Aneh tetapi Nyata: Menjenguk Tengah Malam hingga Menjemput Sampai Tangga Pesawat

Oleh: SUARDI, SH (Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Jurnalis Hukum – Waketum DPP AJH)

Ada kisah dalam perjalanan hidup yang sulit dilupakan. Bukan karena peristiwanya luar biasa, tetapi karena semuanya terjadi di luar kebiasaan dan sulit dijelaskan hanya dengan logika.

Salah satunya adalah pengalaman penulis dengan Drs. Abdillah Ak., MBA, mantan Wali Kota Medan dua periode. Ia memimpin Kota Medan sejak 2000 hingga 2005 dan kembali terpilih untuk periode 2005–2010. Namun, masa jabatannya berakhir pada Agustus 2008 setelah tersandung perkara hukum.

Bagi penulis, hubungan dengan Abdillah bukan sekadar hubungan pertemanan. Ada amanah dari almarhum Tuan Guru DR. Salman Da’im yang menjadi pengikat hubungan tersebut.

Menjenguk di Tengah Malam

Ketika Abdillah tersandung perkara yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, penulis mendapat amanah untuk menjenguknya.

Sore itu, penulis berangkat dari Bandara Polonia Medan, jauh sebelum Bandara Internasional Kualanamu beroperasi. Setibanya di Jakarta menjelang malam, penulis justru tidak mencari hotel.

Setelah makan malam, penulis langsung menuju Polda Metro Jaya.

Ada satu nama yang terlintas dalam pikiran penulis ketika itu, yakni almarhum Brigjen Raziman Tarigan yang saat itu menjabat Wakapolda Metro Jaya. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Wakapolrestabes Medan dan sudah dikenal oleh penulis.

Secara logika, menjenguk tahanan pada tengah malam tentu bukan hal yang lazim. Namun, kenyataan berkata lain.

Penulis diterima dengan baik. Tidak ada kesan dipersulit. Bahkan, penulis dapat bertemu dan berbincang cukup lama.

Pembicaraan berlangsung hingga menjelang Subuh.

Setelah melaksanakan salat Subuh dan menyampaikan seluruh amanah Tuan Guru kepada Abdillah, penulis kemudian berpamitan untuk mencari penginapan dan beristirahat.

Ada satu hal yang membuat hubungan tersebut semakin terasa dekat. Abdillah ternyata juga merupakan murid Tuan Guru atau Buya.

Karena itu, kunjungan tersebut bagi penulis bukan sekadar menjenguk seorang tahanan. Ada amanah guru yang harus disampaikan.

Pertemuan Berlanjut di Sukamiskin

Hubungan penulis dengan Abdillah tidak berhenti di Rutan Polda Metro Jaya.

Setelah menjalani proses hukum dan ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, penulis kembali mengunjunginya.

Kali ini, penulis datang bersama Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Warta Indonesia Baru (WIB), H. Hamzah, S.Pd.

Saat sedang berbincang, Abdillah mendapat informasi dari Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri mengenai adanya seorang tokoh penting dari Medan yang disebut akan terseret dalam perkara hukum.

Tidak lama kemudian, nama H. Ajib Syah muncul dalam running text televisi.

Kabar itu membuat suasana perbincangan berubah. Apa yang sebelumnya hanya menjadi informasi, akhirnya terlihat melalui pemberitaan yang muncul di televisi.

Menjemput Sampai Tangga Pesawat

Kisah penulis dengan Abdillah kembali berlanjut setelah ia menyelesaikan masa hukumannya.

Penulis terus mendapatkan informasi mengenai kepulangannya ke Medan.

Ketika Abdillah akhirnya tiba di Medan, suasana di bandara cukup ramai. Masyarakat berjubel menunggu kedatangannya.

Penulis memilih menunggu sedikit jauh dari pesawat.

Begitu Abdillah turun, penulis langsung mendampinginya hingga ke tangga pesawat.

Bagi penulis, momen tersebut memiliki makna tersendiri.

