Opini Chazali H. Situmorang (CHSS) / Pemerhati Kebijakan Publik
Saya melihat Rocky Gerung sedang menanggung ongkos dari pilihannya sendiri. Begitu masuk Wantimpres, ia harus menghadapi pertanyaan yang lebih telanjang daripada perdebatan filsafat: apakah lidah yang tajam kepada kekuasaan akan tetap tajam ketika pemiliknya mendapat kursi di dalamnya? Publik tidak membutuhkan permainan istilah. Publik ingin melihat apakah keberaniannya masih utuh, atau mulai berunding dengan kenyamanan jabatan.
Pelantikan Rocky sebagai anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026 diberitakan ANTARA. Seusai pelantikan, ia menegaskan fungsi kritis dewan dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden Prabowo Subianto.[1] Namun, penjelasan itu tidak menghentikan cibiran. IDN Times pada 3 Oktober merangkum reaksi warganet di X yang mempertanyakan konsistensinya, mengungkit kritik lamanya, dan menertawakan perpindahannya ke lingkungan pemerintahan.[2]
Salah satu komentar yang dikutip IDN Times berbunyi, “Era akal sehat sudah berakhir gaess, ganti era kedunguan mutlak.”[2] Kalimat itu kasar, tetapi arah sindirannya jelas: istilah yang melekat pada citra Rocky kini dipakai untuk memukul balik dirinya. Sebagian komentar lain menuduhnya menjilat ludah sendiri atau menunggu bagian kekuasaan. Itu tuduhan warganet, bukan bukti tentang motif pribadinya. Meski demikian, tuduhan tersebut menunjukkan betapa cepat kekaguman bisa berubah menjadi penghinaan.
BANGSAONLINE pada 2 Oktober juga mencatat beredarnya meme dan plesetan nama seperti “Rocky Girang” serta “Rocky Garong”.[3] Plesetan terakhir jelas bukan bukti tindak pidana. Yang sedang terjadi adalah penghukuman reputasi di ruang digital. Orang tidak lagi sibuk membantah argumennya; mereka menyerang citra independensinya. Tidak tersedia hitungan terverifikasi tentang berapa banyak netizen yang mengejek. Tetapi pemberitaan itu memperlihatkan bahwa ia memang menjadi sasaran berbagai sindiran, bukan sekadar satu komentar terpencil.
Bagi saya, pukulan terberat bukan makian itu sendiri. Pukulan terberat ialah ketika publik mulai meragukan ketulusan seluruh kritik yang pernah didengarnya. Kritik bertahun-tahun bisa dibaca ulang sebagai tangga menuju kursi. Pembacaan itu belum tentu adil, tetapi risiko itulah yang harus dipikirkan seorang pengkritik sebelum menerima jabatan. Tidak masuk akal menghendaki keuntungan dari kedekatan dengan kekuasaan sambil menuntut kepercayaan publik tetap utuh tanpa penjelasan.
Itulah makna “babak belur” dalam judul ini: kewibawaan yang dihajar oleh pertanyaan tentang konsistensi. Sedangkan “kantong Wantimpres” adalah sindiran terhadap risiko seorang pemikir masuk terlalu dalam ke saku kekuasaan, sampai sulit mengeluarkan suara sendiri. Saya tidak sedang menyatakan ada transaksi tersembunyi. Saya sedang mempertanyakan harga politik dari keputusan yang sudah terlihat di depan mata.
Saya tidak menganggap setiap orang yang menerima jabatan otomatis pengkhianat. Orang yang cakap boleh masuk pemerintahan dan memperbaiki kebijakan. Tetapi orang yang membangun pengaruh lewat kritik keras harus siap diperiksa dengan ukuran yang sama kerasnya. Rocky tidak bisa menikmati tepuk tangan ketika menelanjangi kekuasaan, lalu meminta publik berbicara lembut ketika pilihannya sendiri ditelanjangi. Standar itu harus berlaku dua arah.
Ada perbedaan nyata antara menyampaikan kritik dari luar dan memberi pertimbangan dari dalam. Dari luar, seorang pengkritik lebih leluasa menentukan agenda dan menyampaikan keberatan. Dari dalam, ia berhadapan dengan hubungan kerja, loyalitas kelembagaan, dan kepentingan menjaga akses. Semua itu tidak otomatis membungkam, tetapi menciptakan tekanan yang sebelumnya tidak sama. Menganggap perpindahan tersebut sebagai urusan tempat duduk semata berarti mengecilkan persoalan yang justru sedang dipertanyakan publik.
Karena itu, penjelasan Rocky tentang fungsi kritis Wantimpres belum cukup. ANTARA melaporkan bahwa ia menekankan kepekaan etis dan kemampuan membaca persoalan dalam memberikan pertimbangan.[1] Bagus. Sekarang tunjukkan bentuknya. Ketika kebijakan keliru, apakah ia berani menyatakan keliru? Ketika alasan pemerintah lemah, apakah ia ikut merapikan alasan itu agar terdengar pintar, atau mendorong perubahan yang sungguh-sungguh?
Saya muak dengan kebiasaan politik yang menyulap perubahan sikap menjadi kecanggihan bahasa. Kemarin keras, hari ini lunak, lalu publik diminta percaya bahwa semuanya tetap konsisten karena istilahnya diganti. Akal sehat tidak boleh menjadi merek dagang yang laris saat berseberangan dengan pemerintah, tetapi kehilangan isi ketika pemiliknya mendapat tempat. Kalau ada perubahan penilaian, jelaskan faktanya. Kalau ada perubahan posisi, akui konsekuensinya. Jangan bersembunyi di balik kalimat yang berputar-putar.
