DETEKSI.co-Jakarta, Ketahanan energi Indonesia mencatat capaian mengejutkan. Lembaga keuangan global JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia, di tengah tekanan geopolitik global yang belum mereda.
Ketahanan energi Indonesia ini dinilai sebagai hasil nyata dari kebijakan strategis pemerintah, khususnya di bawah kepemimpinan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Meski demikian, pemerintah mengakui kondisi energi nasional masih menghadapi tantangan serius.
Produksi minyak dalam negeri saat ini hanya mencapai 605 ribu barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional yang sudah menyentuh 1,6 juta barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia berstatus sebagai negara importir minyak, berbeda dengan masa lalu saat masih menjadi anggota OPEC.
“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya mencapai kemandirian energi,” ujar Bahlil dalam forum bisnis di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Ketahanan energi Indonesia mulai menunjukkan titik terang pada 2025. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, produksi minyak nasional berhasil melampaui target APBN. Capaian ini didorong oleh langkah berani pemerintah yang sebelumnya jarang diambil.
Salah satu langkah kunci adalah mengaktifkan kembali sumur minyak tua yang selama ini terbengkalai, termasuk peninggalan era kolonial. Pemerintah mendorong penggunaan teknologi modern oleh kontraktor migas, disertai insentif serta pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan secara legal.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat proyek-proyek migas yang lama tertunda. Proyek strategis seperti Blok Abadi Masela akhirnya bergerak setelah diberikan ultimatum tegas kepada operator. Kini proyek senilai USD21 miliar tersebut telah masuk tahap lelang konstruksi.
Di Kalimantan Timur, proyek Blok Ganal juga menjadi harapan baru dengan target produksi signifikan pada 2029.
Ketahanan energi Indonesia semakin diperkuat di sektor bahan bakar. Pemerintah mencatat tonggak penting dengan penghentian impor solar pada 2026. Kebijakan ini didukung program mandatori biodiesel berbasis sawit yang kini mencapai campuran 40 persen dan akan ditingkatkan menjadi 50 persen.
Langkah ini terbukti mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus mendorong pemanfaatan energi domestik.
Tak berhenti di solar, pemerintah kini menyiapkan kebijakan serupa untuk bensin melalui pencampuran etanol. Indonesia menargetkan implementasi campuran 20 persen etanol pada 2028, yang berpotensi mengurangi impor bensin hingga 8 juta kiloliter.
Di sektor gas rumah tangga, tantangan masih besar. Indonesia masih mengimpor 7,47 juta metrik ton LPG per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,94 juta metrik ton. Beban subsidi pun mencapai Rp80–87 triliun per tahun.
Sebagai solusi, pemerintah mulai mengembangkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif LPG. Gas ini diklaim 30–40 persen lebih murah dan telah diuji coba di sektor komersial serta program pemerintah.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, pemerintah juga mendiversifikasi sumber impor minyak mentah yang sebelumnya bergantung pada Timur Tengah. Kini pasokan diperluas ke Afrika, Amerika, hingga Rusia guna mengurangi risiko geopolitik.
Pemerintah memastikan stabilitas harga energi tetap terjaga. Hingga akhir tahun, harga BBM dan LPG subsidi dijamin tidak akan mengalami kenaikan, meskipun harga minyak dunia menyentuh 100 dolar AS per barel.
Ketahanan energi Indonesia dibangun melalui langkah bertahap dan terukur. Mulai dari optimalisasi sumur tua, percepatan proyek migas, hingga diversifikasi energi dan impor, seluruh strategi diarahkan untuk memperkuat fondasi energi nasional secara berkelanjutan.(Red/d)


