Pendidikan Sumut Disorot Tajam, Sutrisno Sebut Sistem Wariskan “Pembodohan” Era Kolonial

DETEKSI.co-Medan, Wakil Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sumatera Utara sekaligus Presidium Kornas, Sutrisno Pangaribuan, ST melontarkan kritik keras terhadap kondisi pendidikan di Sumatera Utara yang dinilainya semakin memprihatinkan dan kehilangan arah pembangunan kualitas manusia.

Dalam Dialog Pendidikan bertajuk “Pendidikan Untuk Siapa” yang digelar Alumni Graha Kirana Medan, Sutrisno menyebut sistem pendidikan saat ini masih mewarisi pola lama yang menurutnya mirip dengan “teori pembodohan” pada masa kolonial.

Pendidikan Sumut dinilai belum mampu menciptakan pemerataan kualitas pembelajaran maupun peningkatan mutu sumber daya manusia. Menurut Sutrisno, persoalan pendidikan bukan hanya soal fasilitas sekolah, tetapi juga menyangkut kualitas guru, ketimpangan wilayah, dan lemahnya arah kebijakan pendidikan nasional.

“Dialog seperti ini harus terus digaungkan supaya dunia pendidikan benar-benar mengalami kemajuan. Jangan sampai pola pendidikan yang membodohi rakyat seperti zaman kolonial terus diwariskan,” tegasnya saat dialog bertajuk “Pendidikan Untuk Siapa?” sekaligus peluncuran podcast “Suara Graha Kirana” di Ruang Harvard Focal Point Mall, Jalan Ringroad/Jalan Gagak Hitam, Rabu (13/5/2026).

Sutrisno menilai dunia pendidikan saat ini terlalu sibuk pada pendekatan administratif dan formalitas akademik, namun melupakan esensi utama pendidikan sebagai sarana membangun karakter dan kualitas manusia.

Ia bahkan menyebut kajian akademik di sektor pendidikan sering kali tidak lagi relevan dengan kebutuhan nyata di lapangan. Baginya, profesi guru seharusnya lahir dari panggilan pengabdian, bukan sekadar mengejar status dan sertifikasi.

“Berbicara pendidikan berarti berbicara kualitas manusia. Tapi Sumatera Utara masih menghadapi kesenjangan pendidikan yang serius. Mutu pembelajaran rendah dan kompetensi guru masih menjadi momok,” katanya.

Kritik Pendidikan Nasional juga diarahkan Sutrisno kepada pemerintah pusat. Ia menilai daerah memiliki keterbatasan dalam melakukan pembenahan karena hampir seluruh regulasi pendidikan dikendalikan langsung oleh Kementerian Pendidikan.

Dalam pernyataannya, Sutrisno secara terbuka menyebut mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kerusakan sistem pendidikan nasional saat ini.

“Pendidikan adalah pondasi utama bangsa. Kualitas sumber daya manusia dan daya saing negara ditentukan dari pendidikan. Tapi yang terjadi sekarang justru kehancuran sistem pendidikan,” ujarnya.

Sutrisno berharap Presiden Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi pendidikan nasional yang menurutnya semakin mengkhawatirkan.

Tidak hanya pemerintah pusat, ia juga menyentil kepala daerah di Sumatera Utara dan Kota Medan yang dianggap belum menunjukkan keseriusan dalam membangun pendidikan rakyat.

Sindiran Kepala Daerah pun dilontarkan secara tajam. Sutrisno mempertanyakan komitmen pejabat daerah yang menjabat sebagai Bunda PAUD, namun justru tidak menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang menjadi bagian dari sistem pendidikan daerah.

“Lihat saja, istri kepala daerah otomatis menjadi Bunda PAUD. Tapi anak-anak mereka sendiri sekolah di mana? Ini pertanyaan besar tentang keseriusan mereka membangun pendidikan rakyat,” sindirnya.

Menurut Sutrisno, peningkatan kualitas pendidikan di tingkat kabupaten dan kota menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat. (gaho)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']