DETEKSI.co-Medan, MS Kaban kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan di tengah persoalan banjir dan kerusakan daerah aliran sungai di Sumatera Utara. Mantan Menteri Kehutanan RI itu ikut dalam kegiatan penanaman pohon bersama Alumni SMA 7 Medan di sekitar Sungai Denai, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Provinsi Sumatera Utara. Namun, kegiatan penghijauan itu justru menemukan persoalan lain yang dinilai tidak kalah serius, yakni adanya aliran air bersih yang disebut berasal dari jaringan PDAM dan mengalir ke Sungai Denai.
Koordinator Wilayah PMPHI Sumut, Drs Gandi Parapat, mengatakan pihaknya memberikan dukungan terhadap kepedulian MS Kaban terhadap lingkungan, meskipun saat ini tidak lagi menjabat sebagai Menteri Kehutanan maupun anggota DPR RI.
Menurut Gandi, MS Kaban dinilai tidak memilih diam ketika melihat persoalan lingkungan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
“PMPHI salut dengan ketokohan MS Kaban. Dia tidak mau berpangku tangan melihat dan mendengar jeritan masyarakat,” kata Gandi kepada deteksi.co, Sabtu (1/8/2026).
Kali ini, Penanaman pohon dilakukan Alumni SMA 7 Medan di sekitar Sungai Denai, tepatnya di bawah jembatan.
Sejumlah pohon seperti mangga dan jambu ditanam dalam kegiatan tersebut. Menurut Gandi, pohon-pohon itu nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik melalui buah maupun fungsi ekologisnya.
Pohon yang tumbuh juga diharapkan membantu menjaga lingkungan sekitar sungai serta memberikan oksigen.

Bagi PMPHI, kegiatan tersebut tidak sekadar seremoni menanam pohon. Kepedulian terhadap lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan masyarakat serta pemerintah daerah.
Di tengah kegiatan penghijauan tersebut, perhatian Gandi tertuju pada aliran air yang berada di seberang lokasi penanaman.
Ia menyebut air tersebut diduga berasal dari kebocoran jaringan air bersih milik PDAM dan mengalir deras menuju Sungai Denai.
Gandi mengatakan, berdasarkan informasi masyarakat sekitar, kebocoran itu disebut sudah berlangsung dalam waktu yang lama dan belum mendapatkan penanganan.
“Air bersih milik PDAM bocor dan mengalir deras begitu saja. Masyarakat sekitar mengatakan kebocoran itu sudah sekian tahun lamanya,” ujar Gandi.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi ironi. Di satu sisi, masyarakat masih membutuhkan akses air bersih, sementara di sisi lain terdapat air bersih yang disebut terbuang ke sungai.
Gandi mempertanyakan mengapa persoalan tersebut belum mendapatkan perhatian dan penanganan.
“Warga menjerit mendapatkan air bersih, tetapi di lain sisi PDAM membuang-buang air,” katanya.
Gandi bahkan menyinggung adanya dugaan pembiaran. Namun, dugaan tersebut masih merupakan pernyataan PMPHI dan belum disertai penjelasan dari pihak pengelola jaringan air bersih.
Gandi mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan mencari tahu sumber kebocoran, termasuk memastikan penyebab air bersih dapat mengalir ke Sungai Denai.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu ditelusuri karena menyangkut penggunaan sumber daya air dan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami dalam waktu dekat akan menyelusurinya, apalagi Pak MS Kaban sangat prihatin atas terbuangnya air bersih tersebut,” kata Gandi.
Ia menegaskan, kegiatan penanaman pohon bersama Alumni SMA 7 Medan sejak awal bukan kegiatan untuk menyelidiki kebocoran jaringan PDAM, akan tetapi karena PMPHI melihat dari dekat kebobrokan penanganan air PDAM Tirtanadi.
Persoalan tersebut baru menjadi perhatian setelah mereka melihat langsung aliran air di sekitar lokasi penanaman.
Gandi menegaskan persoalan lingkungan tidak boleh dibebankan hanya kepada individu atau kelompok masyarakat.
Menurutnya, kegiatan penanaman pohon harus diikuti keterlibatan pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan dan memastikan fasilitas publik berfungsi dengan baik.
“Penanaman pohon bukan hanya tugas MS Kaban saja. Dia memang selalu menumbuhkembangkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Akan tetapi, peran pemerintah daerah harus secara nyata ada keterlibatan menjaga lingkungan,” tegas Gandi.
PMPHI bersama masyarakat Sumut, kata Gandi, menyambut baik kesediaan MS Kaban bergabung dengan berbagai lapisan masyarakat dalam kegiatan penghijauan.
Namun, menurut dia, kepedulian lingkungan tidak cukup hanya dengan menanam pohon.
Masalah lain yang muncul di lapangan juga harus diperhatikan. Termasuk ketika air bersih diduga mengalir tanpa kendali ke sungai dalam waktu lama.
Bagi PMPHI, penanaman pohon merupakan simbol kepedulian. Sementara persoalan air bersih yang terbuang menjadi pekerjaan rumah yang harus segera mendapat jawaban.
Karena itu, PMPHI berencana menelusuri persoalan tersebut dan mendorong agar pihak terkait memberikan penjelasan serta penanganan apabila benar terjadi kebocoran jaringan air bersih.
Sampai berita ini disusun, dalam bahan yang tersedia belum terdapat penjelasan dari pihak PDAM, Wali Kota Medan maupun Gubernur Sumatera Utara mengenai dugaan kebocoran dan aliran air bersih ke Sungai Denai tersebut. (gaho)


