Kemelut PT TPL Dua Tokoh Sumut Angkat Bicara

DETEKSI.co-Medan, Seiring dengan bergulirnya kemelut PT Toba Pulp Lestari ( TPL ) belakangan ini, seakan tidak ada memberikan kontribusi terhadap sebuah penyelesaian dari kedua belah pihak. Hal ini di tunjukan dengan tidak adanya kounter ataupun jawaban dari pihak PT TPL sendiri dalam menyikapi dari berbagai pernyataan.

Sehubungan dengan kondisi tersebut dan hasil penelusuran awak media ke beberapa tokoh masyarakat Sumatera Utara, mereka memberikan sebuah solusi tersendiri terkait persoalan tersebut.

Seperti pernyataan ” Sabam P Manalu. Phd ” Ketua Persatuan Marga Manalu Se Indonesia yang sekaligus Ketua DPD F-SPTI-K-SPSI, kepada awak media pada Jumat (4/6/2021) pukul 10’30 WIB, mengatakan ” atas kemelut PT TPL yang terjadi belakangan ini saya sangat prihatin, seharusnya persoalan tersebut sudah bisa dan harus cepat di tanggapi oleh pihak pihak terkait. Dan saya sangat kecewa atas pernyataan Ketua MPR RI beberapa waktu lalu mengenai statementnya untuk menutup PT TPL. Ketika Negara ini sedang membutuhkan para investor untuk membangkitkan ekonomi, malah ada pernyataan seorang Ketua MPR RI untuk menutup PT TPL ” jelasnya.

” Saya berfikir bahwa mari kita selamatkan kedua sisi ini, yakni bagaimana keinginan masyarakat terpenuhi dan PT TPL tetap beroperasi. Saya yakin akan ada solusi khusus untuk penyelesaian persoalan ini. Karena akan sulit dibayangkan ketika PT TPL ini di tutup, maka mau dikemanakan ribuan karyawan, dan para sub kontraktor lokal.” ucap Ketua Persatuan Marga Manalu Se Indonesia.

Sementara kalau di biarkan tuntutan dan keinginan masyarakat setempat akan memperpanjang konflik sosial yang tentu saja berdampak kepada turunya minat investor untuk menanamkan investasinya di negeri ini. Kita ingin memburu tikus maka yang kita lakukan jangan menghancurkan sarang tikusnya, pungkasnya.

Sementara di lain pihak
” Pdt DR. Langsung Sitorus. MTh ” tokoh Masyarakat Batak Toba dan
Mantan Ephorus HKI, terkait persoalan konflik sosial yang terjadi di PT TPL dengan masyarakat, beberapa waktu lalu kepada awak media memberikan sebuah solusi ” Kalau memang tanah yang diklaim rakyat di Natumikka itu tanah adat rakyat yang dicaplok pemerintah dan disewakan kepada PT TPL, maka solusi terbaik dalam sengketa ini adalah :

(1) segera dibuat pemda kab Toba, bahwa tanah itu adalah tanah adat milik rakyat Natumikka.

(2) Pemda dan rakyatnya berunding tentang apa yang akan ditanami di seluruh areal itu. Kalau rakyat setuju  eukalyptus ditanami disana, maka dimintalah PT TPL menyediakan bibitnya, dan menggaji rakyat Natumikka menanaminya dan merawatnya.

(3) Diadakan perjanjian yang jelas bahwa PT TPL nantinya kalau sudah pohonnya bisa dipanen, akan membeli hasil panen itu dengan harga yang normal. (sby)