Laporan Pengaduan LSM LP4I Sudah Diterima Ditkrimsus, Kabid Humas : Ya, Kita Cek dan Koordinasikan

Pendidikan 0

kombes-tatan-djirsan-admadja-kabid-humas-poldasu.

Kombes Pol Tatan Djirsan Admadja

DETEKSI.co – Medan, Ketua Umum DPP LSM Lembaga Pemantau Perkembangan Pembangunan Pendidikan Indonesia (LSM – LP4I) Sumatera Utara, sangat menyayangkan terkait kasus dugaan ijazah palsu diterbitkan oleh salah satu Fakultas Perguruan Tinggi di Sumatera Utara.

” Perbuatan itu merupakan pengkhianatan terhadap dunia pendidikan, Pelakunya harus di seret ke Pengadilan.” tegas Frisdarwin A.B.S, ST kepada wartawan Kamis (4/7/2018).

Disamping itu LP4I menuding, Pendidikan Tinggi di daerah Kopertis Wilayah I Sumatera Utara, tidak profesional dalam melakukan pemantauan Perkembangan Pembangunan Pendidikan. Buktinya, ada salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang telah menerima mahasiswa jalur super cepat alias Tamat tanpa kuliah.

Berdasarkan temuan dan informasi yang diterima LSM LP4I, diduga PTS Universitas Dian Nusantara (UNTARA) yang beraa di Jalan Jamin Ginting, Kelurahan Laucih, Kecamatan Medan Tuntungan memiliki 2 jurusan yang Akreditasinya telah mati (Nonaktif) tetapi bisa mengeluarkan sertifikat Tamatan, kedua jurusan tersebut yakni Jurusan Teknik Mesin dan Jurusan Teknik Informatika.

Karena itu, kata Ketum LSM LP4I mendukung pemerintah untuk melakukan sanksi terberat jika perguruan tinggi terbukti bersalah. Namun, dia meminta agar pemerintah juga mencari solusi dari sanksi yang akan dibebankan. Misalnya, nasib mahasiswa dan dosen yang terbukti tak terkait dalam persoalan itu.

“Kami mendukung perguruan tinggi yang bermasalah segera ditutup. Maka sebelumnya pemerintah segera melakukan investigasi secara komprehensif. Apakah penjualan ijazah tersebut dilakukan oleh oknum atau secara sistemik, Pemerintah perlu melakukan kajian dan penyelidikan lebih lanjut dan menegakkan aturan yang sudah ada” jelasnya.

Masih Ketum LSM LP4I, Dalam surat permohonan penyelidikan yang di layangkan pihak LSM LP4I ke Ditkrimsus Polda Sumut pada Senin (2/7/2018) sesuai nomor surat : 35/LSM LP4I/VII/2018, Tertulis bahwa berdasarkan hasil wawancara LSM LP4I kepada PTS UNTARA terdiri dari 3 kampus diantaranya Kampus I beralamat di Jalan Jamin Ginting, Kelurahan Laucih, Kecamatan Medan Tuntungan, Kampus II di Jalan Tuasan Pasar III Krakatau Medan (Kampus II (Carnegie Campus) dan Kampus III, di Jalan Gagak Hitam Medan.

Temuan LSM LP4I dilapangan bahwa Universitas Dian Nusantara (UNTARA) akan melaksanakan yudisium/wisuda pada bulan Juli 2018, dan LSM LP4I memperoleh data nama-nama mahasiswa yang akan diyudisium/wisuda pada bulan Juli 2018 ini.

LSM LP4I mendapat bukti berdasarkan hasil wawancara khusus beberapa mahasiswa diantaranya Wira Nataniel Manurung terdaftar pada jurusan Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer pada Universitas Dian Nusantara (UNTARA), dan telah tampil di PDPT Dikti dengan NPM Tahun Akademik 2012, sementara mahasiswa tersebut dari mulai tahun 2013 s/d 2017 terdaftar pada STMIK Budi Darma.

Dalam hal tersebut, Ketum LSM LP4I mempertanyakan, apakah mahasiswa ini bisa di yudisium /widuda pada Juli 2018, sedangkan akreditas UNTARA Sudah mati (nonaktif).

