Oleh: Soekirman dari Chiangmai, Thailand
CHIANGMAI, THAILAND – Kekhawatiran mencari makanan halal saat berkunjung ke Thailand ternyata tidak perlu berlebihan. Meski mayoritas penduduknya beragama Buddha, negeri Gajah Putih itu menyediakan banyak pilihan kuliner halal. Bahkan, makanan halal menjadi bagian dari daya tarik wisata yang dikemas melalui festival, melibatkan komunitas Muslim, dan menarik pengunjung dari berbagai latar belakang.
Pengalaman tersebut saya rasakan ketika berkunjung ke Thailand atas undangan alumni Asian Rural Institute (ARI). Semula, ada sedikit keraguan mengenai kemudahan memperoleh makanan halal. Namun, setelah tiba dan menjelajahi sejumlah tempat, kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti.
Thailand justru memberikan pengalaman menarik tentang bagaimana sebuah negara membangun pariwisata dengan menghargai keberagaman budaya dan kebutuhan wisatawan.
Halal Food Bukan Masalah di Thailand
Pertanyaan mengenai makanan halal memang sering muncul di kalangan wisatawan Muslim yang ingin berkunjung ke Thailand. Apalagi, jumlah penduduk Muslim di negara tersebut merupakan minoritas, dengan perkiraan sekitar 5 hingga 12 persen dari total populasi.
Komunitas Muslim Thailand banyak bermukim di wilayah selatan yang berbatasan dengan Malaysia. Beberapa provinsi dengan populasi Muslim cukup besar adalah Pattani, Narathiwat, Yala, dan Satun.
Di Pattani, penduduk Muslim disebut mencapai sekitar 88 persen, Narathiwat 85 persen, Yala 75 persen, dan Satun 68 persen. Selain wilayah selatan, komunitas Muslim juga tersebar di wilayah tengah, utara, serta Bangkok, termasuk Distrik Nong Chok dan Min Buri.
Bagi wisatawan Muslim, keberadaan komunitas tersebut turut mendukung ketersediaan makanan halal. Pengalaman saya selama berada di Thailand menunjukkan bahwa mencari makanan halal bukanlah persoalan besar.
Hal lain yang juga berkesan adalah sikap masyarakat Thailand yang menghormati tamu, termasuk mereka yang memiliki keyakinan berbeda.
Festival Halal Food Chiangmai Ramai Dikunjungi Wisatawan
Salah satu pengalaman paling menarik adalah mengunjungi Festival Halal Food di Chiangmai, kota yang berada sekitar 705 kilometer di utara Bangkok.
Festival yang berlangsung pada 23–24 Oktober 2026 tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner halal dapat menjadi daya tarik wisata lintas agama dan budaya.
Suasananya sederhana. Tidak banyak simbol keagamaan yang ditampilkan. Identitas Muslim lebih mudah dikenali melalui sebagian pengunjung dan peserta perempuan yang mengenakan hijab.
Namun, kesederhanaan itu tidak mengurangi antusiasme pengunjung. Sejak siang hingga malam, kawasan festival dipadati orang yang ingin menikmati aneka makanan.
Menariknya, pengunjung tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Wisatawan berkulit putih juga terlihat datang untuk mencicipi berbagai hidangan khas Muslim Thailand.
Beragam makanan tersedia dengan harga terjangkau. Mulai dari tomyam, udang, olahan daging dan ayam, kebab, beef steak, dimsum, martabak, hingga nasi biryani mutton.
Ada pula salad khas Thailand, aneka kue basah, roti, bakpao, buah-buahan, serta berbagai minuman panas dan dingin.
Setiap makanan ditawarkan dengan label halal sehingga memudahkan pengunjung Muslim memilih hidangan sesuai kebutuhan mereka.
Antusiasme pengunjung bahkan membuat tempat duduk yang tersedia tidak mampu menampung semua orang. Sebagian pengunjung harus mengantre untuk mendapatkan makanan dan tempat menikmati hidangan.
Festival ini juga tidak hanya berisi kegiatan jual beli makanan. Pada siang hari, diselenggarakan lomba memasak yang diikuti peserta dengan beragam kreasi kuliner.
Beberapa peserta menyajikan menu yang sudah dikenal luas, seperti tomyam. Peserta lainnya menghadirkan kreasi masakan baru yang menjadi daya tarik tersendiri.
Festival Halal Food Chiangmai tersebut merupakan hasil kerja sama pemerintah, khususnya Departemen Pariwisata dan Olahraga, dengan komunitas Islam setempat serta asosiasi hotel dan restoran.
Dari kegiatan sederhana ini terlihat bagaimana kolaborasi antarkomunitas dapat menghasilkan sebuah acara yang menarik banyak pengunjung.
Thailand dan Indonesia, Pariwisata yang Perlu Dibandingkan
Sebagai pengurus Masyarakat Ekowisata Indonesia (MEI), saya tertarik melihat perkembangan pariwisata Thailand dan membandingkannya dengan Indonesia.
Berdasarkan data yang saya peroleh, Thailand mampu menarik sekitar 32 juta hingga 35 juta kunjungan wisatawan setiap tahun.
Hingga akhir Oktober 2026, data Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand yang saya catat menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan asing telah mencapai 24,93 juta.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang saya rujuk, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercatat sebanyak 15,39 juta.
