DETEKSI.co-Tapsel, Lahir dari keluarga petani gula aren, dari Desa Sisoma, Tapanuli Selatan (Tapsel), tak membuatnya patah semangat untuk mengejar ilmu dan meraih cita-cita. Cahaya Marlia Harahap justru menjadikan keterbatasan ekonomi keluarga sebagai cambuk untuk menggapai mimpi.
Baginya, menggapai cita-cita butuh niat yang kuat, rencana yang jelas, serta kerja keras. Tanpa aksi, impian hanya menjadi angan-angan.
Langkah awal terbuka, anak pasutri Indra Harahap dan Masriani Pohan ini meraih beasiswa Martabe Prestasi yang digelontorkan PT Agincourt Resources.
Kepada harianSIB.com, Minggu (2/8/2026), Cahaya mengisahkan awal dirinya diterima sebagai salah satu penerima Beasiswa Martabe Prestasi.
Berawal dari kelas 9 di MTSN 3 Tapanuli Selatan. Guru kelasnya memberitahukan adanya beasiswa Tambang Emas Martabe untuk keluarga pra sejahtera. Melalui penggabungan prestasi akademik dan nilai-nilai kehidupan religi, Cahaya terpilih.
Kesempatan emas itu tak disia-siakannya, keinginan masuk ke sekolah unggulan MAN Insan Cendikia Tapanuli Selatan pun diwujudkan. Selama tiga tahun menimba ilmu di MAN Insan Cendikia Tapanuli Selatan, ia tak hanya sibuk mengejar nilai akademis.
Cahaya aktif mengasah bakat melalui kegiatan ekstrakurikuler karya tulis ilmiah. Ia juga berani menguji kemampuannya di berbagai ajang kompetisi. Mulai dari lomba yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan, Riset dan Teknologi, Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), hingga berhasil meraih juara harapan satu se-Tapanuli Bagian Selatan (se-Tabagsel) pada Lomba Karya Tulis di Padangsidimpuan.
Prestasi yang ia ukir menjadi bukti keseriusannya. Kini, kembali dipercaya menerima Beasiswa Prestasi Martabe untuk jenjang yang lebih tinggi, Cahaya melangkah mantap menuju Universitas Andalas, Sumatra Barat, dan resmi tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Psikologi.
Pendapatan ayah sebagai petani gula aren sebesar Rp1,3 juta dan penghasilan ibu sebagai guru Sekolah Dasar yang pas-pasan, tak lagi menjadi kekhawatiran utama untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya di perantauan.
Dia mengatakan, lewat beasiswa dari Tambang Emas Martabe, dirinya mendapat uang saku Rp1,5 juta per bulan, pembayaran UKT, hingga ongkos keberangkatan pesawat ditanggung PTAR.
“Tanpa beasiswa PTAR, saya tidak akan kuliah di Kampus Andalas ini. Mungkin hanya berkuliah di Tapsel, karena adik saya juga akan menempuh perguruan tinggi,” ungkap Cahaya.
Langkahnya pun semakin mantap meraih cita-citanya menjadi seorang Psikolog melalui kampus impian, membawa harapan besar tak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi kedua orang tua dan seluruh masyarakat di kampung halamannya.
Pesan yang dia terima dari direksi PTAR, bahwa mereka (penerima beasiswa) harus pulang untuk membangun tanah kelahiran kembali sewaktu-waktu Tambang Emas Mertabe berhenti beroperasi.
Cahaya mengungkapkan, di masa mendatang, dirinya ingin berkontribusi di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau kesehatan, serta kestabilan mental masyarakat di Tapanuli Selatan.
“Saya ingin menerapkan ilmu psikologi untuk memecah masalah kompleks di masyarakat khususnya di Batang Toru, kesehatan mental itu bukan lagi hal yang tabu, dan pendidikan bukan lagi hal yang sepele, itu bekal,” jelasnya.
Hampir satu dekade, Beasiswa Martabe Prestasi telah menjangkau 3.037 pelajar dan mahasiswa dengan total investasi pendidikan sebesar Rp24,11 miliar.
“Konsistensi pemberian beasiswa selama sembilan tahun mencerminkan bahwa pendidikan merupakan prioritas jangka panjang kami dalam membantu ribuan anak asal Tapanuli Selatan untuk selanjutnya berkontribusi ke daerah dan negara,” kata Kuasa Direksi PT Agincourt Resources Rahmat Lubis beberapa waktu lalu.
Pesannya, para siswa tidak menjadikan kondisi ekonomi sebagai alasan memutus cita-cita.
“Banyak jalan untuk meraihnya salah satunya melalui beasiswa,” ujar Rahmat Lubis. (Rosianna Hutabarat)


