Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wasbang, Salomo TR Pardede: Medan Miniatur Indonesia

DETEKSI.co-Medan, Anggota DPRD Kota Medan Salomo TR Pardede mengatakan kota Medan adalah miniatur Indonesia. Di kota ini tidak sulit untuk menemukan warga negara Indonesia dari berbagai propinsi. Hampir semua suku bangsa dari seluruh provinsi di Indonesia ada disini. Bukan itu saja, suku dari keturunan baik Cina, India maupun dari keturunan lain dengan mudah bisa ditemukan di Kota Medan.

“Mau cari suku apa saja gampang di Medan, karena kita semua bisa hidup rukun berdampingan,” kata Salomo saat melakukan acara Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) di Pesantren Allahu Ahad, di Komplek IDI, Kuala Bekala, Medan, Sabtu (26/9/2026).

Dikatakannya, kerukunan itu tercipta adalah manifestasi dari nilai-nilai Pancasila dan budaya leluhur yang diterapkan oleh warga kota Medan.

Untuk itu dia berharap warga yang hadir bisa terus menerapkan nilai-nilai tersebut agar kota Medan tetap hidup dalam kerukunan tanpa membeda-bedakan suku maupun agama.

Sementara itu nara sumber Eka Prahadian Abdurahman dalam paparannya menyebutkan, Medan dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat kemajemukan tertinggi di Indonesia. Ini adalah identitas kita. Melting pot nusantara yakni pertemuan harmonis etnis Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa, Minang, India dan lainnya. Toleransi beragama: tempat beribadah berdiri berdampingan, menandakan kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan iman.

Kekuatan budaya: akulturasi kuliner, bahasa dan seni menjadikan kota Medan kaya akan nilai historis dan sosial.

Keberagaman memerlukan jembatan komunikasi yang kuat agar tidak menjadi bibit perpecahan sosial.

Rasa kebangsaan, perasaan cinta tanah air yang lahir dari sanubari menganggap keberagaman di Medan karunia Tuhan yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur.

Mengapa wawasan kebangsaan penting? Di tengah dinamika dan laju urbanisasi kota besar seperti Medan, sentimen kedaerahan atau eksklusifitas kelompok bisa saja muncul, wawasan kebangsaan hadir sebagai jangkar moral. Hal ini mencegah terjadinya konflik sosial, membangun empati antar tetangga dan memastikan setiap kelompok mayoritas maupun minoritas merasa memiliki ‘rumah’ yang sama, aman dan nyaman di kota ini.

Pancasila sebagai dasar hidup bangsa Indonesia dapat kita implememtasikan dalam hidup sehari-hari, kata Eka. Dia mengatakan implementasi sila pertama adalah toleransi beragama yakni menghormati hari besar agama lain dan menjaga kerukuman antar umat beragama. Implementasi sila kedua, silidaritas kemanusiaan. Saling membantu warga yang ditimpa musibah tanpa memandang suku atau agama mereka.

Implementasi sila ketiga, gotong royong. Merawat fasilitas umum bersama, melaksanakan Siskamling dan kerja bakti kebersihan lingkungan. Sila keempat, musyawarah mufakat. Menyeleaaikan perbedaan pendapat antar kelompok melalui dialog terbuka sedta berpartisipasi aktif dalam forum rembuk warga atau musrembang tingkat kelurahan.

Dan implementasi sila kelima keadilan sosial. Mendukung akses yang setara dan adil terhadap pelayanan publik seperti pendidikan dan program kesehatan terpadu (Posyandu) bagi seluruh elemen masyarakat Medan.

Masyarakat yang hadir tampak sangat antusias mengikuti acara tersebut.

Pimpinan Ponpes Allahu Ahad Firman Waruwu dalam sambutannya mengatakan, sangat senang dengan diadakannya acara tersebut. Firman menyebutkan pemahaman tentang Pancasila dan wawasan kebangsaan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dia juga meminta kepada Salomo, jika ada acara lain menyangkut kemasyarakatan, Ponpesnya siap menerima.(moe)

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']