DETEKSI.co-Medan, Kolaborasi Bobby Nasution dalam penanganan bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara mendapat apresiasi dari Diagram Indonesia. Keberhasilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mencapai status zero pengungsi dinilai menjadi bukti nyata bahwa penanganan bencana tidak hanya bergantung pada respons cepat, tetapi juga pada kepemimpinan yang mampu menyatukan banyak pihak.
Kolaborasi Bobby Nasution dinilai sejalan dengan semangat besar Pemprov Sumut yang selama ini digaungkan melalui jargon “Kolaborasi Sumut Berkah”. Pendekatan itu dianggap tidak berhenti sebagai slogan, melainkan mulai terlihat hasil konkretnya di lapangan.
Sekretaris Eksekutif Diagram Indonesia, Dr. M. Taufiq Hidayah Tanjung, mengatakan bahwa situasi bencana selalu menjadi ujian serius bagi seorang pemimpin. Menurut dia, dalam kondisi krisis, seorang kepala daerah tidak cukup hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menggerakkan kekuatan bersama secara terarah.
Menurut Taufiq, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dinilai mampu menerjemahkan semangat kolaborasi ke dalam kerja nyata yang melibatkan pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat dalam satu gerak penanganan yang solid.
“Bencana adalah ujian nyata bagi kepemimpinan. Di titik ini, kita melihat bagaimana Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mampu menerjemahkan semangat ‘Kolaborasi Sumut Berkah’ ke dalam kerja konkret yang menghubungkan pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat dalam satu gerak yang solid,” ujar Taufiq.
Zero pengungsi Sumut juga disebut sebagai indikator kuat bahwa pola kerja kolaboratif yang dibangun tidak bersifat simbolik. Diagram Indonesia menilai hasil tersebut menunjukkan adanya dampak langsung terhadap masyarakat terdampak bencana.
Berdasarkan data Pusdalops PB Sumut, tercatat sebanyak 4.843 jiwa dari 1.412 kepala keluarga sempat mengungsi di Kabupaten Tapanuli Tengah per 15 Maret 2026. Angka itu merupakan bagian dari total 13.378 jiwa yang terdampak bencana hidrometeorologi di lima kabupaten/kota sejak akhir November 2025.
Saat ini, seluruh warga yang sebelumnya berada di pengungsian disebut telah berpindah ke tempat tinggal yang lebih layak. Mereka ditempatkan di hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), maupun rumah kontrakan yang difasilitasi pemerintah.
Taufiq menegaskan, capaian tersebut tidak bisa dilihat semata sebagai keberhasilan teknis penanganan bencana. Menurutnya, status zero pengungsi juga mencerminkan adanya arah kebijakan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat terdampak.
“Sumut sudah zero pengungsi. Ini bukan hanya capaian teknis, tetapi capaian politik kebijakan yang menunjukkan keberpihakan negara kepada rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Diagram Indonesia mengingatkan agar jargon “Kolaborasi Sumut Berkah” tidak berhenti sebagai narasi komunikasi politik semata. Menurut mereka, semangat itu harus terus dijaga dan diperkuat dalam setiap kebijakan publik, terutama pada isu-isu krusial seperti penanggulangan bencana.
Taufiq menilai, ketika kolaborasi dijalankan secara konsisten, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Dalam konteks kebencanaan, keberhasilan itu tidak hanya terlihat dari berkurangnya jumlah pengungsi, tetapi juga dari hadirnya perlindungan negara yang nyata dan terukur.
“Ketika kolaborasi dijalankan secara konsisten, maka keberkahan itu bukan sekadar slogan, tetapi hadir dalam bentuk perlindungan nyata terhadap masyarakat. Inilah yang hari ini mulai terlihat di Sumatera Utara,” lanjutnya.
Diagram Indonesia juga mendorong agar model penanganan berbasis kolaborasi ini diperkuat dalam agenda mitigasi bencana ke depan. Tujuannya agar Sumatera Utara tidak hanya cepat merespons saat krisis terjadi, tetapi juga semakin tangguh menghadapi potensi risiko bencana di masa mendatang.
Dengan capaian tersebut, penanganan bencana di Sumatera Utara dinilai mulai menunjukkan pola yang lebih terstruktur, terhubung, dan berorientasi pada pemulihan masyarakat secara menyeluruh.(Red)






