Salom TR Pardede Ajak Warga Rawat Kerukunan

DETEKSI.co – Medan, Anggota DPRD Kota Medan Salomo TR Pardede, SE, MM mengajak warga Medan Selayang untuk tetap merawat kerukunan. Hal itu dikatakannya saat melaksanakan acara Pembinaan Idiologi dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Tj. Sari, Medan Selayang, Minggu (21/6/2026).

Dikatakannya, Medan sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman suku dan agama adalah identitas khas kota Medan sekaligus merupakan hal yang rentan untuk disusupi provokator.

“Untuk itu, marilah kita jaga kondusifitas kota ini dengan tetap hidup rukun dan damai, berdampingan dengan orang yang berbeda suku dan agama dengan kita,” tuturnya.

Sementara itu nara sumber Eka Prahadian Abdurahman dalam paparannya menyebutkan, Medan dikenal sebagai salah satu kota dengan tingkat kemajemukan tertinggi di Indonesia. Ini adalah identitas kita. Melting pot nusantara yakni pertemuan harmonis etnis Melayu, Batak, Jawa, Tionghoa, Minang, India dan lainnya. Toleransi beragama: tempat beribadah berdiri berdampingan, menandakan kedewasaan masyarakat dalam menyikapi perbedaan iman.
Kekuatan budaya: akulturasi kuliner, bahasa dan seni menjadikan kota Medan kaya akan nilai historis dan sosial.

Keberagaman memerlukan jembatan komunikasi yang kuat agar tidak menjadi bibit perpecahan sosial.

Rasa kebangsaan, perasaan cinta tanah air yang lahir dari sanubari menganggap keberagaman di Medan karunia Tuhan yang harus dijaga dengan penuh rasa syukur.

Mengapa wawasan kebangsaan penting? Di tengah dinamika dan laju urbanisasi kota besar seperti Medan, sentimen kedaerahan atau eksklusifitas kelompok bisa saja muncul, wawasan kebangsaan hadir sebagai jangkar moral. Hal ini mencegah terjadinya konflik sosial, membangun empati antar tetangga dan memastikan setiap kelompok mayoritas maupun minoritas merasa memiliki ‘rumah’ yang sama, aman dan nyaman di kota ini.

Pancasila sebagai dasar hidup bangsa Indonesia dapat kita implememtasikan dalam hidup sehari-hari, kata Eka. Dia mengatakan implementasi sila pertama adalah toleransi beragama yakni menghormati hari besar agama lain dan menjaga kerukuman antar umat beragama. Implementasi sila kedua, silidaritas kemanusiaan. Saling membantu warga yang ditimpa musibah tanpa memandang suku atau agama mereka.

Implementasi sila ketiga, gotong royong. Merawat fasilitas umum bersama, melaksanakan Siskamling dan kerja bakti kebersihan lingkungan. Sila keempat, musyawarah mufakat. Menyeleaaikan perbedaan pendapat antar kelompok melalui dialog terbuka sedta berpartisipasi aktif dalam forum rembuk warga atau musrembang tingkat kelurahan.

Dan implementasi sila kelima keadilan sosial. Mendukung akses yang setara dan adil terhadap pelayanan publik seperti pendidikan dan program kesehatan terpadu (Posyandu) bagi seluruh elemen masyarakat Medan.

Masyarakat yang hadir tampak sangat antusias mengikuti acara tersebut. Warga meminta agar pemerintah menggalakkan kembali pelajaran pendidikan moral Pancasila di sekolah-sekolah, mengingat saat ini sudah terjadi degradasi moral di kalangan pelajar. (moe)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']