DETEKSI.co-Medan, Pembina Yayasan Lembaga Pendidikan (YPLP) PGRI Sumatera Utara Bahrumsyah menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya dipandang sebagai sarana mengejar gelar akademik. Menurutnya, pendidikan sejati harus mampu membentuk karakter dan melahirkan generasi yang berguna bagi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Bahrumsyah saat menanggapi tema diskusi “Pendidikan Untuk Siapa?” yang belakangan menjadi perhatian kalangan pendidikan di Sumatera Utara.
Dialog tersebut digelar bersamaan dengan peluncuran podcast “Suara Graha Kirana” di Ruang Harvard Focal Point Mall, Jalan Ringroad/Jalan Gagak Hitam, Medan, Rabu (13/5/2026).
Bahrumsyah yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara menilai pengelolaan pendidikan tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena menyangkut masa depan generasi bangsa.
“Pendidikan itu untuk generasi penerus bangsa. Karena itu pengelolaannya tidak boleh sembarangan. Motivasi belajar juga jangan hanya untuk mendapatkan gelar, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh bisa diimplementasikan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Menurut Bahrumsyah, pendidikan memiliki fungsi penting dalam membentuk karakter manusia sekaligus menanamkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
“Pendidikan memiliki nilai untuk membentuk karakter dan memanusiakan manusia. Dari situ lahir sikap saling mendukung dan semangat membangun pendidikan yang inklusif,” ujarnya.
Dalam dialog tersebut, Bahrumsyah juga menyoroti pentingnya kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak.
Ia menegaskan pendidikan anak tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada guru atau sekolah semata.
“Pendidikan anak adalah proses berkelanjutan yang melibatkan dua lingkungan utama, yakni rumah dan sekolah. Karena itu harus ada kolaborasi antara orang tua dan guru agar perkembangan akademik anak bisa lebih cepat dan lingkungan belajar menjadi sehat,” katanya.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi fondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang efektif dan menyeluruh.
Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui pertemuan rutin, komunikasi terbuka, hingga pemantauan perkembangan belajar anak secara bersama.
Bahrumsyah menjelaskan, dukungan dari sekolah dan keluarga secara bersamaan akan membuat anak lebih termotivasi dalam belajar.
Ketika anak merasakan perhatian dari guru dan orang tua, proses belajar akan berjalan lebih maksimal dan konsisten.
Selain meningkatkan motivasi, kolaborasi juga mempermudah penanganan masalah akademik maupun emosional anak karena dapat terdeteksi lebih cepat.
Ia menambahkan, penyelarasan pola pendidikan di rumah dan sekolah juga penting agar anak mendapatkan pemahaman yang lebih kuat terhadap materi pembelajaran maupun pembentukan karakter.
Di akhir penyampaiannya, Bahrumsyah menegaskan pemerintah memiliki tanggung jawab besar memastikan seluruh anak memperoleh hak pendidikan yang setara tanpa diskriminasi.
“Pemerintah harus memastikan setiap anak memiliki hak dan kesempatan pendidikan yang setara. Pendidikan harus ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan bangsa,” pungkasnya. (gaho)


