Maryem Lansia Sakit dan Kehabisan Beras Pemerintah Harus Bantu

Politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Medan Dedy Mauritz Simanjuntak melakukan kunjungan sosial bertepatan dengan hari Lahir Pancasila, di kawasan Kwala Bekala Kota Medan. (1/6/2023)

“Setelah saya mendengar ada warga lansia yang kehabisan beras, saya langsung ke lokasi bersama Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera, Pak Uba Pasaribu”, kata Dedy.

Sebelumnya, Nenek Maryem (71 Thn) yang mendapat bantuan pendampingan sosial dari Ketua Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera. Nenek Maryem mengeluhkan sakit di seputar perutnya. Ia segera dilarikan ke rumah sakit oleh tetangganya setelah melihat nenek Maryem lemas tak berdaya.

Tetangga nenek Maryem sempat kebingungan karena ia tidak memiliki BPJS atau pun uang untuk membayar biaya berobat. Sementara pihak Rumah Sakit hanya memberi tenggat waktu 3 hari agar ia bisa mendapat layanan jaminan kesehatan dari Negara.

Melalui bantuan Uba Pasaribu, KTP dan Kartu Keluarga yang selama ini terbengkalai akibat ketidakseriusan oknum kepling setempat dalam mengurus adminduk nek Maryem, akhirnya bisa selesai. Dan melalui pendampingan aktifis sosial ini, nek Maryem bisa dikeluarkan dari Rumah Sakit.

Selama ini nenek Maryem mendapat pertolongan seadanya dari para tetangga. “Kalau nek Maryem sakit ia meminta uang dari tetangganya untuk membeli obat dari warung”, kata Raimunda, tetangganya.

Dedy memuji solidaritas para tetangga Nenek Maryem yang bergotong royong membantu nenek Maryem dalam kehidupan nya sehari-hari.

Dedy Mauritz Simanjuntak, politisi Partai PSI harapkan agar ada perhatian dari pemerintah Kota Medan untuk lansia ini.

Nenek Maryem ini masuk dalam kategori orang jompo yang tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi hidupnya sehari-hari.

“Sampai kapan tetangga menanggung biaya hidup nek Maryem, sementara tetangga nya juga adalah orang-orang yang perlu dibantu?”, kata Dedy.

“Perangkat kecamatan sampai lingkungan abaikan nek Maryem yang sudah lama tinggal di lingkungan Kwala Bekala ini, untung ada aktifis sosial yang tidak digaji oleh Negara yang mengurusi persoalan orang miskin seperti pak Uba Pasaribu”, lanjut Dedy.

“Jangankan beliau bisa menerima bantuan, Adminduk saja tak selesai di urus oleh perangkat lingkungan yang lama, padahal sudah ada biaya yang dikeluarkan oleh Nek Maryem melalui donasi orang lain untuk mengurus berkas-berkasnya. Ini saja sudah menjadi potret ketidakpedulian pada nasib orang yang terpinggirkan”, kata Dedy.

Tapi sikap sebaliknya telah ditunjukkan para tetangganya yang peduli menolong sesama meski dalam kondisi keterbatasan. “Ini wujud dari pengamalan Pancasila yang sesungguhnya. Di momen peringatan Hari Lahir Pancasila ini, saya sampaikan rasa hormat dan salut melihat tetangga nek Iyem, semoga aparatur pemerintah setempat mau mencontoh serta memiliki kepedulian yang sama”, tutup Dedy
(NN)