Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Guritan Na Metmet sian Dolok Pusuk Buhit Sianjur Mula-mula
Bekasi, 3 Oktober 2026 – Hujan rintik-rintik di Jatibening. Parumaen di rawat di RS Pluit, kami tulis ini sambil berjaga. Horas ma di hita saluhutna. Tulisan ini bukan tulisan orang pandai.
Hami Mau Jujur Dulu – Hami Pernah Salah.
Terus terang Amang, awalnya hami pun percaya seperti kebanyakan orang, bahwa Huta itu milik satu marga saja, tertutup, tidak mau campur dengan marga lain.
Sampai 17 tahun lalu, hami pulang ke Sianjur Mula-mula. Hami duduk di Batu Hobon. Disuapi jagung rebus panas. Lalu I. Tampubolon marah sama hami.
Katanya: “Ehh, Wilmar na metmet! Tung salah do ho! Huta itu bukan milik marga! Huta itu pangisi na tolu! Ada hula-hula, ada dongan tubu, ada boru! Kalau tidak ada ketiganya, itu bukan Huta, itu alaman!”
Hami diam. Malu. Dari situlah hami mulai buka kembali buku-buku tua yang hami bawa dari Leiden tahun 1982 lewat foto copy.
Jadi kalau ada salah di tulisan ini, itu karena hami yang bodoh. Kalau ada benar, itu karena ajaran I. Tampubolon dan jagung rebusnya di Batu Hobon itu.
1. Huta Itu Sendiri Sudah Persatuan
Dalam Pustaha Laklak, buku kulit kayu alim yang panjangnya bisa sampai 15 meter yang disimpan di Leiden University Library, yang hami lihat fotonya pun sudah pusing membacanya, ada uhum yang sama seperti yang dibilang I. Tampubolon:
Namarhula-hula, namardongan tubu, namarboru do pangisi ni sada Huta na gok.
Hami artikan pelan-pelan: Satu Huta yang lengkap itu harus ada Hula-hulanya, ada teman semarganya, ada Borunya. Tiga tiang.
Tuan J.C. Vergouwen yang tinggal lama di Tapanuli juga menulis begitu dalam bukunya Het Rechtsleven der Toba-Bataks tahun 1933. Katanya Huta itu persatuan terkecil yang tidak pernah eksklusif.
Jadi sejak awal, Huta sudah mengajarkan kita: tidak bisa hidup sendiri.
2. Bius Adalah Paguyuban Tertua – Persatuan Beda Marga
Setelah Huta, orang tua dulu membuat lagi persatuan yang lebih besar. Namanya Bius. Inilah Paguyuban tertua itu. Inilah yang hami lihat di Istana Maimun itu.
Hami baca buku Amang W.M. Hutagalung, Pustaha Batak Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak. Naskah asli 1926, cetakan 1991 yang sampulnya sudah menguning dan ada bekas tumpahan kopi di halaman 88 punya hami. Di situ beliau menulis:
Bius i ma na pinungka ni Raja Uti. Di bagasan Bius i, marragam do marga, alai sada do uhum.
Bermacam-macam marga, tapi satu hukumnya.
Tuan Vergouwen dalam bab khusus tentang Bius juga bilang, Bius adalah federasi Huta-Huta beda marga yang pesta bersama. Di Toba saja ada lebih dari seratus Bius. Di Sianjur Mula-mula saja, Bius itu isinya puluhan marga.
Dari Batu Hobon sampai Istana Maimun, hami baru paham: Bius itulah Paguyuban. Persatuan beda marga bukan barang baru.
Ini yang hami sebut dalam Batakologi Refor sebagai Bius Modern.
3. Horja – Ketika Persatuan Menolong Yang Susah
Di atas Bius ada lagi Horja. Horja adalah persatuan beberapa Bius.
Dalam Pustaha Tumbaga Holing dari Sianjur ada tertulis:
Sada Huta ndang boi mangolu sandiri. Ingkon marBius, marHorja.
Satu Huta tidak bisa hidup sendiri.
Untuk apa? Dalam ringkasan Pustaha Laklak yang hami baca, semua kerja Batak dulu – bangun rumah, berburu, tanam padi – semua kolektif. Tidak ada yang kerja sendiri.
Ada uhum yang bikin hami menangis waktu di RS Pluit tadi:
Molo tung mago sada Huta binahen ni alogo manang aek magodang, ingkon paturehonon ni dongan sahuta na asing na sahorja, na sabius.
Kalau hilang satu Huta karena angin atau air bah, wajib dibangun kembali oleh teman satu horja, satu bius. Jangan hanya menonton.
Ini yang hami sebut Ampang Na Opat – empat kaki validasi Batakologi: ada sejarahnya, ada tafsirnya, ada gotong royongnya, ada manusianya.
Penutup: Dari Pusuk Buhit Sampai Istana Maimun
Jam sudah jam 2 lewat, Amang. Parumaen sudah tenang tidur. Hujan sudah berhenti.
Kalau dulu leluhur kita bersatu di Dolok Pusuk Buhit desa Sianjur Mula-mula dengan nama Bius dan Horja, untuk membagi air dan menolong Huta yang terbakar.
Sekarang anak cucunya bersatu di Istana Maimun dengan nama 23 Paguyuban, untuk merajut kebhinekaan.
Nama boleh ganti, dari Bius menjadi Paguyuban. Tempat boleh ganti, dari Pusuk Buhit menjadi Istana Maimun.
Tapi uhumnya tetap sama: marragam do marga, alai sada do uhum.
Jadi, Bius itu adalah Paguyuban. Paguyuban itu adalah Bius yang hidup kembali.
Itulah yang bisa hami sampaikan dari RS Pluit ini, sambil jaga parumaen. Hami bukan orang pandai. Kalau salah, itu karena kebodohan hami na metmet. Kalau benar, itu karena jagung rebus I. Tampubolon di Batu Hobon dan kebenaran dari Pustaha Tua.
Mauliate. Horas.
Wilmar Eliaser Simandjorang
Bekasi – Jatibening, 3 Oktober 2026


