Penulis: Paul Manjo Sinaga
Humbahas – Adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan, Huta Hasinggaan adalah huta bersejarah bagi Marga Simanjorang.
Di huta inilah marga Simanjorang ‘terlahir’ dan bertumbuh menjadi marga besar yang kini tersebar di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Simanjorang sendiri adalah anak pertama dari Ompu Simanjorang yang lahir di Girsang Sipangan Bolon, yang bersebelahan dengan Kota Parapat, Simalungun.
Ompu Simanjorang Sinaga lahir sekitar 300 tahun lalu di Huta Siduan Datu, Sinaga Uruk, Urat Palipi, sekitar 300 meter dari lokasi Tugu Toga Sinaga saat ini.
Kepergian Ompu Simanjorang Sinaga dari Tano Urat dilatarbelakangi kekecewaan. Ia kecewa setelah mengetahui statusnya bukan sebagai Raja Jolo, merujuk pada ayahnya Datu Upar sebagai ‘Sijolo Tubu’.
Dari kekecewaan itu, Ompu Simanjorang pergi diam-diam atau dalam istilah Batak ‘jolma ma so martona’ dari hutanya di Siduan Datu, menuju huta bapatuanya di Luat Uluan.
Huta bapatuanya itu adalah Girsang Sipangan Bolon, Golat Nairasaon.
Di sana, oleh Ompu Simainang, seorang keturunan bapatuanya, Ompu Simanjorang kemudian di-ain atau diangkat menjadi anak. Karena Simainang adalah turunan Bonor mengikuti geneologis ayahnya, serta-merta Ompu Simanjorang pun ‘menjadi’ Bonor.
Di Huta Simanjorang yang didirikan oleh Ompu Simanjorang, lahir dua orang anak. Dari dua anak tersebut, yaitu Ompu Ulang Aling dan Ompu Hodon-hodon, yang menetap di Huta Hasinggaan adalah Ompu Ulang Aling.
Huta Hasinggaan sendiri didirikan oleh Ompu Ulang Aling Sinaga di atas tanah pauseang atau pemberian dari mertuanya, Raja Itabu Sagala.
Sementara Ompu Hodon-hodon kemudian pergi meninggalkan Huta Hasinggaan menuju Tongging. Ia menetap di Tongging di huta simatuanya, marga Munthe.
Di sana, Ompu Hodon-hodon pun mendirikan huta sendiri di atas pemberian simatuanya. Huta itu bernama Kodon-kodon.
Jalur Diaspora dan Keterbukaan
Berdasarkan fakta hubungan pendiri Huta Hasinggaan dan Kodon-kodon, terjalinlah hubungan sosiologis dan geografis yang kuat di antara kedua huta tersebut.
Atas dasar itulah marga Simanjorang lebih banyak tersebar di wilayah Dairi, Karo, dan Simalungun daripada di Samosir.
Fakta penyebaran inilah yang membuat Hasinggaan sejak dahulu telah terbuka dan terhubung luas dengan dunia luar.
Hasinggaan bukan ‘Desa Terpencil’ yang terisolasi.
Buktinya, tokoh-tokoh marga Simanjorang lahir dan besar sebagai putra daerah di tanah perantauan.
Sarman Simanjorang adalah ‘Putra Dairi’, Brandon Simanjorang sang petarung bebas adalah ‘Putra Karo’, dan Radiapoh Hasiholan Sinaga adalah ‘Putra Simalungun’.
Dengan jejak sejarah dan jaringan diaspora yang begitu luas, masihkah pantas menyebut Hasinggaan sebagai ‘Daerah Terpencil’?


