Gili Meno Terancam Sampah, DPR Dorong Solusi Pengolahan

DETEKSI.co-Lombok, Gili Meno, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi tantangan pengelolaan sampah seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, terutama pada musim liburan.

Anggota Komisi VII DPR RI Rahmawati menilai lonjakan wisatawan berpotensi meningkatkan volume sampah secara signifikan. Kondisi itu dapat membebani sistem pengangkutan sampah yang selama ini mengandalkan penyeberangan ke daratan.

Rahmawati menyampaikan persoalan tersebut saat mengikuti kunjungan kerja reses Komisi VII DPR RI ke Gili Meno, Lombok, Senin sore (10/8/2026).

Menurut Rahmawati, sampah dari Gili Meno selama ini dibawa menyeberang ke daratan untuk ditangani.

Pola tersebut dinilai kurang efisien apabila jumlah wisatawan terus meningkat. Semakin banyak wisatawan, semakin besar pula sampah yang harus dibawa keluar dari pulau.

“Puluhan sampah itu dibawa ke darat, dibawa ke seberang. Otomatis kalau memang lihat volume penduduknya sedikit mungkin tidak ada masalah. Tapi ketika wisatawan datang, tentu di saat-saat musim libur, otomatis sampahnya akan berlipat ganda,” ujar Rahmawati.

DPR Dorong Pengolahan Sampah di Gili Meno

Rahmawati menilai pengangkutan sampah menuju daratan juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Karena itu, ia mendorong adanya fasilitas pengolahan sampah yang dibangun sedekat mungkin dengan sumber sampah.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah menyediakan tempat pengolahan sampah di kawasan Gili. Sampah yang terkumpul dapat diolah, termasuk menjadi kompos.

“Kalau dilihat dari segi istilahnya, ongkos untuk mengangkat ke seberang itu tentu memerlukan biaya. Jadi mungkin seperti yang dikatakan tadi itu, adanya TPA, tempat pengolahan sampah, sehingga sampah-sampah itu dikeluarkan di sini, dijadikan kompos dan sebagainya,” jelasnya.

Sampah Plastik Masih Terlihat di Pantai

Selain masalah kapasitas pengangkutan, Rahmawati juga menyoroti sampah plastik yang masih ditemukan di sejumlah titik pantai.

Sampah tersebut terlihat di sejumlah lokasi yang dilewati dari pelabuhan menuju tempat kegiatan.

Menurutnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah dari pulau. Pengurangan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya.

“Waktu di pelabuhan, melewati jalan-jalan yang ada di pantai, masih banyaknya sampah-sampah plastik,” ungkapnya.

Rahmawati kemudian mendorong pemerintah dan pengelola kawasan wisata berdiskusi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Salah satu usulan yang disampaikannya adalah menyediakan akses air minum di kawasan Gili. Dengan cara tersebut, wisatawan tidak perlu membawa banyak botol plastik dari luar.

“Alangkah lebih baiknya kalau dengan pihak pengelola agar berdiskusi bagaimana agar sampah plastik itu diminimalisir,” katanya.

Barang Wisatawan Jadi Persoalan di Speedboat

Rahmawati juga menyoroti persoalan lain yang berkaitan dengan aktivitas wisatawan, yakni barang bawaan saat menggunakan transportasi penyeberangan menuju Gili Meno.

Ia mengaku sempat melihat wisatawan berargumentasi dengan pemilik speedboat karena membawa barang dalam jumlah banyak.

“Tadi sebelum saya datang, saya sempat melihat ada wisatawan yang agak sedikit ada argumentasi dengan pemilik speedboat. Karena apa? Karena barang bawaan mereka itu istilahnya sangat bebannya banyak,” tutur Rahmawati.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Rahmawati mengusulkan penyediaan locker atau tempat penitipan barang di pelabuhan penyeberangan.

Fasilitas itu dinilai dapat membantu wisatawan yang hanya menginap dua atau tiga hari di Gili Meno sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Lombok.

“Saya tadi sudah ngomong sama Pak Bupati, cari jalan keluarnya. Karena paling-paling wisatawan di sini akan nginep dua atau tiga hari,” jelasnya.

Locker Dinilai Bisa Dukung Perjalanan Wisatawan

Rahmawati menilai keberadaan locker juga dapat mendukung pola perjalanan wisatawan yang menjadikan Gili Meno sebagai salah satu tujuan dalam perjalanan mereka di Lombok.

Setelah menikmati kawasan Gili, wisatawan diperkirakan masih melanjutkan perjalanan ke destinasi lain, termasuk Senggigi dan Mandalika.

“Karena saya yakin dari sini, mereka akan mengunjungi tempat wisata yang ada di sekitar Lombok, baik di Senggigi maupun ke Mandalika dan sebagainya,” ujarnya.

Pengelolaan Wisata Harus Berkelanjutan

Rahmawati menegaskan persoalan lingkungan dan fasilitas pariwisata di Gili Meno perlu ditangani secara terpadu.

Pemerintah daerah, pengelola kawasan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai perlu duduk bersama untuk mencari solusi.

Menurutnya, pengembangan pariwisata harus tetap memperhatikan kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan kepentingan masyarakat setempat.

Pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan sumbernya, pengurangan plastik sekali pakai, serta penyediaan fasilitas penitipan barang di pelabuhan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan pariwisata Gili Meno tanpa menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan. (Ril)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']