Gandi Parapat: AHU PDSI Diakui Pemerintah IDI Selamat Tinggal

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram

DETEKSI.co-Jakarta, Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI), Gandi Parapat memastikan, pengesahan PDSI ini akan memberikan warna baru dalam upaya membantu pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan di tengah masyarakat. Termasuk membentuk karakteristik baru dalam dunia kesehatan di Tanah Air.

“Pertama, PMPHI mengucapkan selamat kepada PDSI yang telah disahkan pemerintah. Kita juga mengapresiasi Kemenkumham yang sudah menyetujui pembentukan PDSI ini. Ini bagian dari kebebasan demokrasi yang diberikan pemerintah,” ujar Gandi Parapat kepada wartawan, Rabu (4/5/2022).

Menurut Gandi, pemerintah layak memberikan penghargaan yang tinggi terhadap dr Terawan. Pasalnya, keahlian yang dimiliki mantan Menteri Kesehatan tersebut, tidak dimiliki oleh dokter lainnya, termasuk dokter dari dunia luar. Dr Terawan patut menerima penghargaan itu kareba kesetiannya terhadap bangsa Indonesia.

PMPHI mendukung Perhimpunan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI), yang pada akhirnya diakui oleh pemerintah melalui SK Kemenenterian Hukum dan HAM dengan nomor AHU-003638.AH.01.07.2022.

Gandi Parapat mengatakan, SK Kemenenterian Hukum dan HAM dengan nomor AHU-003638.AH.01.07.2022 tentang Pengesahan Pendirian Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia, memberikan ruang kepada siapapun, termasuk PDSI yang merupakan anak bangsa, untuk tetap membuat terobosan terbaru.

“Pemerintah menghargai jasa anak bangsa, terutama dr Terawan Agus Putranto, yang sudah dikenal pemimpin dunia maupun negarawan bangsa dengan segala inovasinya di bidang kesehatan seperti vaksin nusantara, hingga DSA atau metode cuci otak jadi gold standar pengobatan stroke,” ungkapnya.

Gandi juga menyarankan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendukung organisasi PDSI tersebut. IDI tidak benar jika menolak kehadiran organisasi PDSI. IDI sebaiknya memberikan ruang dan kesempatan kepada setiap dokter mau bergabung ke organisasi mana saja, apakah bergabung ke orgabisasi IDI atau PDSI.

“Kita menilai PDSI ini lahir karena dr Terawan diperlakukan semena – mena oleh IDI, yang semaunya melakukan pemecatan. IDI tidak melihat jasa dr Terawan ketika menyelamatkan banyak orang dengan metode cuci otaknya. Mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), negarawan sekaligus mantan Kepala BIN, Hendropriyono maupun pemimpin dunia lainnya,” katanya.

Menurut Gandi, kepercayaan tokoh bangsa mulai dari SBY, Hendropriyono maupun pemimpin dunia terhadap dr Terawan, adalah bukti bahwa bangsa ini mempunyai putra terbaik dalam berinovasi dalam bidang kesehatan. Apalagi Hendropriyono, yang baru – baru ini menjalani perawatan di rumah sakit, lebih memilih dr Terawan untuk menangani kesehatannya.

“Oleh karena itu, PMPHI mendorong PDSI untik mewadahi inovasi dan teknologi di bidang kesehatan. Seperti vaksin nusantara, hingga DSA atau metode cuci otak jadi gold standar pengobatan stroke. Kita berharap, pemerintah juga mendukung terobosan bidang kesehatan oleh PDSI ini untuk ke depannya,” pungkas Gandi. (Ril-GP)