Samosir – Ritual Batak di Batu Hobon, Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, kembali digelar pada 3–4 Agustus 2026. Ritual tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat Batak yang diwariskan secara turun-temurun dan dilaksanakan sebagai bentuk doa serta penghormatan kepada Sang Pencipta, Mulajadi Nabolon.
Pegiat budaya Abidan atau A Mawar Naibaho mengatakan, rangkaian ritual telah dimulai melalui Galang Raja pasahat Horbo Laelae pada 23 Juli 2026.
Puncak Horja Bolon dijadwalkan berlangsung pada 3–4 Agustus 2026 di kawasan Batu Hobon.
Menurut A Mawar, rangkaian tersebut berkaitan dengan pasahat Horbo Laelae kepada Sang Pencipta Mulajadi Nabolon.
Sejumlah unsur masyarakat adat dijadwalkan hadir, di antaranya Raja Bius Sipitu Tali, Raja Bius Suhi Ampang Naopat, serta Raja Bius Sitolu Hae Horbo.
Hadir pula Ketua Umum Yayasan Si Raja Batak Nikolas Sinar Naibaho dan Ketua Yayasan Pusuk Buhit Efendy Naibaho. Keduanya didampingi Ipong Galaxy Naibaho dan Sekretaris Yayasan Sitolu Hae Horbo, Arifin Naibaho.
Margondang Dudu di Batu Hobon
A Mawar menjelaskan, salah satu rangkaian kegiatan di Batu Hobon adalah ritual Margondang Dudu yang dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB.
Dalam rangkaian tersebut, unsur adat, musik tradisional, doa dan penghormatan terhadap leluhur menjadi bagian penting dari pelaksanaan ritual.
Suhut Bolon dalam kegiatan ini disebut Pinalrboru ni Silau Raja.
Ritual tersebut tidak berdiri sendiri. Pelaksanaannya berkaitan dengan sejarah lisan dan tradisi adat Batak yang berkembang di kawasan Sianjur Mulamula.
Horbo Laelae, Simbol Persembahan
Istilah Horbo Laelae terdiri dari dua kata. Horbo berarti kerbau, sedangkan Laelae dalam pemaknaan yang digunakan dalam tradisi tersebut merujuk pada sesuatu yang ditambatkan atau dipersembahkan.
Dengan demikian, Horbo Laelae dapat dimaknai sebagai kerbau persembahan.
Dalam sejumlah tradisi Batak, kerbau memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan upacara adat. Kerbau dapat menjadi bagian dari persembahan sekaligus simbol penghormatan dan kebesaran suatu acara adat.
Penelitian mengenai ritual Mangalahat Horbo di Samosir juga mencatat keberadaan Gondang Lae-Lae dan fungsi musik gondang dalam ritual tersebut.
Karena tradisi Batak banyak diwariskan melalui tradisi lisan, tarombo dan praktik adat, tidak terdapat satu tanggal pasti yang dapat dijadikan patokan kapan Horbo Laelae pertama kali dilaksanakan.
Karena itu, pernyataan bahwa tradisi tersebut telah berlangsung “ratusan tahun” sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesinambungan adat dan cerita leluhur, bukan sebagai angka tahun yang telah dibuktikan melalui catatan tertulis.
Dalam praktiknya, jumlah kerbau dalam suatu acara adat dapat berbeda sesuai kesepakatan, kebutuhan acara dan kemampuan pihak penyelenggara.
Mengapa Batu Hobon Dipilih?
Batu Hobon berada di kawasan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, di sekitar kaki Pusuk Buhit.
Kawasan tersebut mempunyai kedudukan penting dalam narasi asal-usul masyarakat Batak. Pusuk Buhit secara turun-temurun dipercaya sebagai tempat yang berkaitan dengan asal-usul Si Raja Batak.
Batu Hobon sendiri dikenal sebagai salah satu situs budaya yang berkaitan dengan kisah leluhur Batak.
Dalam bahasa Batak Toba, hobon dikenal bermakna peti atau tempat penyimpanan. Batu tersebut memiliki bentuk menyerupai tempat penyimpanan dan menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat setempat.
