
DETEKSI.co-Tapteng, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Tengah (Tapteng) melaksanakan Perayaan Paskah Oikumene, Kamis (13/4/2026), di Gedung Serbaguna, Pandan.
Perayaan Paskah kali ini mengusung tema “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita (2 Korintus 5:17)”, dan sub tema “Tapanuli Tengah bangkit lebih kuat dalam kesederhanaan dan sukacita.”
Perayaan Paskah diawali dengan pawai yang dilepas Bupati Tapteng, Masinton Pasaribu. Start dari TK Don Bosco Pandan menuju GOR Pandan. Diikuti barisan Forkopimda Tapteng, Ketua TP PKK Tapteng, pengkhotbah Uskup Keuskupan Sibolga, Pastor dan Suster, para pendeta, barisan pembawa bendera, marching band, serta barisan jemaat.
Sebagai tanda dimulainya perayaan, Bupati Tapteng melepas merpati di pintu gerbang GOR Pandan, dilanjutkan dengan ibadah dan acara umum, hiburan lucky draw, serta penampilan artis ibu kota Gok Parasian Malau, artis lokal Mega Flora Silalahi dan Nowela Waruwu.
Selanjutnya persembahan lagu pujian dari paduan suara Gereja Katolik St. Yosep Pandan, paduan suara Rege Sibuluan, paduan suara HKBP Dolok Nauli Pinangsori, paduan suara HKBP Distrik IX Sibolga Tapanuli dan Nias, serta paduan suara Seminari Aek Tolang.
Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga, dalam khotbahnya menyampaikan, pada akhir November 2025 Tapteng mengalami bencana alam banjir bandang dan tanah longsor. Dengan bencana ini mengakibatkan trauma putus asa.
“Namun, kita harus bangkit, bagaimana bencana ini mempersatukan kita. Jangan saling menyalahkan, saya mengajak kita bergandengan tangan berjalan bersama keluar dari kesulitan. Untuk keluar dari bencana ini, tidak cukup hanya bupati dan wakil bupati, atau Sekda, tapi kita semua yang ada di Tapteng harus bekerjasama, saling membantu, termasuk para pemuka agama,” ujar Uskup Sibolga.
Mgr Fransiskus jug mengajak masyarakat untuk menjaga alam dan melestarikan bumi. Karena bumi adalah rumah yang menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya.
“Semoga Tapanuli Tengah naik kelas. Selamat Paskah,” katanya.
Dalam sambutannya, Bupati Masinton Pasaribu menyampaikan, sesungguhnya makna dari Paskah adalah bagaimana warga Tapteng bangkit dari suatu keadaan masa sulit, untuk bangkit lebih kuat lagi dalam kesederhanaan.
“Hari ini kita berdiri di antara dua kenyataan, luka yang masih tersisa dan harapan yang mulai menyala. Kita tidak lupa, kita pernah berjalan di tengah kesulitan, kita melihat rumah yang hancur, kita melihat tanah yang tertimbun, kehilangan keluarga. Saya mengajak kita semua untuk bangkit,” pinta Masinton.
Ditegaskannya, sejak awal bencana, Tapteng tidak pernah sendiri. Bahkan pertama sekali daerah bencana yang dikunjungi oleh Presidem adalah Tapteng. Begitupun, dukungan dari berbagai instansi, kementerian, lembaga, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan juga dari berbagai instansi vertikal, hadir membantu masyarakat Tapteng.
“Bantuan bukan hanya datang dari unsur pemerintah, tapi juga dari unsur gereja, juga dari seluruh elemen gereja bahu-membahu. Bukan hanya dari gereja, masjid, vihara,dan juga dari berbagai lintas keyakinan dan agama lainnya,” ucap Bupati.
Bupati Tapteng menjelaskan, Itu menampakkan bahwa urusan bencana adalah urusan kemanusiaan, bukan urusan politik, dari berbagai partai politik, ketua umum partai politik juga datang membantu bahwa bencana adalah urusan kemanusiaan.
“Kita tidak berdiri sendiri dan Tapteng tidak sendirian. Kita disokong, didukung baik dari sisi anggaran, program, dan pelaksanaan, dari mulai pemerintah pusat, provinsi, dan juga di kabupaten kita alokasikan untuk percepatan pemulihan Tapteng pasca bencana,” ungkap Masinton.
Menutup sambutannya, Bupati Tapteng menyampaikan, masyarakat Tapteng tidak cukup hanya dengan meratap. Masyarakat harus bangkit dan menjadi pejuang-pejuang pemulihan.(RH)





