DETEKSI.co-Istanbul, Ana Syafitri Daulay tidak pernah membayangkan langkah pertamanya belajar menari di sebuah taman baca anak di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, suatu hari akan membawanya tampil di panggung internasional di Turki.
Perempuan yang kini kuliah Pendidikan Seni Tari di salah satu universitas negeri di Medan itu menjadi satu dari enam penari Sanggar Seni Sopo Daganak (Sanipoda) yang menampilkan kekayaan budaya Indonesia dalam dua festival budaya internasional di Turki, Oktober 2026.
Penampilan mereka menyedot perhatian pengunjung dari berbagai negara yang tak berhenti mengabadikan momen lewat kamera.
Perjalanan Ana dimulai lebih dari 10 tahun lalu, saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar
dan mengikuti kegiatan di Taman Baca Anak yang dikembangkan PT Agincourt Resources
(PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe.
Hari ini, ia bersama Sanipoda yang tumbuh dari program pembinaan seni komunitas itu berdiri di hadapan sekitar 5.000 penonton dari
berbagai negara.
“Awalnya saya senang belajar tari bersama teman-teman. Tidak menyangka kegiatan yang
saya ikuti sejak SD bisa membawa saya tampil ke luar negeri,” kata Ana.
Pada 25 Oktober 2026, Sanipoda tampil dalam Pesta Rakyat Budaya (PERAYA) yang
diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Istanbul di Istanbul University.
Para penari yang dibalut kain karya UMKM binaan PTAR itu membawakan The Majesty of Nusantara, Tortor Hata Sopisik, dan Tari Batik Khas Tapanuli Selatan. Penampilan ini sekaligus memperkenalkan seni tari dan karya tekstil dari Tapanuli Selatan kepada penonton
internasional.
Rangkaian kegiatan Sanipoda berlanjut di International Festival of Arts “Kuşadası 26” pada 25-29 Oktober 2026.
Sanipoda tampil dalam gala dinner pada 26 Oktober, mengikuti karnaval di Kuşadası Coast keesokan harinya, serta membawakan tarian pada acara puncak festival.
Soneryucel Celik, perwakilan International Festival of Arts “Kuşadası 26”, menilai kehadiran Sanipoda memperkaya keragaman budaya dalam festival yang diikuti sekitar 200 penari dari berbagai negara.
“Seni menjadi bahasa bersama. Meski latar belakang berbeda, peserta dan penonton bisa
saling mengenal. Kami berharap hubungan ini terus berkembang setelah festival usai,” ujar Celik. (Rosianna Hutabarat)


