Oleh: Suardi, SH (Waketum DPP AJH)
Tidak semua ulang tahun membutuhkan pesta mewah, restoran mahal, dekorasi gemerlap, atau hiburan yang meriah.
Ada kalanya, bertambah usia justru terasa lebih bermakna ketika dirayakan dengan cara sederhana, bersama orang-orang yang paling dekat di hati.
Itulah yang dilakukan Bagus Try Wahono saat genap berusia 38 tahun pada 8 Agustus 2026.
Bagus tidak menggelar pesta besar. Ia memilih mengajak kedua orang tua, calon istri, seorang keponakan dan kerabat untuk makan bersama di Ayam Penyet Cindelaras, Jalan Teladan, Medan.
Menu ayam penyet menjadi hidangan sederhana yang menemani perayaan tersebut.
Tidak ada dekorasi mewah. Tidak ada hiburan besar. Tidak ada pula pesta yang mengundang banyak orang.
Namun, justru di tengah kesederhanaan itu, terasa sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang: kebersamaan.
Bagi Bagus, ulang tahun bukan semata-mata tentang bertambahnya angka usia. Lebih dari itu, hari kelahiran menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan yang sudah dilalui, kemudian mensyukuri kehidupan yang masih diberikan Allah SWT.
Yang Hadir Tidak Lengkap, tetapi Tetap Bermakna
Perayaan ulang tahun Bagus kali ini memang belum bisa dihadiri seluruh anggota keluarga.
Kakak dan abang iparnya sedang berada di Aceh sehingga tidak dapat ikut berkumpul.
Dua keponakan perempuannya juga memiliki kesibukan masing-masing.
Salah seorang sedang membawa rombongan untuk melaksanakan kegiatan KKN di Kabanjahe. Sementara keponakan lainnya bekerja di sebuah kafe untuk menggantikan kakaknya yang sedang mengikuti kegiatan KKN.
Adik perempuan Bagus juga sudah tinggal di Jambi setelah mengikuti suaminya.
Kondisi tersebut membuat pertemuan keluarga dalam satu waktu menjadi tidak mudah.
Namun, keluarga yang hadir tetap memilih menikmati malam itu. Mereka duduk bersama, menyantap makanan dan berbagi waktu dalam suasana yang sederhana.
Sebab, semakin dewasa seseorang, semakin disadari bahwa berkumpul bersama keluarga bukan sesuatu yang selalu mudah dilakukan.
Masing-masing mulai memiliki pekerjaan, pasangan, tempat tinggal dan tanggung jawab sendiri.
Jarak pun perlahan memisahkan kebersamaan yang dahulu terasa begitu mudah.
Kenangan Keluarga di Berastagi
Bagi keluarga Bagus, berkumpul bersama dalam suasana yang lebih lengkap sebenarnya pernah dilakukan.
Beberapa waktu lalu, ketika seluruh anggota keluarga masih dapat berkumpul, mereka pernah menghabiskan waktu bersama di Hotel Sebayak, Berastagi.
Saat itu, keluarga mendapatkan fasilitas untuk menginap di hotel tersebut.
Pemilik Hotel Sebayak, almarhum Tamin Sukardi, diketahui memiliki hubungan pertemanan dengan orang tua Bagus.
Momen di Berastagi itu kemudian menjadi salah satu kenangan keluarga yang masih melekat.
Tetapi waktu terus berjalan.
Anak-anak tumbuh dewasa. Ada yang menikah, bekerja, mengikuti kegiatan di luar daerah, hingga membangun kehidupan masing-masing.
Tidak seperti dahulu ketika semua orang dapat berkumpul dengan mudah, kini kesempatan duduk bersama semakin berharga.
Karena itu, pertemuan sederhana di meja makan pun dapat menjadi sebuah kebahagiaan.
Ayam Penyet dan Makna Sebuah Syukur
Di usia 38 tahun, Bagus tampaknya tidak sedang mengejar kemeriahan.
Ia justru memilih sesuatu yang lebih sederhana: makan bersama keluarga.
Sepiring ayam penyet mungkin tidak memiliki kemewahan seperti jamuan di hotel berbintang.
Tetapi ketika disantap bersama orang tua, calon istri, keponakan dan kerabat, makanan sederhana itu memiliki cerita tersendiri.
Ada percakapan. Ada kebersamaan. Ada kesempatan melihat wajah orang-orang yang disayangi dalam satu meja.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang sering kali baru terasa nilainya ketika kesempatan untuk melakukannya mulai terbatas.
Ulang tahun akhirnya bukan hanya tentang kue, lilin, hadiah atau pesta.
Ulang tahun juga dapat menjadi pengingat bahwa seseorang telah melewati perjalanan panjang dengan berbagai cerita.
Ada keberhasilan yang patut disyukuri.
Ada kegagalan yang menjadi pelajaran.
Ada kebahagiaan yang ingin dikenang.
Ada pula kesedihan yang perlahan mengajarkan seseorang menjadi lebih kuat.
38 Tahun, Bersyukur karena Masih Bisa Berkumpul
Memasuki usia 38 tahun, Bagus memilih mensyukuri satu hal yang sederhana tetapi sangat berarti: masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama kedua orang tua dan keluarga.
Sebab, tidak semua kebahagiaan harus hadir dalam bentuk sesuatu yang mahal.
Kadang, kebahagiaan cukup berupa satu meja makan, makanan sederhana dan orang-orang yang dicintai.
Apalagi ketika waktu membuat setiap anggota keluarga memiliki kehidupan masing-masing.
Maka, kesempatan untuk berkumpul, meskipun hanya dalam lingkaran kecil, layak dirayakan.
Bukan karena pesta itu besar.
Melainkan karena orang-orang yang hadir memiliki tempat penting dalam perjalanan hidup.
Di hari ulang tahunnya, harapan dan doa pun menyertai langkah Bagus memasuki usia baru.
Semoga Allah SWT memberikan umur panjang yang penuh keberkahan, kesehatan, rezeki yang halal dan luas, serta kemudahan dalam menjalani setiap tahapan kehidupan.
Semoga pula hubungan dengan kedua orang tua semakin baik dan kebersamaan keluarga tetap terjaga, meskipun jarak dan kesibukan membuat pertemuan tidak selalu mudah.
Sebab, pada akhirnya, usia bukan hanya tentang berapa angka yang bertambah setiap tahun.
Usia adalah tentang berapa banyak hal yang sudah dipelajari, berapa banyak orang yang masih dapat dipeluk dan disayangi, serta seberapa besar rasa syukur yang masih mampu diucapkan.
Malam itu, Bagus mungkin hanya merayakan ulang tahun dengan ayam penyet.
Namun, di balik meja makan sederhana tersebut tersimpan pesan yang jauh lebih dalam: kemewahan bukan ukuran kebahagiaan, dan kebersamaan keluarga adalah nikmat yang pantas disyukuri.