Kemudian, dalam suratnya, Ketum LSM LP4I menjelaskan Rektor Universitas Dian Nusantara (UNTARA) melaksanakan yudisium/wisuda pada bulan Juli 2018 ini, maka perbuatannya itu dapat dikategorikan telah melanggar SK Dirjen Dikti No. 304/Dikti/Kep/1998, tanggal 18 Agustus 1998 dan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) Bab XX Ketentuan Pidana Pasal 67, (1) perorangan/organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi tanpa hak dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000 (satu milyar).

Selain itu, Ketum LSM LP4I meminta Direktur Reskrimsus Polda Sumut, untuk melakukan penyelidikan antara lain,  Apakah benar Universitas Dian Nusantara (UNTARA) menerima mahasiswa jalur cepat (tamat) tanpa kuliah, apakah hal ini ada diatur dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional).

Apakah benar bahwa jurusan Teknik Mesin dan Teknik Informatika akreditasinya telah mati (nonaktif) dan kalau hal itu benar dan rektor tetap berani melaksanakan yudisium/wisuda maka perbuatannya itu patut diduga telah melanggar SK Dirjen Dikti No. 304/Dikti/Kep/1998, tanggal 18 Agustus 1998 tentang bagi program studi yang sudah terakreditasi dapat melaksanakan proses belajar mengajar secara mandiri sampai dengan penerbitan ijazah.

Serta menyelidiki para mahasiswa pada daftar terlampir, sejak kapan mereka mendaftar di UNTARA, dan apakah para mahasiswa ini telah tampil di PDPT ‘Dikti dan NPM tahun berapa ?. Pihak Polda Sumut segera memanggil Rektor Universitas Dian Nusantara (UNTARA), Kepala bagian PDPT Kopertis Wil-I Sumatera Utara, Koordinator Koperti Wil-I Sumut dan memanggil para mahasiswa tersebut pada daftar nama-nama mahasiswa terlampir yang berdomisili diluar provinsi Sumatera Utara dan mempertajam kapan mereka melakukan perkuliahan di Universitas Dian Nusantara (UNTARA).

Hasil penelusuran awak media di Ditkrimsus Polda Sumut, Rabu (7/7) bahwa surat permohonan penyelidikan yang layangkan pihak LSM LP4I ke Ditkrimsus Polda Sumut pada Senin (2/7) lalu, sudah sampai meja penyidik unit III Subdit IV/ Tipiter Ditkrimsus Polda Sumut, “suratnya sudah masuk api belum diperiksa penyidiknya,” ujar salah satu staf Ditkrimsus Polda Sumut.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Djirsan Atmadja ketika dikonfimasi wartawan, Rabu (4/7/2018), melalui pesan singkat WhatsApp menyebutkan bahwa akan mengecek dan koordinasikan tentang surat itu. “Ya, kita akan cek dan koordinasikan tentang surat itu,” jawab Tatan.

Hal temuan ataupun tudingan LSM LP4I, Awak media ini melakukan konfirmasi dengan menyabangi Kampus II di Jalan Tuasan Pasar III Krakatau Medan (Kampus II (Carnegie Campus), Kamis (5/7/2018) sore, Ternyata pihak Rektor maupun Humas Universitas Dian Nusantara (UNTARA) tidak berkenan untuk dikonfirmasi awak media ini.

Setelah sekian lama menunggu, tidak berapa lama kemudian mobil Sedan toyota Agya warna hitam diikuti dengan mobil milik Kampus II UNTARA. Lalu salah seorang pria yang mengenakan pakaian safari warna coklat turun dari mobil warna hitam sambil menenteng tas warna hitam terlihat kebingungan dan langsung memanggil petugas Security Yayasan Carnegie School/UNTARA Sumut yang diketahui bernama Erik usai memanggil petugas Security itu, pria itu langsung bergegas masuk ke dalam kampus.

Petugas Security mendatangi awak media ini sambil menyebutkan bahwa pria yang mengenakan pakaian safari warna coklat turun dari mobil sedan tadi adalah Kepala Sekolah (Kepsek) Carnegie School dan dia menyebutkan bahwa Kampus UNTARA sudah tidak di sini lagi, di sini hanya Sekolah Carnegie School. “Kampus UNTARA tidak lagi di sini,” ujarnya. (Ir.Robertus Rump)

Tags: