Gaba-Gaba Salib Hilang di Pangururan, Yayasan Sitolu Hae Horbo Minta Polisi Bertindak Cepat

DETEKSI.co-Samosir, Hilangnya ornamen gaba-gaba salib di kawasan Taman Sitolu Hae Horbo, Pangururan, memicu keresahan masyarakat adat dan tokoh budaya di Kabupaten Samosir. Ketua Pembina Yayasan Sitolu Hae Horbo, Ir Nikolas Sinar Naibaho MBA, meminta instansi terkait segera menyikapi dugaan pencurian simbol budaya dan keagamaan tersebut.

Hilangnya gaba-gaba salib di Pangururan dinilai bukan sekadar kehilangan benda biasa. Masyarakat menilai peristiwa itu sudah menyentuh persoalan penghormatan terhadap sejarah, budaya adat, dan simbol keagamaan masyarakat Bius Sitolu Hae Horbo.

“Kami mengecam keras terjadinya pencurian gaba-gaba salib di Taman Sitolu Hae Horbo dan memohon instansi terkait menyikapi kejadian ini,” kata Nikolas Naibaho saat dihubungi dari Medan, Minggu (17/05/2026) malam.

Nikolas yang juga menjabat Ketua Yayasan Si Raja Batak mengajak masyarakat ikut menjaga kawasan taman bersejarah tersebut agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Menurutnya, pihak yayasan bersama tokoh-tokoh Bius Naibaho, Sitanggang, dan Simbolon dijadwalkan beraudiensi dengan Kapolres Samosir AKBP Rina Tarigan pekan ini. Pertemuan itu dilakukan untuk meminta pengusutan cepat terkait hilangnya ornamen budaya tersebut.

Namun Nikolas mengaku belum dapat hadir langsung karena memiliki agenda lain di Jakarta dan Medan.

Kasus hilangnya gaba-gaba salib sebelumnya telah dilaporkan ke Polres Samosir oleh pengurus Yayasan Sitolu Hae Horbo dan keturunan Bius Naibaho pada Sabtu (16/05/2026).

Laporan dibuat setelah masyarakat mendapati ornamen gaba-gaba salib yang sebelumnya berdiri di kawasan taman sudah tidak lagi berada di lokasi.

Taman Sitolu Hae Horbo sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu simbol budaya masyarakat Pangururan. Lokasinya berada di segitiga pintu masuk Kota Pangururan dan menjadi ruang publik yang kerap digunakan warga untuk berkumpul dan bersantai.

Namun bagi masyarakat adat, taman tersebut bukan hanya sekadar ruang terbuka hijau. Kawasan itu dianggap memiliki nilai sejarah penting bagi keturunan Bius Sitolu Hae Horbo, yakni Naibaho, Sitanggang, dan Simbolon.

Keresahan warga semakin besar setelah perubahan penataan taman dilakukan dan ornamen gaba-gaba salib menghilang dari lokasi.

“Yang hilang bukan sekadar benda. Yang perlahan hilang adalah penghormatan terhadap sejarah,” ujar seorang warga Pangururan.

Tokoh keturunan Sitolu Hae Horbo, Efendy Naibaho, menegaskan pembangunan kota seharusnya tidak menghilangkan akar budaya yang telah diwariskan leluhur.

Menurutnya, Taman Sitolu Hae Horbo memiliki nilai historis yang tidak bisa diganti hanya dengan konsep estetika modern ataupun kepentingan pembangunan semata.

“Budaya bukan pajangan yang bisa dipindahkan sesuka hati. Di taman ini ada sejarah, ada identitas, ada warisan leluhur yang harus dihormati,” ujar Efendy usai membuat laporan di SPKT Polres Samosir.

Efendy berharap penataan kawasan dilakukan melalui komunikasi bersama tokoh adat dan masyarakat keturunan Bius Sitolu Hae Horbo agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

“Kami tidak menolak kemajuan kota. Tetapi pembangunan harus tetap berpijak pada akar budaya,” katanya.

Baca berita sebelumnya: Tangis Budaya di Jantung Pangururan, Gaba-Gaba Sitolu Hae Horbo Hilang
https://deteksi.co/tangis-budaya-di-jantung-pangururan-gaba-gaba-sitolu-hae-horbo-hilang/

Sementara itu, warga Pangururan bernama Arifin Naibaho (69) secara resmi membuat laporan dugaan hilangnya gaba-gaba salib ke Polres Samosir.

Sebelum laporan dibuat, Arifin bersama Efendy Naibaho dan sejumlah pomparan Sitolu Hae Horbo sempat meninjau langsung lokasi hilangnya ornamen tersebut bersama Kapolsek Pangururan.

Arifin berharap simbol budaya dan keagamaan itu dapat dikembalikan serta dipasang kembali di lokasi semula sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah Bius Sitolu Hae Horbo.

“Biar generasi muda tahu bahwa tempat ini punya sejarah. Jangan sampai anak cucu hanya mendengar cerita tanpa lagi melihat simbol budayanya,” ujarnya.

Hingga kini masyarakat masih menunggu langkah aparat kepolisian untuk mengungkap penyebab hilangnya gaba-gaba salib tersebut, termasuk kemungkinan adanya unsur vandalisme atau pencurian.

Warga juga berharap penataan Kota Pangururan tetap memperhatikan nilai sejarah, budaya adat, dan simbol keagamaan yang selama ini menjadi bagian penting identitas masyarakat Samosir. (en)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']