Catatan Pinggir: Air Mata Seorang Kakek di Ulang Tahun ke-21 Sang Cucu

Oleh: Suardi, SH

Malam itu sunyi.

Sabtu dini hari, 6 Juni 2026. Jarum jam menunjukkan pukul 00.23 WIB ketika pintu rumah perlahan terbuka. Fildzah baru saja pulang bekerja. Adiknya, Dwi Putri Ayu, menyambutnya dengan sebuah kue ulang tahun sederhana.

Hari itu, cucu saya, Fildzah Audy Ningrum, genap berusia 21 tahun.

Di dalam rumah yang nyaris terlelap, saya masih terjaga. Entah mengapa malam itu mata enggan terpejam. Saya duduk dalam diam, memandangi cucu yang selama ini tumbuh di depan mata.

Lalu tanpa disadari, air mata menetes perlahan.

Bukan karena kesedihan.

Bukan pula karena kehilangan.

Air mata itu lahir dari rasa syukur yang begitu dalam. Rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Rasa bangga melihat seorang anak perempuan yang saya kenal sejak kecil kini berdiri sebagai pribadi yang kuat, tangguh, dan penuh tanggung jawab.

Sebagai seorang opa, saya menjadi saksi perjalanan hidupnya.

Di usia ketika banyak anak muda masih menikmati masa-masa santai bersama teman-temannya, Fildzah memilih jalan yang berbeda. Ia memilih berjuang.

Ia tidak ingin seluruh kebutuhannya ditanggung oleh kami. Ia hanya meminta agar biaya kuliahnya dibantu. Selebihnya, untuk kebutuhan tugas, kerja kelompok, transportasi, hingga berbagai keperluan lainnya, ia berusaha memenuhi sendiri dengan bekerja.

Pagi hingga sore ia menjadi mahasiswi. Kini ia duduk di Semester VI jurusan Komunikasi pada salah satu Universitas Negeri Islam.

Namun setelah kuliah usai, perjuangannya belum selesai.

Ia berganti pakaian, berangkat bekerja, dan sering kali baru pulang ketika sebagian besar orang sudah tertidur.

Pernah ia bekerja di sebuah kafe di kawasan sekitar Universitas Sumatera Utara. Malam-malam panjang menjadi bagian dari hidupnya. Terkadang ia pulang tepat tengah malam. Tidak jarang hingga pukul dua dini hari.

Sebagai opa, hati saya selalu dipenuhi kecemasan.

Saya tahu bagaimana jalanan malam di kota ini. Saya tahu risiko yang mengintai perempuan muda yang harus pulang sendiri saat larut malam.

Sering kali saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa cucu saya harus berjuang sekeras ini?

Namun setiap kali melihat wajahnya yang tetap tegar, saya justru belajar sesuatu.

Tentang ketabahan.

Tentang keberanian.

Tentang bagaimana mimpi besar sering kali harus dibayar dengan pengorbanan yang tidak kecil.

Ketika tempat kerjanya tutup, saya sempat berpikir mungkin ia akan beristirahat sejenak. Tetapi saya salah.

Fildzah kembali mencari pekerjaan.

Ia diterima di sebuah kafe di kawasan Jalan Mesjid, belakang Kesawan Medan. Rutinitas pulang larut malam kembali terulang. Saya sering menjemputnya. Menunggu hingga pekerjaan selesai hanya untuk memastikan ia tiba di rumah dengan selamat.

Namun pekerjaan itu pun tidak bertahan lama.

Sekali lagi ia harus memulai dari awal.

Dan sekali lagi, ia tidak menyerah.

Ia kemudian bekerja di Restoran Nelayan pada akhir pekan. Hanya dua malam dalam seminggu, tetapi tetap dijalani dengan sungguh-sungguh.

Bagi sebagian orang, berpindah-pindah pekerjaan mungkin terasa melelahkan. Namun bagi Fildzah, itu adalah bagian dari perjalanan menuju masa depan yang ia impikan.

Alhamdulillah, hari ini Allah membukakan jalan yang lebih baik.

Ia bekerja di sebuah kafe yang lebih dekat dari rumah, di kawasan Deli Tua. Meski sesekali masih harus pulang mendekati tengah malam, setidaknya rasa khawatir kami sedikit berkurang.

Kadang ia mengendarai motornya sendiri. Kadang saya mengantar dan menjemputnya.

Dan setiap kali melihatnya berangkat setelah seharian mengikuti perkuliahan, saya selalu mengirimkan doa yang sama.

Ya Allah, lindungilah cucuku.

Karena saya tahu, di balik senyumnya yang sederhana, ada perjuangan yang mungkin tidak diketahui banyak orang.

Ia mengorbankan waktu istirahat.

Ia mengorbankan waktu bermain.

Ia mengorbankan sebagian masa mudanya.

Semua demi satu tujuan: menyelesaikan pendidikan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Malam ulang tahunnya yang ke-21 ini, saya tidak memiliki hadiah mewah untuk diberikan.

Saya hanya memiliki doa.

Doa seorang opa yang melihat cucunya tumbuh menjadi perempuan yang kuat.

Semoga setiap tetes keringatmu menjadi pahala.

Semoga setiap langkahmu mencari rezeki menjadi ibadah.

Semoga setiap perjalanan pulangmu selalu berada dalam penjagaan Allah SWT.

Dan semoga seluruh perjuangan yang engkau jalani hari ini kelak berubah menjadi kebahagiaan yang berlipat ganda.

Suatu hari nanti, ketika engkau berdiri mengenakan toga sarjana. Ketika cita-citamu tercapai. Ketika engkau menjadi perempuan sukses yang membanggakan keluarga.

Ingatlah bahwa keberhasilan itu tidak lahir dalam semalam.

Ia dibangun dari malam-malam panjang yang melelahkan.

Dari perjalanan pulang yang sepi.

Dari rasa lelah yang disimpan sendiri.

Dari air mata yang mungkin tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

Dan malam ini, justru air mata seorang kakek yang menjadi saksinya.

Selamat ulang tahun ke-21, cucuku tercinta, Fildzah Audy Ningrum.

Teruslah melangkah.

Karena di setiap langkahmu, selalu ada doa seorang opa dan oma yang tidak pernah berhenti menyertaimu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']