Deteksi

Jurus Transformasi Birokrasi Bupati Vandiko Gultom

Vandiko Timotius Gultom l repro

Oleh Pirma Simbolon

Bagian (1) Transformasi dan Tantangannya

CAMBRIDGE Dictionary mendefinisikan transformasi adalah a complete change in the appearance or character of something or someone, especially so that thing or person is improved.  Transformasi adalah perubahan total dalam penampilan atau karakter sesuatu atau seseorang, sehingga secara khusus sesuatu hal atau orang itu diperbaiki.

Dari pengertian transformasi ini, kata kuncinya adalah adanya PERUBAHAN dan PERBAIKAN. Artinya, tujuan dilakukannya sebuah transformasi atau perubahan untuk mencapai perbaikan baik perbaikan proses (process) maupun perbaikan hasil (results). Namun dalam melakukan perubahan bukanlah hal yang mudah. Deepak Chopra, seorang dokter keturunan India, sekaligus guru spiritual para selebrities di Amerika Serikat, mengatakan “semua perubahan besar selalu diawali dengan kekacauan”.

Hal itu pulah yang dialami Vandiko Timotius Gultom – Martua Sitanggang di awal pemerintahannya saat mereka mencoba melakukan transformasi birokrasi di Pemkab Samosir melalui berbagai kebijakan. Setiap kebijakan yang dieksekusinya selalu ramai diperbincangkan (kontroversi) bahkan tidak sedikit yang menghujat baik melalui media sosial, warung kopi, dan atau media cetak atau media online.

Ternyata quote Deepak Chopra benar terjadi di Samosir meskipun hanya kekacauan kecil oleh netizen di udara. Padahal kekacauan yang timbul sebagai reaksi atas transformasi yang dimaksudkan Deepak Chopra adalah di dalam organisasi, bukan di luar organisasi. Itulah Samosir.

Meskipun demikian, Vandiko tidak patah semangatnya. Dia dan humasnya memilih DIAM (tidak merepon secara langsung), namun terus bekerja dan bergerak melakukan inovasi kebijakan baru yang diyakininya BENAR. Mungkin dia sadar dan termotivasi atas kata – kata bijak Socrates (filsuf Yunani) yang mengatakan “Rahasia perubahan adalah memusatkan semua energi anda, bukan untuk melawan yang lama, tetapi untuk membangun yang baru”.

Atas keyakinan ini pulalah Vandiko tidak ambil pusing dengan para haters itu. Dia tetap focus melakukan perubahan sesuai tagline kampanyenya. Dia sadar bahwa “Perubahan tidak bisa dihindari dan perubahan itu konstan”, (Benjamin Disraeli, penulis Yahudi Inggris).

Para pendukung Vandiko pun seolah satu bahasa dengan idolanya. Saat para haters tambah bersemangat menghajarnya dengan berbagai rupa atas nama rakyat dan Cinta Samosir, mereka (yang pro) bagaikan tiarap dan bisu seribu bahasa (sedikit sekali yang muncul). Atau mungkin mereka menganut quote Windri Pattilima sang jawara baru One Pride MMA TVOne yang mengatakan “BERGERAK DALAM DIAM”.

Dengan strategi “BERGERAK DALAM DIAM” tersebut Windri Pattilima sukses menekuk sang juara bertahan Theodurus Ginting yang melecehkannya meskipun hanya dengan gestur tubuh.

Sejak 10 Desember 2020 yang lalu, (saat KPUD Samosir merilis hasil sementara Pemilukada Samosir) yang menjukkan Vantas unggul sementara 14%, hingga saat ini saya mencoba mengamati profil Vandiko dan sepak terjangnya khususnya tentang tagline PERUBAHAN yang dicanangkannya.

KEBIJAKAN TRANSFORMASI & KONTROVERSI YANG MENGIKUTINYA

Dari hasil pengamatan saya, sejak Vandiko dinyatakan sebagai The Champion, setidaknya ada 8 kebijakan dan aksi transformasi yang viral dari Vandiko – Martua, selanjutnya saya sebut Vandiko antara lain (i) Pokja Transisi; (ii) Perampingan Organisasi (Downsizing); (iii) Pembentukan Staf Khusus; (iv) Penerapan Pengadaan Barang dan Jasa secara Online dan konsisten; (v) Pengangkatan Plt Kadis Kesehatan; (vi) Penundaan peletakan batu pertama Pembangunan Gedung Perpustakaan; (vii) Peresmian Parhutaan Sorimangaraja di Pusuk Buhit; dan (viii) Pemberantasan Judi secara on the spot.

POKJA TRANSISI

Kebijakan Vandiko yang pertama muncul ke pemukaan dan langsung viral adalah pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Transisi. Pokja ini dibentuk sebelum pemerintahannya berjalan efektif. Tugasnya pun terbatas hanya mendesain Program Perubahan untuk mengeksekusi tagline kampanyenya yaitu PRO PERUBAHAN.

Pembentukan POKJA TRANSISI pun langsung menjadi perbincangan publik. Ya maklumlah kalau ramai karena hal itu jarang terjadi. Tapi itulah Vandiko, Bupati termuda Generasi Y (Milenial) itu, mulai menunjukkan kualitas dan keberanian yang dimilikinya dengan membuat sebuah LOMPATAN PEMIKIRAN melampauhi batas kebiasaan procedural dan batas jangkauan generasi baby boomers dan generasi X. Oleh karena viral, saya pun mencoba sumbang pemikiran dengan judul “Memaknai Prokontra Pokja Transisi Bupati/Wakil Bupati Terpilih Kabupaten Samosir (https://wahananews.co/daerah).

Selanjutnya, Kebijakan Transformasi yang kontroversi (ii) sd (viii) akan diulas pada kesempatan berikutnya.

Pirma Simbolon,  Akademisi STIE Jayakarta, Jakarta.

Efendy Naibaho

Read Previous

Polres Gayo Lues Diminta Usut Tuntas Terkait Dugaan Pemotongan Bantuan CSR 1 Milyar Ke Kelompok Tani

Read Next

Pisah Sambut Kapolres Asahan, Selamat Jalan AKBP Nugroho Dwi Karyanto Selamat Datang AKBP Putu Yudha Prawira

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *