Etika Berita Komunitas Marga

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

Sianjur Mula-Mula, Dolok Pusuk Buhit

Beberapa bulan terakhir, cara komunitas bermarga memberitakan dirinya bergeser. Ruang bicara tidak lagi hanya balai adat atau pertemuan keluarga. Ia pindah ke grup WhatsApp, Facebook, TikTok, hingga portal berita online komunitas.

Di ruang baru itu, satu pola berulang. Satu tokoh diangkat dan digadang-gadang. Pernyataan pendukung dikutip bertubi-tubi, semua bernada pujian. Ruang untuk suara kedua hampir tidak ada.

Dari Dolok Pusuk Buhit, tempat orang Batak pertama belajar bermukim dan bermusyawarah, saya melihat ini bukan sekadar soal teknik menulis. Ini soal cara menjaga rumah bersama.

Pertama, soal keberimbangan. Prinsip tertua dalam etika pers adalah mendengar dua pihak. Kode Etik Jurnalistik mewajibkan berita akurat dan berimbang. Berimbang berarti memberi kesempatan yang sama kepada semua pihak terkait untuk didengar.

Ketika berita online komunitas hanya memuat satu versi – versi tokoh yang digadang-gadang – tanpa mendatangi yang diam, yang berbeda pendapat, atau yang mungkin keberatan, berita itu kehilangan fungsi dasarnya. Ia bukan lagi ruang untuk memahami, melainkan pengumuman sepihak yang memakai baju berita.

Jika dibiarkan, yang terjadi bukan hanya pelanggaran etika jurnalistik, melainkan pembiasan realitas. Komunitas seolah bulat mendukung satu nama, padahal yang bulat hanya algoritma media sosialnya.

Kedua, soal martabat rumah bersama. Komunitas marga adalah rumah. Rumah berdiri karena janji persaudaraan, bahwa semua anak memiliki tempat yang sama.

Dalam bahasa tua ada tugas disebut mangaramoti, menjaga agar tonggak kokoh dan ikatan tetap benar. Umpasa berkata: Hot jala padot parlinggoman, hot jala bonar parbatahan. Kuat tonggak penyangga, benarlah ikatan.

Ikatan yang benar merangkul semua. Jika pemberitaan di semua kanal, dari WA sampai berita online, hanya mengikatkan diri pada satu tokoh, ikatan itu timpang. Tonggak miring. Mereka yang tidak disebut merasa bukan lagi bagian dari rumah itu.

Menjaga martabat berarti menjaga perasaan semua saudara sedarah. Berita bermartabat bukan yang paling sering membuat satu orang viral, melainkan yang membuat semua anggota tetap merasa aman di rumahnya sendiri.

Ketiga, soal kesibukan yang kehilangan haluan. Sepanjang hari menyebar tautan berita online berisi pujian sepihak, memotong video TikTok untuk satu nama, meneruskan pesan berantai di WhatsApp, sementara ladang sendiri terbengkalai.

Setiap orang punya ladang untuk dikerjakan. Ladang untuk menghidupi keluarga dan merawat persaudaraan.

Umpasa lain mengingatkan: Sahat saha ni solu, sai sahat ma tu bontean. Biarlah haluan perahu sampai ke tepian.

Jika haluan perahu komunitas hanya untuk memuji satu orang, perahu hanya berputar di tengah danau. Sibuk tetapi tidak maju. Ramai tetapi tidak sampai.

Haluan yang baik berakar pada kasih yang adil dan ketabahan untuk tidak terburu-buru. Kasih yang memberi ruang bagi semua untuk didengar. Ketabahan yang menahan diri untuk tidak menyebar yang belum tentu benar.

Tulisan ini tidak untuk satu marga. Ia untuk semua komunitas yang hidup karena ikatan darah dan janji, lintas agama dan daerah. Justru karena terikat darah, kita lebih wajib adil.

Sebelum berita disebar di WA, Facebook, TikTok, maupun berita online, tanyakan tiga hal: Apakah sudah berimbang dan mendengar dua pihak? Apakah menjaga martabat semua saudara, bukan hanya satu pihak? Apakah dimaksudkan untuk mempersatukan, bukan memecah?

Jika terjawab, berita kita tidak hanya informatif, tetapi bermartabat. Komunitas akan tetap utuh, bukan karena satu tokoh, tetapi karena keadilan yang mengikat semua.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']