DETEKSI.co-Langkat, Berbicara tentang pangkalan susu, nama pangkalan susu berawal dari sejarah yang mana Sumatera bagian timur sangat besar dan sangat ramai perdagangan. Saking besarnya dan banyaknya perdagangan, kawasan di Pulau Kampai itu dijadikan tempat untuk kapal-kapal yang datang dan merapat.
Pada saat itu, kapal-kapal saudagar, baik dari Timur Tengah maupun dari Cina, yang melakukan perdagangan ke Sumatera, bisa melakukan bongkar muat di pelabuhan tersebut. Mereka merapat secara berjejer atau bersusun-susun.
Jadi, makanya daerah tersebut disebut sebagai Pelabuhan Susu, ketika kapal-kapal itu bersusun-susun di sana.
Itulah kenapa daerah tersebut kemudian dikenal dengan nama Pangkalan Susu. Karena sebenarnya, di kawasan itu terdapat sejarah pelabuhan yang sangat penting bagi aktivitas perdagangan di Sumatera.
Pada tahun 1882, ketika Belanda mulai mengeksplorasi gas, maka dibangunlah sentral pengolahan gas yang dibangun oleh Belanda di kawasan itu.
Hal tersebut disampaikan Field Manager PT Pertamina EP Pangkalan Susu Edwin Susanto, saat melakukan Media gathering Pertamina EP Pangkalan Susu di Eko Wisata mangrove Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju bersama desa pasar rawa, kecamatan gebang. Selasa (11/08/2026).
“Itu sedikit sejarah tentang Pangkalan Susu yang kita tahu. Lalu, mengapa mangrove ada di sini? Karena sebenarnya mangrove ini memiliki keterkaitan yang sangat dekat dengan Pangkalan Susu. Kita memiliki sejarah yang sangat dekat dengan kawasan sekitar kita. Mangrove juga merupakan ekosistem utama di kawasan ini, khususnya di Pangkalan Susu” ujar Edwin Susanto.
“Sekarang kita lihat, seharusnya sepanjang pantai bagian timur Sumatera didominasi oleh mangrove. Pada saat ini, hutan-hutan mangrove tidak seperti dahulu. Hutan mangrove mulai banyak mengalami eksploitasi oleh masyarakat. Dahulu, mungkin orang-orang tua kita, termasuk masyarakat tradisional, memanfaatkan pohon mangrove untuk berbagai keperluan, seperti bahan bangunan ataupun bahan bakar. Saat ini, alhamdulillah, masyarakat khususnya di desa Pasar rawa memiliki peran untuk kembali memperbaiki ekosistem tersebut. Makanya kami sangat concern dan memiliki keterikatan yang luar biasa dengan mangrove ini.
Insyaallah, ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama dengan teman-teman yang ada di sini untuk memperbaiki kembali ekosistem tersebut” harapnya.
Ketua KTH penghijauan maju bersama Kasto Wahyudi dalam kesempatan itu mengucapakan terima kasih atas peran aktif Pertamina EP pangkalan susu dalam mengembangkan kelompok melalui bantuan penanaman mangrove, bantuan sarana prasarana penunjang Eko wisata, peningkatan SDM anggota kelompok berupa pelatihan dan lain sebagainya.
“Dengan adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, tentu kami menjadi semakin termotivasi untuk menjaga mangrove. Sebelumnya, kami juga mendapatkan bantuan berupa homestay dari EP Pertamina pangkalan susu yang diperuntukkan sebagai tempat penginapan bagi para tamu, termasuk anak-anak mahasiswa yang melakukan magang maupun penelitian di kawasan ini. Dengan adanya homestay tersebut, kami sudah memiliki tempat untuk menerima dan menampung mereka selama melakukan kegiatan di sini” ujar Kasto Wahyudi.
Ia menambahkan bahwa di tahun ini, berkat dukungan dari berbagai pihak, KTH penghijauan maju bersama juga mendapatkan program pembinaan Wana Wisata Wirausaha dari Kementerian.
” Dengan adanya program Wana Wisata Wirausaha ini, ke depannya kawasan kami akan dikembangkan sebagai pusat edukasi dan pembelajaran bagi siswa, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Memang sejak beberapa waktu lalu kawasan ini sudah dimanfaatkan sebagai tempat pembelajaran dan penelitian bagi pelajar maupun mahasiswa ” tutur Kasto Wahyudi. (AR Lim)