Di sisi lain, netizen juga tidak selalu benar. Ejekan bukan pemeriksaan fakta, dan keramaian bukan vonis kebenaran. IDN Times turut memuat komentar yang berharap Rocky tetap amanah dan kritis.[2] Jadi, tidak tepat mengatakan seluruh rakyat membencinya. Namun, dukungan yang masih ada tidak membatalkan persoalan pokok: ia kini harus menunjukkan bahwa jabatan tidak membuat ukuran benar dan salah berubah mengikuti kepentingan orang yang mengangkatnya.
Saya menolak anggapan bahwa semua kritik terhadap keputusan ini hanyalah iri karena tidak mendapat kursi. Itu jawaban malas dan merendahkan warga. Orang boleh kecewa karena kehilangan figur yang mereka anggap mampu menjaga jarak. Mereka boleh curiga ketika seorang pengkritik masuk ke struktur yang dahulu ia periksa dari luar. Kecurigaan tersebut harus dijawab dengan tindakan yang bisa dinilai, bukan dengan sikap seolah publik terlalu bodoh untuk memahami strategi seorang intelektual.
Kursi negara bukan hadiah untuk membayar popularitas. Jabatan juga bukan panggung baru agar seorang tokoh terus menjadi pusat perhatian. Jika kehadiran Rocky hanya menghasilkan pembelaan yang lebih canggih terhadap keputusan pemerintah, publik berhak bertanya: apa manfaatnya bagi rakyat? Pemerintah sudah memiliki orang untuk menjelaskan kebijakan. Yang dibutuhkan dari pemikir ialah keberanian menunjukkan cacatnya, termasuk ketika temuan itu membuat pemberi jabatan tidak nyaman.
Bagi saya, ujian Rocky sekarang sangat konkret. Ia harus mampu menunjukkan pokok masalah yang diperjuangkan, alasan kebijakan yang dipersoalkan, dan arah perbaikan yang didorongnya. Tidak semua percakapan dengan Presiden harus dibuka. Namun, kerahasiaan tidak boleh menjadi selimut abadi untuk menutupi ketiadaan hasil. Warga berhak menilai manfaat jabatan publik tanpa harus disuruh percaya pada kebesaran nama pemegangnya.
Ukuran berikutnya adalah konsistensi. Kebijakan yang buruk harus tetap disebut buruk sekalipun datang dari orang yang memberinya jabatan. Pelanggaran etika tidak mendadak menjadi kebijaksanaan hanya karena pelakunya berada dalam satu lingkungan. Kalau ukuran itu bergeser, sindiran netizen akan semakin sulit dibantah. Mereka akan melihat jarak yang makin lebar antara omongan lama dan perilaku baru.
Saya juga ingin melihat batas yang ia pasang terhadap dirinya sendiri. Sampai di mana kompromi masih bisa dibenarkan? Dalam keadaan apa ia akan menolak membela keputusan pemerintah? Kapan ia bersedia meninggalkan jabatan bila keberadaannya hanya menjadi pajangan? Seorang intelektual yang tidak mempunyai batas akan mudah menemukan alasan untuk bertahan. Selalu ada dalih menunggu waktu, menjaga akses, atau memperbaiki dari dalam. Sementara itu, publik terus diminta bersabar.
Pembelaan bahwa perubahan membutuhkan waktu tentu masuk akal. Tetapi waktu harus dipakai untuk bekerja, bukan menghapus ingatan orang atas janji. Rocky tidak perlu menjawab setiap akun yang mengejeknya. Ia perlu menjawab persoalan yang membuat ejekan itu tumbuh. Balasan terbaik bukan ceramah tentang betapa dangkalnya netizen, melainkan sikap yang menunjukkan bahwa keberanian mengoreksi kekuasaan memang belum habis.
Yang memprihatinkan adalah akibatnya bagi kepercayaan warga. Jika tokoh yang dianggap kritis terus berakhir di lingkungan kekuasaan tanpa memperlihatkan manfaat yang jelas, orang bisa menyimpulkan bahwa semua keberanian cuma menunggu tawaran. Kesimpulan itu terlalu menyapu rata, tetapi tumbuh dari kekecewaan yang tidak dijawab. Karena itulah, pilihan Rocky menyangkut lebih dari reputasi pribadinya. Ia ikut mempertaruhkan kepercayaan terhadap suara kritis di ruang publik.
Pendirian saya tegas: silakan duduk di Wantimpres, tetapi jangan minta kebal dari pertanyaan. Buktikan bahwa kursi itu memperbesar manfaat pikiran, bukan mengecilkan nyali. Jika kelak jabatan hanya membuat kritik tumpul dan pembelaan semakin licin, lepaskan kursinya. Lebih terhormat kehilangan jabatan daripada mempertahankannya dengan menggadaikan ukuran yang dahulu dipakai menghakimi orang lain. Akal sehat tidak membutuhkan kartu akses Istana untuk tetap hidup.
Rujukan pemberitaan
[1] ANTARA, 2 Oktober 2026, “Rocky Gerung: Wantimpres bertugas kritis terhadap kebijakan”. Baca sumber
[2] IDN Times, 3 Oktober 2026, “Jadi Wantimpres, Rocky Gerung Ditertawakan Netizen Akal Sehat Berakhir”. Baca sumber
[3] BANGSAONLINE, 2 Oktober 2026, “Wibawa Rocky Gerung Langsung Ludes Begitu Dilantik Jadi Wantimpres, Ini Komen Tokoh dan Netizen”. Baca sumber


