Oleh : Maulana Maududi, Pemimpin Redaksi Solidaritas Times dan Ketua Umum DPP Solidaritas Dakwah Kebangsaan.
Meniti asa Solidaritas Dakwah Kebangsaan (SDK) adalah ikhtiar berkelanjutan merajut nilai-nilai keagamaan dengan semangat cinta tanah air. Ini berfokus pada pendekatan dakwah yang menyejukkan, merangkul kemajemukan, dan menjadikan Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) sebagai pilar utama merawat keutuhan NKR.
Adalah moderasi beragama wasathiyah adalah cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang mengambil jalan tengah (wasath). Hal ini demi menghindarkan umat dari sikap ekstrem (berlebihan) dan abai (meremehkan ajaran), serta berlandaskan pada keadilan, keseimbangan, dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.
Penerapan moderasi beragama wasathiyah ditopang oleh beberapa indikator utama yang menjadi panduan dalam berbangsa dan bernegara dengan beberapa Indikator Moderasi Beragama untuk Komitmen Kebangsaan yang dilakukan melalui penerimaan terhadap prinsip-prinsip bernegara yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.Toleransi.
Sikap menghargai perbedaan keyakinan dan memberi ruang bagi pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadahnya. Anti-Kekerasan dengan menolak segala bentuk tindakan ekstremisme, radikalisme, dan pemaksaan kehendak menggunakan cara-cara destruktif. Dan akomodatif terhadap Budaya Lokal untuk lebih terbuka dan menghargai tradisi serta budaya Nusantara yang tidak bertentangan dengan ajaran pokok agama.
Saatnya generasi hebat Partai Solidaritas Indonesia menjalani Wasathiyah mencakup beberapa nilai utama yang membentuk karakter moderat diantaranya At-Tawassuth dengan selalu mengambil posisi tengah, tidak ekstrem kanan maupun kiri. Kemudian Al-I’tidal dengan tegak lurus dan konsisten dalam menegakkan keadilan. Lalu At-Tasamuh yang toleran terhadap sesama.
Lebih lanjut Asy-Syura mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan masalah. Juga Al-Ishlah yang berorientasi pada perbaikan dan solusi. Termasuk Al-Qudwah menjadi teladan yang baik. Tak kalah penting Al-Muwathanah menegaskan cinta tanah air dan nasionalisme hingga Al-La’unf yang anti-kekerasan serta I’tiraf Al-‘Urf untuk menghargai tradisi dan budaya.
Adapun untuk menumbuhkan kembangkan nilai-nilai keislaman melalui Hubbul Wathon Minal Iman (حب الوطن من الإيمان) di tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah slogan populer yang bermakna “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Meskipun sering disalahartikan sebagai hadits, para ulama menegaskan bahwa ini adalah kalimat hikmah yang maknanya sahih, sejalan dengan teladan Nabi Muhammad SAW saat mencintai Kota Madinah.
Makna dan landasan bukan Hadits secara teks seperti yang dikemukakan ahli hadits diantaranya Imam As-Suyuthi tidak menemukan sanad (jalur periwayatan) yang kuat untuk kalimat ini. Slogan ini lebih dikenal sebagai ungkapan hikmah (mahfuzhat).
Makna kesesuaian makna yang penting untuk dipahami walaupun bukan hadits, substansinya dibenarkan dalam Islam. Kecintaan terhadap tempat kelahiran atau negara tempat tinggal adalah fitrah manusia dan sarana penting untuk menegakkan agama dengan aman.
Teladan Rasulullah SAW mencontohkan rasa cinta tanah air saat beliau berdoa memohon kecintaan kepada Kota Madinah sebagaimana atau lebih daripada kecintaan beliau kepada Makkah. Sejarah dan Peran di Indonesia melalui konsep Nasionalisme menegaskan slogan ini sangat identik dengan perjuangan umat Islam di Nusantara. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari, menggunakan nilai-nilai hubbul wathon sebagai dasar kuat untuk membakar semangat santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.
Pondasi bernegara melalui konsep ini menjadi landasan penting dalam menyatukan nilai-nilai keislaman dengan semangat nasionalisme (cinta NKRI) tanpa mempertentangkan keduanya.
Sehingga Solidaritas Dakwah Kebangsaan (SDK) memandang penting untuk PSI melakukan kolaborasi lintas elemen sebagai kerja sama strategis antara berbagai pemangku kepentingan—seperti pemerintah, swasta, komunitas, akademisi, dan masyarakat—untuk mencapai tujuan bersama. Ini adalah kunci utama dalam menyelesaikan masalah kompleks di masyarakat, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga ketahanan pangan. Agar sinergi ini berjalan sukses, berikut adalah elemen-elemen penting dan strategi penerapannya.
Para pemangku kepentingan utama, adalah Pemerintah yang berperan sebagai pembuat kebijakan, regulator, dan penyedia fasilitas publik. Swasta/Bisnis dengan menyediakan dukungan pendanaan, inovasi teknologi, dan pelaksanaan program tanggung jawab sosial (CSR).
Komunitas & NGO menjadi penghubung langsung dengan masyarakat, penggerak lapangan, dan pengawas program. Akademisi yang menyediakan riset, data, dan evaluasi berbasis keilmuan agar program tepat sasaran. Termasuk masyarakat menjadi subjek sekaligus penerima manfaat utama dari kolaborasi tersebut.
Kunci keberhasilan kolaborasi yang sejatinya menjadi Visi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan menetapkan tujuan yang jelas dan dipahami oleh seluruh pihak. Melalui komunikasi Terbuka dengan rutin mengadakan evaluasi bersama untuk meminimalisir miskomunikasi. Sehingga pembagian peran dengan membagi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kapasitas dan keahlian masing-masing elemen adalah hal yang patut disinergiskan. Untuk kemudian saling percaya membangun transparansi dan dukungan antar pelaku kolaborasi yang digadang dapat memperkuat nilai tawar Partai Solidaritas Indonesia mendapatkan simpati publik dan memenangkan hati rakyat Indonesia untuk kemudian menghantar PSI berada di lingkaran kekuasaan yang sesungguhnya.


