solid kan internal yang beragam segalanya ini? Kalo kita mampu itu seperti 1908 dan 1928, maka kita akan jadi negara besar dan berpengaruh. Semua modal penting telah kita miliki. Yakni Populasi besar, wilayah besar dan sumber daya besar. “Syarat untuk jadi negara besar yang mendominasi dunia: populasi besar karena punya potensi angkatan kerja besar yang penting untuk jadi mesin produksi massif, sumber daya alam besar untuk menjadi bahan baku produksi dan mandiri tidak tergantung kepada negara lain, serta luas wilayah yang besar untuk menjadi base produksi besar. Hanya ada beberapa negara yang punya tiga syarat itu sehingga bisa menjadi negara besar dan berpengaruh atau memegang hegemoni dunia yakni ; Tiongkok, AS, India, Russia, Indonesia, dan Brazil,” tambahnya.

Perlu diingat, sambung Tito, di tahun 1998 saat ia tengah mengenyam pendidikan di Selandia Baru, ia pernah studi banding ke Tiongkok. Saat itu, Indonesia sudah lebih maju dari pada Sanghai, Beijing. Saat itu Beijing Shanghai masih banyak rumah kumuh. Jauh tertinggal dengan Jakarta. Namun pada kemyataannya, hari ini, kita Sudah tertinggal. “Dan terakhir 2016, luar biasa kemajuan Tiongkok. Bahkan Beijing dan Shanghai sudah seperti New York dan Washington. Tiongkok kini maju dan pegang uang cash terbesar di dunia. Tiongkok juga pemberi hutang terbesar kepada Amerika, yakni 1.2 Triliun dolar Amerika. Teknologi Tiongkok maju pesat, bahkan Sdh bisa bikin pesawat dan kapal selam sendiri. Mereka kini melirik Indonesia, yang menjadi target investasi besar karena pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kita yang bagus. Tiongkok memberi pelajaran penting tentang kekuatan SDM dan ilmu pengetahuan,” sambungnya v

Terakhir, kata Tito , sekarang bola ada di tangan kita. Mau tidak kita solid dan kuat? Ini sangat penting. Adek – adek lah, diharapkan mensolidkan bangsa yang penuh disparitas ini. Peran pemuda dan mahasiswa sangat dinantikan. Adek – adek jadi ujung tombak untuk NKRI menjadi tegak dan maju. “Jangan seperti realitas selama ini. Cakar – cakaran, persoalkan primordialisme, ras dan lainnya,” katanya menjelaskan.

Selain itu, Tito meminta agar anak muda mampu menjawab tantangan. Kita musti mampu menginisiasi. Kita berkompetisi dengan dunia luar. Solid kan bangsa dan inisiasi bangsa ini mampu bersaing dengan bangsa lain melalui ilmu pengetahuan. “Siapa Pendiri Facebook? Anak muda bernama Mark Zuckerberg. Itu kekuatan otak. Juga demikian dengan Twitter, dan lainnya, juga anak anak muda. Karena itu, saya minta stop cakar – cakaran. Boleh demo. Tapi sesuai koridor dan jangan anarkis. Di tangan kalianlah, mahasiswa dan pemuda, masa depan NKRI berada,” pintanya mengakhiri.

Hadir dalam kesempatan tersebut seluruh pejabat utama Mabes Polri, Kapolda Metro dan PJU PMJ serta jajaran Kapolres se Metro Jaya mendampingi Kapolri pada kegiatan yang dihadiri 1200 an undangan yang terdiri dari BEM dan OKP, Irjen Kemendikbud, rektor Untirta Banten dan UIN Banten, serta Deputi 4 Kantor Staf Presiden, KSP, Eko Sulistio. (Dedi)

Tags: