DETEKSI.co-Tapsel, Lahir dari sanggar tari kecil di Desa Napa, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara, Sanggar Seni Sopo Daganak (Sanipoda), berhasil mengharumkan nama bangsa pada perhelatan event internasional.
Nadifa Pulungan (16), salah satu penari Sanipoda tidak menyangka dapat menaklukkan panggung Istanbul, Turki, bersama tim, beberapa waktu lalu.
Awalnya hanya fomo, tidak ada niat untuk menjadi seorang penari, keenam perwakilan anak sanggar tari tersebut hanya sekadar mengisi waktu luang.
Intensitas berlatih dan dukungan para pelatih dan orang tua, membuat dirinya dan tim perlahan serius menekuni bidang seni tari.
Sejumlah event pun dijajaki mulai dari pentas tingkat Kabupaten, Pekan Raya Sumatra Utara, serta mengikuti event Warisan Tari Nusantara di Jakarta, Sanipoda keluar sebagai pemenang kedua.
Pilihan delegasi ke Malaysia, Milan, Turki. Mencoba peruntungan di Paraya Istanbul pun menjadi kesepakatan tim.
Sanipoda satu satunya penari asal Asia, bersaing dengan negara Eropa. Di sana gerakan tari Tortor Mambatik Tapanuli Selatan dan Tortor Hatasopisik Toba yang mereka bawakan mampu menghipnotis ribuan penonton dunia.
Begitu kagumnya terhadap budaya Indonesia, usai pertunjukan, Nadifa mengaku, mereka diajak foto bersama saat mengenakan pakaian adat tradisional Indonesia, ulos.
“Selama dua minggu, kami seperti artis di sana. Senang bercampur bangga,” kisahnya saat konferensi Pers di Bagas Silua, Tapsel, Sabtu (7/11/2026).
Diungkapkan, perjalanan ke panggung dunia tidak mudah. Sebelum berangkat, tim menghadapi kendala usia minimal peserta acara hingga keterbatasan dana.
Defri Ramadhani salah satu pelatih Sanipoda, menyampaikan tim sempat nyaris batal berangkat karena peserta wajib berusia 18 tahun.
Sehingga setiap peserta harus memiliki pendamping, masalah dana keberangkatan pun menjadi soal pelik, dukungan dari pemerintah setempat tak cukup menjadi solusi.
“Akhirnya kami ajukan proposal ke PTAR, dan akhirnya pada 23 Oktober tim pun berangkat dan kembali ke tanah air dengan selamat,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Dastri Sejoli Harahap, Ketua Perkumpulan Sahabat Cerdas (PERSADA) Batangtoru, menyampaikan Sanipoda berawal dari Taman Baca Anak yang belum memiliki tempat berlatih yang menetap.
“Nah, kemudian PTAR membangun Gedung Sopo Daganak yang berarti rumah singgah anak-anak dibangun sebagai sarana pendidikan informal serta pusat kegiatan seni, budaya, dan kreativitas bagi anak-anak dan masyarakat di sekitar Batangtoru diresmikan pada 18 November 2017,” terangnya.
Dastri juga mengungkapkan bahwa seluruh kegiatan seni di Sopo Daganak itu gratis. Bahkan, lanjutnya, biaya mengikuti setiap event juga ditanggung oleh PT Agincourt Resources.
“PTAR ada di belakang kami,” kata pelatih tari tersebut.
Harapannya, ketertarikan anak terhadap seni tari tradisional semakin tumbuh dan dicintai oleh generasi muda di daerah asalnya sendiri serta menumbuhkan semangat prestasi menembus dunia. (Rosianna Hutabarat)


