Sumut Miniatur Indonesia, Natalis : Asli Masyarakat Sumatera Utara Tidak Menolak Suku Lain

Politik 0

mt.natalis-situmorang

DR. MT Natalis Situmorang, SHut.MSi

DETEKSI.co – Medan, Perantau asal Sumut angkat bicara terkait ada sekelompok yang mengklaim masyarakat Sumut menolak pemimpin impor, DR. MT. Natalis Situmorang, SHut.MSi dengan tegas mengatakan Provinsi Sumatera Utara menggambarkan miniatur Indonesia, Sebab berbagai agama, suku dan budaya bercampur baur dan hidup dalam harmonisasi.

” Sepengetahuan saya, Dahulu sampai sekarang masyarakat sumut tidak menutup diri, Dulu suku Jawa ke Sumut dan tidak ada penolakan dan khususnya suku Jawa sudah sudah mendominasi. Jika isu itu benar berarti masyarakat Sumatera Utara mengalami kemunduran.” ucap Natalis, Minggu (28/1/2018).

Jangan karena ada Pemilukada lantas orang yang tidak bertanggungjawab itu menggunakan isu – isu yang tidak sehat, Masyarakat Sumut tidak akan tertarik dengan isu Agama apalagi isu penolakan pemimpin bukan dari Sumut. Tidak pernah suku di Provinsi Sumatera Utara menolak suku lain, Kalau ada penulisan seperti itu bukan asli masyarakat Sumut dan patut dipertanyakan jangan – jangan itu merupakan provokasi mental.

” Masyarakat Sumut jangan pilih pemimpin yang arogan, Pilihlah pemimpin yang amanah dan teruji,” imbau Natalis

Perpaduan antara Djarot dengan Sihar bisa membuat terobosan kemajuan di provinsi Sumatera Utara yang multi etnis ini. “Kualifikasi mas Djarot itu sudah teruji dengan kemampuan kepemimpinannya, belum ada terdengar Djarot terlibat kasus korupsi atau pidana lain. Jadi masyarakat Sumut butuh pemimpin yang bersih, Kalau Sihar Sitorus sebagai putra daerah dan merepresentasikan masyarakat Sumut secara keseluruhan.”ujar Natalis

Toleransi masyarakat Sumut telah diketahui oleh dunia sejak dahulu kala, Natalis mencontohkan, Di Sipirok, Tapanuli Selatan, kaum muslim juga ikut merayakan Natal. Hal itu terjadi karena keduanya Muslim – Kristen terikat dalam tradisi marjambar yang masih berlaku hingga sekarang. Setiap kali perayaan agama, baik Kristen maupun Muslim, keduanya akan mendapat jambar. Jambar dalam tradisi Batak adalah “hak yang diperoleh seseorang sesuai statusnya dalam adat.” cetus Natalis Akademisi dari Universitas Pakuan.

Sementara Ketua Umum DPP Rakyat Anti Narkoba (RAN), menyikapi penolakan Djarot jadi calon Gubernur Sumatera Utara, Anjas Milan,ST mengatakan penolakan itu tidak mencerminkan warga Sumut.

” Saya asli suku Jawa, Dan dari kakek hingga ke Ayah tak ada kami di usir di Sumut ini, Jangan – jangan karena moment Pemilukada maka berbagai cara menyebar fitnah dan hoax masih ingat Saracen. Kenapa mereka berbuat demikian karena calon pemimpinnya takut kalah dikarenakan minim prestasi.” jelas Anjas.

Masuknya Djarot seperti membangkitkan energi tersimpan, Djarot adalah harapan baru pemimpin yang bisa membawa perubahan. Perubahan ini selalu ditunggu-tunggu. Dikarenakan selama ini korupsi birokrat dan pelayanan publik yang memuakkan sehingga kepemimpinan korup membuat warga Sumut patah hati.

” Saya yakin, Jika Djarot terpilih jadi Gubsu maka peredaran dan penyalahgunaan Narkoba bisa teratasi karena memang pemimpinnya bersih dan anti narkoba, “jelas Anjas. (Red)

Tags: