Sekolah Rakyat Aceh Singkil Rp258 Miliar Disorot, Januari 2027 Dibangun tetapi Lokasi Masih Dipenuhi Rumput

DETEKSI.co-Aceh Singkil, Rencana pembangunan gedung Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Aceh Singkil dengan pagu anggaran mencapai Rp258 miliar menjadi perhatian. Meski Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, memastikan pembangunan dimulai Januari 2027, kondisi lokasi yang dipersiapkan di kawasan Bukit Harapan, Kecamatan Gunung Meriah, masih dipenuhi rumput lebat.

Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi, Rabu (4/11/2026), sebagian besar area calon pembangunan gedung Sekolah Rakyat masih ditumbuhi rumput tinggi. Di antara rerumputan tersebut terlihat pagar beton yang mengelilingi area lahan.

Hingga pantauan dilakukan, belum terlihat kondisi lahan yang telah dibersihkan untuk memulai pekerjaan konstruksi gedung sekolah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena proyek pendidikan yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) itu direncanakan mulai dikerjakan dalam waktu sekitar dua bulan mendatang.

Sementara itu dari sumber lain menyebutkan, Safriadi Oyon menyampaikan bahwa seluruh kelengkapan dokumen lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat telah diselesaikan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil.

Ia mengaku telah mengusulkan agar pembangunan gedung sekolah tersebut dimulai pada Januari 2027 sehingga proses pengerjaannya dapat segera berjalan.

“Saya minta Sekolah Rakyat Januari sudah dibangun,” kata Safriadi.

Pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh Singkil memiliki pagu anggaran mencapai Rp258 miliar. Seluruh pembiayaan proyek tersebut bersumber dari APBN.

Safriadi meminta seluruh pihak mendukung pembangunan fasilitas pendidikan tersebut. Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan salah satu upaya pemerintah memberikan akses pendidikan yang layak dan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam meningkatkan kesempatan dan pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat.

Meski demikian, kondisi lahan yang masih ditumbuhi rumput lebat menimbulkan perhatian terhadap kesiapan fisik lokasi sebelum pekerjaan konstruksi dimulai.

Pemkab Aceh Singkil perlu memberikan penjelasan mengenai tahapan pembersihan lahan, persiapan teknis, dan jadwal pelaksanaan pekerjaan fisik agar target pembangunan pada Januari 2027 dapat terlaksana sesuai rencana.

Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa proyek mengalami keterlambatan atau kendala pembangunan.

Di sisi lain, Safriadi mengungkapkan bahwa keberadaan Sekolah Rakyat rintisan di Aceh Singkil telah memberikan manfaat bagi para siswa.

Saat ini, sekolah rintisan tersebut menempati gedung bekas Islamic Center di Desa Lae Petal, Kecamatan Suro Makmur.

Menurut Safriadi, terdapat perubahan kondisi fisik sejumlah siswa setelah mengikuti pendidikan dan memperoleh fasilitas serta pemenuhan kebutuhan gizi yang disediakan pemerintah.

Ia menceritakan, ketika pertama kali masuk Sekolah Rakyat, beberapa siswa terlihat memiliki kondisi tubuh kurus. Namun, setelah mendapatkan makanan bergizi, pakaian, sepatu, dan berbagai perlengkapan sekolah, kondisi mereka semakin baik.

“Siswa saat baru masuk kurus-kurus. Sekarang anak-anak sekolah tadi ganteng-ganteng, wangi semua. Apa enggak ganteng, baju dikasih semua, sepatu dan makan bergizi ditanggung semua,” ujarnya.

Safriadi juga membandingkan fasilitas yang diterima siswa Sekolah Rakyat dengan pengalamannya semasa sekolah. Ia mengaku baru menggunakan parfum ketika duduk di bangku SMA, sedangkan para siswa Sekolah Rakyat sudah mendapatkan berbagai perlengkapan sebagai bagian dari fasilitas pendidikan.

Usulkan Sekolah Nasional Terintegrasi di Lahan 30 Hektare

Selain pembangunan Sekolah Rakyat, Safriadi juga mengupayakan pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Kabupaten Aceh Singkil.

Sekolah tersebut direncanakan berdiri di kawasan Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara, tepatnya di samping Markas Kodim 0109/Aceh Singkil.

Untuk mendukung rencana pembangunan SNT, Pemkab Aceh Singkil telah menyediakan sekitar 20 hektare lahan milik pemerintah daerah dari total kebutuhan 30 hektare.

Dengan demikian, masih terdapat kekurangan lahan sekitar 10 hektare yang akan dipenuhi melalui mekanisme ganti rugi.

“Kekurangannya akan kami ganti rugi. Saya harap dukungannya demi masa depan anak-anak,” ujar Safriadi.

Dua rencana pembangunan fasilitas pendidikan tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Aceh Singkil.

Masyarakat kini menantikan realisasi pembangunan Sekolah Rakyat yang dijadwalkan mulai Januari 2027. Dengan anggaran mencapai Rp258 miliar, kesiapan lahan dan pelaksanaan pekerjaan fisik menjadi hal penting agar rencana tersebut dapat diwujudkan sesuai jadwal dan memberikan manfaat bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. (Tim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']