DETEKSI.co-Jakarta, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) mengidentifikasi tujuh perusahaan yang diduga terkait dengan kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera.
Asap dari kebakaran tersebut dilaporkan berdampak lintas negara, termasuk ke Singapura. Pemerintah Singapura pun meminta perusahaan-perusahaan yang teridentifikasi mengambil langkah konkret untuk menghentikan kebakaran dan mencegah kejadian serupa terulang.
Berdasarkan informasi yang disampaikan, tujuh perusahaan itu mengelola kawasan hutan di Sumatera. Namun, belum ada kepastian bahwa seluruh perusahaan tersebut berasal dari Singapura atau Indonesia.
Tiga nama yang tercantum dalam daftar tersebut adalah Bumi Andalas Permai, SBA Wood Industries, dan Bumi Mekar Hijau. Ketiganya diketahui merupakan pemasok kayu bagi Asia Pulp & Paper (APP), yang merupakan bagian dari Sinar Mas Group.
Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, memperingatkan perusahaan-perusahaan yang teridentifikasi agar menghentikan praktik pembakaran hutan dan lahan.
Pemerintah Singapura juga meminta perusahaan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan untuk memadamkan kebakaran serta mencegah insiden serupa pada masa mendatang.
Dalam keterangannya yang dikutip Business Times pada Sabtu (17/10/2026), Grace Fu menyatakan bahwa penyelidikan belum menemukan keterkaitan dengan pelanggan atau perusahaan terkait lainnya.
“Kami belum menemukan keterkaitan dengan pelanggan lain atau perusahaan terkait lainnya, sehingga kami belum dapat mengonfirmasi atau memberikan informasi apakah perusahaan-perusahaan tersebut mengarah ke Singapura atau yurisdiksi lain,” demikian pernyataan yang dikutip dalam laporan tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa identifikasi perusahaan dalam penyelidikan belum dengan sendirinya memastikan asal negara perusahaan maupun keterlibatan pihak lain.
Selain perusahaan yang teridentifikasi di Sumatera, perusahaan yang tercatat di bursa Singapura juga mendapat perhatian terkait dugaan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Salah satunya adalah anak perusahaan produsen kelapa sawit Kencana Agri, perusahaan yang terdaftar di bursa Singapura.
Mengutip laporan Straits Times, Kencana Agri mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi di sekitar 62 hektare lahan dalam area konsesi yang dikelola anak-anak perusahaannya di Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.
Namun, perusahaan menyatakan kebakaran tersebut merambat dari lahan di sekitarnya dan bukan berasal dari kegiatan operasional mereka.
Penjelasan itu disampaikan sebagai tanggapan atas pertanyaan Singapore Exchange Regulation (SGX RegCo) mengenai kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia yang menimbulkan kabut asap lintas batas dan berdampak pada Indonesia, Singapura, serta Malaysia.
Sejumlah perusahaan lainnya juga dilaporkan mengakui adanya kebakaran di dalam area konsesi masing-masing, tetapi membantah bahwa mereka menjadi pihak yang memulai kebakaran tersebut.
Dengan demikian, keberadaan titik kebakaran di area konsesi perlu dibedakan dari pembuktian mengenai penyebab kebakaran dan pihak yang bertanggung jawab.
Daftar Tujuh Perusahaan yang Diidentifikasi
Berikut tujuh perusahaan yang disebut dalam informasi hasil penyelidikan NEA terkait karhutla di Sumatera:
- Bumi Andalas Permai
2. Bumi Mekar Hijau
3. Paramitra Mulia Langgeng
4. Sumatera Alam Anugerah
5. SBA Wood Industries
6. Hutan Lestari Raya
7. Bangkanesia
Identifikasi tersebut menjadi perhatian dalam upaya penanganan karhutla yang berdampak lintas negara. Meski demikian, penetapan tanggung jawab masing-masing perusahaan tetap memerlukan kejelasan hasil penyelidikan dan bukti mengenai penyebab kebakaran.
Penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan upaya pemadaman, tetapi juga pengawasan terhadap kawasan konsesi, pencegahan pembakaran lahan, dan tindakan nyata untuk mengurangi risiko kabut asap yang mengganggu masyarakat di Indonesia maupun negara tetangga.(Ril)


