Parbarita So Sungkunon

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang (Pegiat Lingkungan dan Budaya)

Dulu ada seorang yang dipanggil orang Parbarita So Sungkunon — orang yang suka memberi berita padahal tidak ada yang bertanya.

Suatu hari di tengah jalan ke ladang, ia mendengar suara dari sebuah tengkorak. Ia tidak berhenti, tidak memastikan, tidak menenangkan diri dulu. Ia langsung lari ke pasar dan bercerita kepada kawan-kawannya dengan heboh: “Kalian dengar? Tengkorak bisa berbunyi!”

Kawan-kawannya tidak percaya. “Seumur hidup kami tidak pernah dengar begitu.”

Karena malu tidak dipercaya, ia malah menantang: “Mari ikut aku. Kalau tengkorak itu tidak berbunyi, aku bayar 100 ringgit!”

Mereka pun pergi. Sampai di sana, ia panggil-panggil tengkorak itu, ia guncang-guncang, ia bentak-bentak supaya berbunyi lagi. Tengkorak itu diam. Tidak ada suara. Suara yang tadi hanya ada untuk telinga yang sunyi, bukan untuk keramaian pasar.

Parbarita kalah. Ia harus membayar 100 ringgit dari kantongnya sendiri.

Cerita itu ditutup orang tua kita dengan satu kalimat saja:

> Hatahata na sumingkothon tali tu rungkungna.
> Omongannya sendiri yang menjerat lehernya sendiri.

KENAPA CERITA INI DITURUNKAN TERUS?

Karena orang Batak tahu, penyakit paling lama bukan di kaki, tapi di mulut.

Maka lahirlah pesan yang selalu diulang di alaman:

> Jolo ni dilat bibir asa nidok hata.
> Jilat dulu bibir sebelum berkata.

Jilat bibir artinya tahan dulu. Basahi dulu mulut yang kering. Beri jeda antara telinga yang mendengar dan mulut yang menjawab. Di jeda itulah kita bertanya: Benarkah ini? Perlukah kuceritakan? Apa akibatnya kalau kuceritakan?

Satu lagi pesan yang selalu berpasangan dengannya:

> Hata do uli, hata do jea.
> Perkataan bisa jadi berkat, bisa jadi bencana.

Satu kata bisa menghangatkan satu keluarga seperti ulos. Satu kata juga bisa memutus satu keluarga seperti tali yang salah pilin.

Parbarita So Sungkunon bukan orang jahat. Ia hanya orang yang lupa menjilat bibirnya. Ia dengar sedikit, ia cerita banyak. Ia ingin terlihat hebat, akhirnya ia terlihat malu. Ia ingin mengikat orang lain dengan ceritanya, akhirnya ia terikat oleh ceritanya sendiri.

Hari ini ceritanya masih sama. Bedanya, pasarnya bukan lagi di ladang, tapi di grup WA, di Facebook, di ruang rapat.

Maka kalau nanti kita mau bicara, ingat dulu Parbarita ini.

Unang paposo hata. Paposo ma roha jolo.
Jangan buru-buru berkata. Buru-burulah mematangkan hati dulu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']