DETEKSI.co-Jakarta, Serangan drone Iran dilaporkan merusak fasilitas penting pabrik desalinasi air di Bahrain. Insiden ini tidak hanya menyebabkan kerusakan material, tetapi juga melukai sejumlah warga sipil di sekitar lokasi.
Serangan drone Iran terhadap fasilitas sipil tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Dalam Negeri Bahrain. Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari AFP pada Minggu (8/3/2026), pemerintah Bahrain menyebut serangan itu menyasar fasilitas vital yang berperan penting dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat.
“Agresi Iran secara acak menargetkan fasilitas sipil dan menyebabkan kerusakan material pada pabrik desalinasi air setelah serangan drone,” demikian isi pernyataan Kementerian Dalam Negeri Bahrain.
Kerusakan pada fasilitas tersebut menjadi perhatian serius karena pabrik desalinasi merupakan infrastruktur yang sangat vital di kawasan Teluk. Tanpa fasilitas ini, pasokan air bersih bagi jutaan penduduk dapat terganggu.
Pabrik Desalinasi Jadi Tulang Punggung Air di Kawasan Teluk
Kawasan Teluk dikenal sebagai salah satu wilayah paling kering di dunia. Negara-negara di wilayah ini sangat bergantung pada dua sumber air utama, yaitu air tanah fosil atau air tanah purba serta air hasil proses desalinasi.
Kedua sumber tersebut menyumbang lebih dari 90 persen total pasokan air di kawasan Teluk. Meskipun air tanah masih menjadi sumber utama di sebagian wilayah, peran desalinasi semakin dominan dan bahkan menjadi sumber air utama bagi beberapa negara.
Karena itu, serangan terhadap pabrik desalinasi dapat berdampak besar terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan sektor industri.
Berdasarkan kajian Middle East Institute, negara-negara Teluk merupakan kawasan yang paling bergantung pada teknologi desalinasi di dunia. Secara kolektif, kawasan ini menghasilkan sekitar 40 persen dari total produksi air hasil desalinasi global.
Kapasitas produksi air hasil desalinasi di kawasan tersebut juga diperkirakan akan terus meningkat dan bahkan bisa berlipat ganda pada tahun 2030.
Apa Itu Desalinasi Air Laut
Negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) berada di wilayah yang memiliki sumber air tawar sangat terbatas. Kondisi geografis ini membuat mereka harus mengandalkan teknologi desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih yang terus meningkat.
Desalinasi merupakan proses pengolahan air laut atau air payau menjadi air minum dengan cara menghilangkan kandungan garam dan mineral di dalamnya.
Penjelasan dalam jurnal ilmiah Cleaner Production (Volume 357, 10 Juli 2022) menyebutkan bahwa teknologi desalinasi kini menjadi solusi utama untuk mengatasi peningkatan kebutuhan air bersih di berbagai negara.
Proses ini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan air minum, tetapi juga untuk menyediakan air ultra-murni yang dibutuhkan dalam industri farmasi serta industri pengolahan makanan.
Dalam prosesnya, kadar garam dalam air diukur melalui total dissolved solids (TDS), yaitu jumlah padatan terlarut yang dihitung dalam miligram per liter, bagian per juta, atau bagian per seribu.
Namun proses desalinasi juga menghasilkan limbah cair berkadar garam sangat tinggi yang dikenal sebagai air garam atau brine. Limbah ini biasanya memiliki komposisi kimia pekat sehingga perlu pengelolaan khusus agar tidak merusak lingkungan.
Perkembangan Desalinasi Berkaitan dengan Industri Minyak
Sejarah pengembangan teknologi desalinasi di negara-negara GCC tidak terlepas dari perkembangan industri minyak. Lonjakan harga minyak dunia pada tahun 1973 menjadi titik penting yang memungkinkan negara-negara Teluk menginvestasikan dana besar untuk pembangunan infrastruktur air dan energi.
Investasi tersebut membuka jalan bagi pembangunan berbagai proyek desalinasi berskala besar yang hingga kini menjadi sumber utama pasokan air bersih di kawasan tersebut.
Karena perannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, fasilitas desalinasi kini dianggap sebagai infrastruktur strategis yang perlu mendapat perlindungan maksimal dari ancaman konflik dan serangan militer.(Red)