Di tengah keramaian, Abdillah tetap menunjukkan penghormatan kepada penulis. Apalagi, kedekatan itu bermula dari amanah almarhum Tuan Guru yang juga menjadi guru Abdillah.

Bagi penulis, peristiwa itu bukan sekadar tentang menjenguk seorang sahabat atau menjemput seseorang yang baru tiba dari perjalanan.

Ada ikatan batin yang lahir dari penghormatan kepada seorang guru.

Dua Kali Mendapat Bantuan

Selain kisah dengan Abdillah, penulis juga memiliki kenangan lain dengan almarhum Brigjen Raziman Tarigan.

Sebagai wartawan, penulis pernah dua kali mendapatkan bantuan dari almarhum.

Salah satunya berkaitan dengan upaya memindahkan keponakan penulis, seorang anggota Brimob Polda Aceh, agar dapat bertugas di Polda Sumatera Utara.

Ketika itu, almarhum Brigjen Raziman Tarigan menjabat sebagai Wakil Komandan Korps Brimob Polri dan sedang melakukan kunjungan ke Aceh.

Keponakan penulis, almarhum Briptu Maihendra Prabudi, memberanikan diri menemui beliau.

Ia memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa dirinya adalah keponakan penulis.

Dengan sikap rendah hati, almarhum menerima Maihendra dengan baik dan menanyakan keperluannya.

Tindakan tersebut memang sempat membuat Maihendra mendapat hukuman dari komandannya. Namun, upaya itu akhirnya membuahkan hasil.

Beberapa waktu kemudian, Maihendra menyampaikan kepada penulis melalui saudaranya bahwa almarhum Brigjen Raziman Tarigan akan menghadiri pesta pernikahan anaknya di salah satu jambur di sekitar Jalan Jamin Ginting.

Penulis kemudian mengikuti petunjuk tersebut dan menyiapkan permohonan.

Dalam permohonan itu dijelaskan kondisi orang tua Maihendra yang sudah sakit-sakitan. Sebagai anak tertua, Maihendra menjadi sosok yang sangat diharapkan keluarganya.

Saat pesta berlangsung, penulis berusaha menemui almarhum.

Penulis beberapa kali mondar-mandir agar keberadaannya terlihat.

Usaha itu ternyata tidak sia-sia.

Ketika melihat penulis membawa map, almarhum memberikan tanda agar penulis mendekat. Ajudannya kemudian diberi tahu.

Penulis menyerahkan permohonan tersebut.

Beberapa bulan kemudian, permohonan itu membuahkan hasil. Maihendra akhirnya dapat pindah bertugas ke Medan.

Namun, manusia hanya dapat merencanakan.

Kehendak Allah berkata lain. Penyakit yang diderita Maihendra semakin parah hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Kenangan yang Tidak Terlupakan

Kini, yang tersisa adalah kenangan.

Kenangan tentang seorang guru yang memberikan amanah.

Kenangan tentang seorang murid yang tetap menghormati gurunya.

Dan kenangan tentang seorang perwira yang, di balik pangkat dan jabatannya, memiliki kerendahan hati untuk membantu orang lain.

Bagi penulis, perjalanan tersebut memberikan pelajaran sederhana tetapi mendalam.

Tidak semua peristiwa dalam hidup dapat dijelaskan hanya dengan logika.

Ada kalanya sesuatu yang terlihat aneh justru menjadi pengalaman paling nyata dan paling melekat dalam ingatan.

Menjenguk seorang tahanan di tengah malam.

Berbincang hingga menjelang Subuh.

Mengunjungi seorang sahabat di Sukamiskin.

Kemudian menjemputnya hingga ke tangga pesawat.

Semua itu pernah terjadi.

Aneh, tetapi nyata.

Dan pada akhirnya, bukan keanehannya yang paling penting.

Yang paling berharga adalah amanah, persahabatan, penghormatan kepada guru, serta kebaikan orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup.

Semua itu menjadi bagian dari kisah yang tidak mungkin dilupakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']