Karena itu, Batu Hobon tidak hanya dipandang sebagai batu biasa. Bagi masyarakat yang memegang tradisi tersebut, tempat ini mempunyai nilai sejarah budaya dan spiritual.
Kisah Saribu Raja dan Batu Hobon
Salah satu cerita yang paling dikenal menghubungkan Batu Hobon dengan Tuan Saribu Raja, putra Guru Tatea Bulan.
Menurut cerita lisan yang berkembang, Saribu Raja meninggalkan kawasan Sianjur Mulamula setelah menyimpan sejumlah benda pusaka di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Batu Hobon.
Cerita tersebut menyebutkan Batu Hobon memiliki beberapa lapisan batu dan menjadi tempat penyimpanan benda-benda yang dianggap memiliki nilai pusaka.
Sejumlah benda yang disebut dalam cerita lisan antara lain ogung dan gondang, tombak bertuah, pedang, ramuan, cincin, batu gosok emas, gembok serta lak-lak atau kitab yang berisi ajaran leluhur.
Namun, kisah mengenai isi Batu Hobon tersebut merupakan kepercayaan dan legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Belum ada dasar yang cukup untuk menyatakan benda-benda tersebut secara faktual masih tersimpan di dalam batu.
Cerita lain juga menghubungkan Batu Hobon dengan Raja Uti. Perbedaan versi tersebut menunjukkan bahwa sejarah lisan Batak memiliki beragam narasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Batu Hobon dan Warisan Guru Tatea Bulan
Kawasan Sianjur Mulamula juga memiliki jejak budaya yang berkaitan dengan Guru Tatea Bulan dan keturunannya.
Salah satu yang dikenal masyarakat adalah Sopo Guru Tatea Bulan. Antara mencatat kawasan rumah Guru Tatea Bulan dan perkampungan Si Raja Batak di Sianjur Mulamula sebagai lokasi yang memperkenalkan kisah Si Raja Batak dan keturunannya.
Dalam konteks budaya, kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari tarombo dan sejarah lisan Batak yang terus dituturkan dari generasi ke generasi.
Karena itu, narasi tentang siapa yang pertama kali menggunakan atau menyimpan pusaka di Batu Hobon perlu dibaca sebagai bagian dari tradisi lisan, bukan disamakan dengan catatan sejarah tertulis.
Bukan Sekadar Ritual
Pelaksanaan Ritual Batak di Batu Hobon pada 3–4 Agustus 2026 bukan hanya menjadi agenda adat.
Kegiatan tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan sejarah leluhur, ruang budaya dan identitas Batak.
Batu Hobon sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu lokasi yang memiliki nilai budaya dan spiritual bagi masyarakat Batak. Sejumlah sumber mengenai kawasan tersebut mencatat adanya kegiatan ritual dan penghormatan terhadap situs tersebut.
Di tengah perkembangan zaman, keberadaan ritual seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak hanya berbentuk bangunan atau benda.
Tradisi, bahasa, musik, tarombo, tata upacara dan nilai yang diwariskan antargenerasi juga merupakan bagian dari kekayaan budaya.
Menjaga Tradisi, Menghormati Sejarah
A Mawar Naibaho mengatakan pelaksanaan ritual tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi Batak agar tetap dikenal generasi berikutnya.
Batu Hobon menjadi salah satu ruang penting dalam pelaksanaan tradisi tersebut karena memiliki hubungan kuat dengan narasi leluhur masyarakat Batak di Sianjur Mulamula.
Ritual 3–4 Agustus 2026 sekaligus mempertemukan unsur masyarakat adat, pegiat budaya dan yayasan yang selama ini berkaitan dengan pelestarian sejarah serta budaya Batak.
Bagi masyarakat yang datang, Batu Hobon bukan sekadar objek wisata.
Ia menjadi ruang untuk mengingat leluhur, merawat tradisi dan memahami bagaimana masyarakat Batak mewariskan sejarahnya melalui cerita, tarombo dan ritual.
Dengan demikian, pelaksanaan Horja Bolon di Batu Hobon menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkenalkan sejarah lisan Batak kepada generasi muda tanpa menghilangkan batas antara mitologi, kepercayaan adat dan fakta sejarah yang dapat diverifikasi.
Penulis: Efendy Naibaho


