Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2022 Capai 5,72 Persen Yoy, Lebih Tinggi dari Capaian Sebelumnya

DETEKSI.co – Medan, Pertumbuhan ekonomi global saat ini sedang menghadapi risiko koreksi yang dapat lebih rendah dan resesi yang tinggi di beberapa negara, termasuk AS dan Eropa. Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berlanjutnya konflik geopolitik yang memicu fragmentasi ekonomi, perdagangan dan investasi, serta dampak pengetatan kebijakan moneter yang agresif.

Hal itu dikatakan Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Doddy Zulverdy dalam Bincang Bareng Media (BBM) Bulanan Bulan yang digelar secara offline dan online dengan awak media, Jumat (25/11/2022) sore.

Kemudian Doddy Zulverdy menyampaikan kenaikan FFR yang diprakirakan hingga awal tahun 2023 dengan siklus yang lebih panjang mendorong tetap kuatnya mata uang USD, sehingga memberikan tekanan pelemahan nilai tukar di berbagai negara.

“Tekanan tersebut juga semakin meningkat sejalan dengan tingginya ketidakpastian global. Aliran keluar investasi portofolio asing menambah tekanan nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelasnya.

Sedangkan untuk perkembangan ekonomi Nasional, sambung Doddy Zulverdy, kinerja ekonomi Indonesia terus menguat. Di mana pertumbuhan ekonomi triwulan III 2022 mencapai 5,72% (yoy), lebih tinggi dari prakiraan dan capaian triwulan sebelumnya sebesar 5,45% (yoy).

“Kinerja ekonomi ditopang oleh berlanjutnya perbaikan permintaan domestik dan tetap tingginya kinerja ekspor, perbaikan ekonomi juga tercermin pada peningkatan pertumbuhan mayoritas Lapangan Usaha (LU) terutama Industri Pengolahan, Transportasi dan pergudangan serta perdagangan besar dan eceran. Secara spasial, perbaikan ekonomi ditopang oleh pertumbuhan yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dengan pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Sulampua diikuti Balinusra, Jawa, Kalimantan, dan Sumatera,” papar Doddy Zulverdy.

Masih dijelaskannya, pertumbuhan ekonomi tetap bias ke atas dalam kisaran proyeksi 4,5-5,3% pada 2022 dan tetap tinggi pada 2023. Berbagai indikator bulan Oktober 2022 dan hasil survei Bank Indonesia terakhir, seperti keyakinan konsumen, penjualan eceran, dan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur mengindikasikan terus berlangsungnya proses pemulihan ekonomi domestik.

“Dari sisi eksternal, kinerja ekspor diprakirakan tetap kuat, khususnya Batubara, CPO, besi dan baja serta ekspor jasa, seiring dengan permintaan beberapa mitra dagang utama yang masih kuat didukung kebijakan Pemerintah. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2022 diprakirakan tetap bias ke atas dalam kisaran proyeksi Bank Indonesia pada 4,5-5,3%. Pertumbuhan ekonomi pada 2023 diprakirakan tetap tinggi didorong oleh permintaan domestik serta kinerja ekspor yang tetap positif di tengah risiko lebih dalamnya perlambatan perekonomian global,” sebutnya. (Van)