Dikhianati KIP Palsu, Usi Kini Melangkah ke Universitas Sriwijaya Berkat PTAR

DETEKSI.coTapsel, Harapan sempat hancur berkeping-keping, saat iming-iming kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi lewat Kartu Indonesia Pintar (KIP) ternyata bodong dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kisah perjuangan Usi Putri Nazila, warga Desa Wek 4, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel), Provinsi Sumatra Utara.

Saat itu, kabar tentang adanya bantuan KIP Kuliah, petunjuk salah satu partai, membuat hatinya kembali berbunga-bunga usai patah hati atas kegagalannya mengikuti seleksi Beasiswa Martabe Prestasi tahun 2025 lalu.

Setelah mengurus semua administrasi yang diminta pihak partai tersebut, dirinya pun berkuliah di salah satu universitas swasta jurusan kesehatan di Kota Medan.

Dalam perjalanan pendidikannya selama lima bulan, hati Usi mulai gundah gulana. Harapan yang sempat menyala terang perlahan meredup, sebab dana KIP Kuliah yang dijanjikan dengan penuh keyakinan itu tak kunjung cair.

Tenggat pembayaran waktu kian dekat, akhirnya pihak kampus pun menagih Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp5 juta. Dia berpikir keras, “haruskah kembali membebani orang tua”?, sementara biaya makan selama kuliah juga tidak sedikit.

Akhirnya soal KIP bodong pun diutarakannya kepada ibu dan ayah. Dengan pertimbangan ketidakmampuan finansial keluarga dan merasa tertipu, Usi menolak membayar UKT tersebut.

Sadar keuangan keluarga tak kan sanggup menopang biaya pendidikan tingginya, tanpa bantuan yang dijanjikan yang ternyata hanyalah penipuan, putri pertama dari empat bersaudara ini terpaksa mengambil keputusan yang berat. Meski hatinya hancur lebur dan tak berdaya, Usi Putri Nazila akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah.

Realita itu bagikan tamparan keras seolah ingin menegaskan pahitnya “si Miskin tak pantas duduk di bangku kuliah”. Tangisnya pecah, mimpi muluknya menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat, pupus di tengah jalan.

Usi adalah anak yang pintar, peringkatnya selalu masuk 3 besar di kelas. Sederet prestasi telah dia ukir seperti juara 3 lomba Syarhil Quran tingkat kabupaten, Olimpiade Siswa Berprestasi Indonesia tingkat nasional.

Voice Over iklan Bea Cukai, Business Plan yang diadakan di Universitas Islam Padangsidimpuan, Olimpiade Sains Indonesia atau OSN, serta Olimpiade Siswa Berprestasi Indonesia juga Olimpiade online lainnya, semua itu seolah tak ada artinya tanpa dukungan finansial cukup.

Pekerjaan ayahnya yang hanya buruh serabutan dan ibu mengandalkan hasil berdagang kopi di warung kecil mereka, rasanya mustahil untuk membiayai pendidikan di bangku perkuliahan, egonya dihabisi oleh keadaan ekonomi mereka.

“Pendapatan ayah sekira 1 juta rupiah per bulan dan ibu berlaba 1,5 juta, terkadang kurang dari nominal itu”, terang Usi, Selasa (4/7/2026).

Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, ia tak ingin lagi membebani orang tua, bisa memenuhi kebutuhan pangan dan sandang serta biaya sekolah ketiga adiknya, dirasa cukup menguras tenaga dan pikiran ayahnya Usman Azhari Pulungan dan Siti Raudathul Jannah.

Namun, menyerah pada mimpi bukanlah karakter yang ia miliki. Meski sempat terpuruk, harapan kembali menyadarkan dirinya untuk bangkit sekali lagi.

Dengan tekad yang tersisa, pada tahun 2026, Usi kembali mencoba peruntungannya mengikuti seleksi Beasiswa Martabe Prestasi tahun 2026. Tanpa pikir panjang, diusahakannya menggapai cita-citanya.

Usaha tidak mengkhianati hasil, perjuangan panjang Usi berbuah manis. Perempuan berhijab ini kembali mencacatkan namanya sebagai penerima beasiswa persis saat ia memperoleh bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Plus Sipirok lewat Beasiswa Martabe Prestasi, empat tahun lalu.

Dirajutnya kembali mimpi besar itu, perempuan berusia 19 tahun ini juga berhasil diterima di Universitas Sriwijaya Palembang, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jurusan Gizi.

Dia mengaku senang, begitupun kedua orang tuanya kerena kini tidak lagi perlu khawatir memikirkan biaya kuliah dan biaya kesehariannya selama menempuh pendidikan tinggi di Palembang.

Lewat beasiswa dari Tambang Emas Martabe, selama kuliah dirinya dibekali uang saku Rp1,5 juta per bulan, pembayaran UKT, hingga ongkos keberangkatan hingga pulang studi menggunakan pesawat, ditanggung PTAR.

“Terima kasih PT Agincourt Resources untuk program beasiswanya mulai dari saya SMA hingga kembali memperoleh kemudahan untuk berkuliah. Tanpa ini (program Beasiswa Martabe Prestasi) saya tidak mungkin mengenyam bangku perguruan tinggi lagi,” ucapnya dengan nada haru.

Langkahnya mantap meraih cita-cita menjadi seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M) melalui Universitas Sriwijaya, membawa harapan besar tak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi kedua orang tua dan seluruh masyarakat di kampung halamannya.

Kelak, dia akan memanfaatkan pengetahuan yang ia pelajari untuk membantu masyarakat melek gizi. Mengajarkan kaum orang tua cara memilih bahan pangan yang tepat, menyusun menu bergizi dengan harga terjangkau. Menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya asupan gizi bagi kesehatan keluarga dan tumbuh kembang anak, menekan angka stunting.

Marsipature hutanabe, pesan yang ditanamkan Kuasa Direksi PT Agincourt Resources Rahmat Lubis saat menyerahkan Beasiswa Martabe Prestasi 2026 ke 432 siswa, beberapa waktu lalu, menjadi pengingat agar tidak melupakan asal-usul meski kelak meraih kesuksesan.

“Seluruh biaya pendidikan diperoleh dari Tambang Emas Martabe tidak gratis, akan dituntut imbalannya. Pulanglah dengan gelar yang dicapai dan bangun kampung halaman kalian, Tapanuli Selatan”, ucap Usi Putri Nazila menirukan. (Rosianna Hutabarat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']