Angka tersebut menjadi bahan refleksi bagi Indonesia. Kita memiliki wilayah yang luas, kekayaan alam, keragaman budaya, serta banyak destinasi wisata. Namun, potensi tersebut perlu didukung dengan pengelolaan, promosi, dan pengemasan produk wisata yang menarik.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia antara lain berasal dari Malaysia, Australia, dan Singapura.
Pengalaman di Thailand memberikan gambaran bahwa pengembangan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kemampuan membaca kebutuhan pasar dan membangun kerja sama dengan berbagai komunitas juga sangat penting.
Tiga Pelajaran dari Chiangmai untuk Indonesia
Sebagai pengurus Persatuan Purna Kepala Daerah Seluruh Indonesia (Perpukadesi), saya melihat ada beberapa hal yang dapat dipelajari pemerintah daerah di Indonesia dari pengalaman Chiangmai.
Pertama, membangun kesadaran bersama tentang persaingan pariwisata.
Pemerintah daerah perlu memiliki kesadaran bahwa destinasi wisata Indonesia berada dalam persaingan dengan negara lain.
Ketertinggalan dalam jumlah kunjungan maupun kualitas pelayanan perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Kesadaran tersebut penting agar pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan komunitas wisata memiliki tujuan yang sama untuk mengembangkan destinasi daerah.
Kedua, berani membidik pasar wisatawan tertentu.
Pengalaman Festival Halal Food Chiangmai memberikan pelajaran menarik. Meskipun mayoritas masyarakat Thailand beragama Buddha, pemerintah setempat tetap menggandeng komunitas Muslim untuk mengembangkan kegiatan yang menarik wisatawan pencari kuliner halal.
Pasar wisatawan Muslim dari Malaysia, Indonesia, dan negara lainnya menjadi peluang yang dapat dikembangkan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal lebih besar untuk menggarap pasar tersebut. Namun, peluang itu perlu didukung dengan penyediaan makanan halal, informasi yang jelas, pelayanan yang baik, serta kegiatan wisata yang menarik.
Ketiga, mengembangkan agrowisata dan wisata minat khusus.
Chiangmai tidak hanya menjual kuliner dan panorama alam. Wisata pertanian organik juga menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Saya berkesempatan mengunjungi pasar pertanian organik yang beroperasi tiga kali dalam seminggu. Pasar ini menarik karena menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Pengunjung dapat melihat sekaligus menikmati berbagai hasil pertanian lokal, seperti durian, longkong, sirsak, kelapa muda, tamarind, dan aneka buah lainnya.
Produk-produk tersebut dikemas dengan menarik sehingga memberikan pengalaman berbelanja yang menyenangkan.
Kemasan Produk Pertanian Menjadi Daya Tarik
Satu hal yang cukup mencolok selama berada di Chiangmai maupun Bangkok adalah cara masyarakat Thailand memperlakukan hasil pertanian.
Sayuran dan buah-buahan tidak sekadar dijual sebagai komoditas kebutuhan sehari-hari. Produk pertanian ditata dengan rapi, dikemas menarik, dan ditempatkan pada rak penjualan yang memberikan kesan premium.
Bahkan, hasil pertanian yang dijual menggunakan mobil bak terbuka atau double cabin milik petani tetap ditampilkan dengan penataan yang menarik.
Pemandangan ini mengingatkan saya pada kondisi di sejumlah daerah di Indonesia. Tidak sedikit hasil pertanian yang masih dijual dengan diletakkan begitu saja di atas tanah atau alas karung di pinggir jalan.
Padahal, kualitas produk yang baik akan semakin memiliki nilai jual apabila didukung kemasan dan penampilan yang tepat.
Pengalaman di Thailand memperlihatkan bahwa nilai sebuah produk pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga cara produk tersebut dipasarkan.
Inilah peluang yang dapat dikembangkan oleh daerah-daerah di Indonesia, terutama yang memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan agrowisata.
Pariwisata Tidak Hanya Menjual Tempat, tetapi Pengalaman
Kunjungan ke Thailand, khususnya Chiangmai, memberikan banyak catatan menarik. Festival makanan halal, pasar pertanian organik, keramahan masyarakat, dan pengemasan produk lokal menjadi bagian dari pengalaman wisata yang saling melengkapi.
Pariwisata ternyata tidak selalu membutuhkan pembangunan fasilitas yang megah. Kegiatan sederhana yang dikelola dengan baik, melibatkan masyarakat, dan sesuai dengan kebutuhan pasar dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Indonesia memiliki banyak potensi serupa. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan masyarakat mampu membangun kerja sama, menemukan keunggulan masing-masing wilayah, serta mengemasnya menjadi produk wisata yang bernilai.
Demikian sekilas catatan perjalanan dari Thailand. Sebuah perjalanan yang bukan hanya memberikan pengalaman menikmati kuliner dan panorama, tetapi juga menghadirkan pelajaran tentang bagaimana mengembangkan pariwisata dan pertanian secara lebih kreatif.
Pada kesempatan ini, saya menyampaikan Kapkunkap atau terima kasih kepada Mrs. Chitnata Khemarat, alumni Asian Rural Institute, yang telah memandu dan memperkenalkan budaya pertanian, khususnya pertanian organik di Chiangmai, Thailand.
Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi pengembangan pariwisata dan agrowisata Indonesia.


