Harga Plastik Naik Gila-gilaan, Pedagang Es dan PKL Menjerit

DETEKSI.coHarga plastik naik tajam dalam beberapa pekan terakhir dan mulai dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil di sejumlah daerah. Kenaikan ini bukan hanya membebani toko plastik, tetapi juga memukul para pedagang kaki lima yang bergantung pada kemasan plastik untuk berjualan setiap hari.

Di lapangan, lonjakan harga disebut sudah mulai terasa sejak menjelang Ramadan. Kenaikan itu bahkan terus berlanjut hingga setelah Lebaran, dengan angka yang dinilai cukup memberatkan.

Harga plastik naik juga dirasakan di salah satu toko plastik di kawasan Karangkidul, Kota Semarang. Salah satu karyawan Toko Femil (29), mengatakan lonjakan harga mulai terjadi sekitar dua minggu sebelum Lebaran.

Menurut Femil, kenaikan harga sudah mencapai sekitar 30 persen untuk beberapa jenis barang.

“Naiknya sejak dua minggu sebelum Lebaran, sudah naik sekitar 30 persen. Kayak kertas minyak yang panjang dulunya sekitar Rp 26 ribu, naik jadi Rp 31 ribu, terus naik lagi terakhir Rp 37 ribu,” kata Femil kepada wartawan di Karangkidul, Selasa (7/4/2026).

Kenaikan tersebut, kata dia, tidak terjadi per minggu, melainkan bisa berubah hampir setiap hari. Informasi perubahan harga terus datang dari distributor pusat.

Femil menjelaskan, dari berbagai jenis kemasan yang dijual, plastik buram menjadi salah satu produk yang mengalami kenaikan paling terasa. Jenis plastik ini selama ini banyak dipakai pedagang kaki lima untuk membungkus makanan dan minuman.

Kondisi itu membuat para pelaku usaha kecil tidak punya banyak pilihan. Mereka tetap harus membeli plastik karena menjadi bagian penting dari operasional dagang sehari-hari.

Bagi pedagang kecil, kenaikan bahan baku seperti plastik bisa langsung memotong margin keuntungan. Sebab, biaya tambahan harus ditanggung sendiri ketika harga jual produk tidak bisa serta-merta dinaikkan.

Sementara harga plastik naik juga dirasakan pedagang kaki lima di Pasar Pagi Kota Cirebon. Salah satunya adalah Aeni, pedagang es yang mengaku usahanya kini semakin tertekan karena biaya kemasan ikut melonjak.

Aeni mengatakan, kenaikan harga plastik membuat keuntungan dagangnya semakin terkikis. Di sisi lain, ia tidak bisa begitu saja menaikkan harga minuman yang dijual karena khawatir pembeli menolak.

“Pembeli pada protes, gak mau harga (minuman) es naik,” ujar Aeni.

Ia mengaku berada dalam posisi sulit. Di tengah biaya modal yang naik, kondisi penjualan juga sedang tidak ramai.

“Ya mau gimana lagi. Apalagi (dagangan) juga sepi,” tuturnya.

Aeni mengungkapkan, kondisi paling berat justru terjadi ketika biaya operasional naik, tetapi harga jual tetap tertahan. Akibatnya, selisih keuntungan yang biasanya bisa dipakai untuk kebutuhan harian kini semakin kecil.

Situasi ini menjadi gambaran nyata tekanan yang dihadapi pedagang kecil. Kenaikan harga bahan kemasan mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi penjual minuman, makanan, dan jajanan harian, perubahan kecil pada biaya produksi bisa sangat berpengaruh.

Bila kondisi ini terus berlanjut, para pedagang berpotensi menghadapi dilema yang sama: tetap menjual dengan keuntungan tipis atau menaikkan harga dengan risiko kehilangan pembeli.

Dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan dari sisi konsumen. Seorang pembeli es di Pasar Pagi Kota Cirebon, Husen, mengaku terkejut ketika mengetahui harga minuman yang biasa dibelinya mengalami kenaikan.

Menurut dia, konsumen umumnya sudah memiliki patokan harga untuk jajanan harian seperti es minuman dalam kemasan cup.

“Ya kan kita sebagai pembeli tahunya harga es Rp 5 ribu per cup. Kalau harganya naik, ya keberatan lah,” kata Husen.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pedagang memang berada dalam posisi serba sulit. Ketika harga bahan baku naik, mereka harus menanggung beban lebih besar. Namun ketika harga jual dinaikkan, konsumen belum tentu bisa menerima.

Harga plastik naik tidak hanya berdampak pada rantai distribusi barang, tetapi juga menekan usaha mikro dan pedagang harian yang bergantung pada kemasan sekali pakai.

Bagi toko plastik, lonjakan harga membuat stok menjadi lebih mahal. Sementara bagi pedagang kecil, plastik bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utama dari proses jual beli.

Jika tren kenaikan terus berlanjut, maka tekanan terhadap pedagang kecil bisa semakin besar. Mereka akan dipaksa menyesuaikan strategi usaha di tengah daya beli konsumen yang belum tentu ikut naik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']