Makna Folklor Batak Toba “Sipansur Aek ni Latong” dalam Kearifan Sosial
Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang/Penggiat Lingkungan Berbasis Budaya
Dalam khazanah folklor Batak Toba, terdapat ungkapan “sipansur aek ni latong” yang hidup sebagai warisan budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Folklor dalam pengertian kearifan Batak adalah kebijaksanaan kolektif yang tidak lahir dari teks tertulis, melainkan dari pengalaman hidup, umpasa, percakapan adat, dan ingatan sosial masyarakat. Ia bukan sekadar cerita, tetapi sistem nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan berelasi dalam kehidupan bersama.
Secara harfiah, latong adalah pohon hutan yang dikenal memiliki daun dan getah yang menimbulkan rasa gatal ketika bersentuhan dengan kulit manusia. Sifatnya yang mengganggu membuat latong dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Dalam imajinasi budaya Batak Toba, latong menjadi simbol sesuatu yang merusak ketenangan, meskipun tidak selalu terlihat berbahaya secara langsung. Ia bekerja secara halus tetapi meninggalkan dampak yang mengganggu.
Dari simbol alam inilah lahir ungkapan “sipansur aek ni latong”. Secara kultural, ungkapan ini merujuk pada orang yang menyebarkan “getah sosial” dalam kehidupan bersama: mengadu domba, menyebarkan gosip, memelintir fakta, atau menciptakan ketegangan di antara sesama. Ia adalah metafora sosial tentang kata-kata yang tidak terjaga, yang merusak relasi tanpa harus melakukan kekerasan fisik.
Dalam konteks Batak Toba, ungkapan ini bukan sekadar sindiran, tetapi mekanisme kontrol sosial. Ia mengingatkan bahwa kata-kata memiliki konsekuensi. Satu ucapan dapat merusak hubungan yang dibangun bertahun-tahun. Satu kabar yang tidak benar dapat memecah keluarga. Karena itu, sipansur aek ni latong berfungsi sebagai peringatan moral agar setiap anggota masyarakat menjaga tutur kata dan niatnya.
Dalam sistem Dalihan Na Tolu, makna ini menjadi semakin penting. Keharmonisan antara hula-hula, dongan tubu, dan boru bergantung pada kebijaksanaan dalam berkomunikasi. Ketika seseorang menjadi “latong sosial”, ia tidak hanya merusak dua individu, tetapi dapat mengganggu keseimbangan seluruh struktur kekerabatan. Konflik kecil dapat berkembang menjadi perpecahan besar jika tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan.
Karena itu, orang Batak memandang serius etika berbicara. Kata yang tidak dijaga dianggap lebih berbahaya daripada tindakan yang terlihat. Sebab tindakan dapat segera diketahui, tetapi kata-kata yang tersebar dapat hidup lama dalam ingatan orang lain. Inilah alasan mengapa folklor ini menjadi bagian penting dari pendidikan moral masyarakat Batak Toba.
Dalam perspektif literasi modern, sipansur aek ni latong adalah metafora literasi etika.
Literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan menimbang dampak dari setiap informasi yang disampaikan. Literasi yang benar harus menghasilkan tanggung jawab. Kata yang baik membangun kepercayaan, sedangkan kata yang salah merusak relasi sosial.
Di era digital, makna ini menjadi semakin relevan. Media sosial mempercepat penyebaran informasi tanpa selalu disertai kebijaksanaan. Hoaks, fitnah, komentar provokatif, dan pesan yang belum diverifikasi sering menjadi “aek ni latong” modern. Ia menyebar cepat, menempel kuat, dan meninggalkan dampak sosial yang panjang. Banyak hubungan rusak bukan karena pertemuan langsung, tetapi karena kata-kata yang disebarkan tanpa pertimbangan.
Karena itu, kearifan Batak Toba mengajarkan prinsip sederhana namun tegas: manat hata. Berhati-hati dalam berkata-kata adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan sosial. Tidak semua yang diketahui harus disampaikan. Tidak semua yang benar harus diucapkan tanpa pertimbangan. Dan tidak semua yang didengar harus langsung disebarkan.
Pada akhirnya, sipansur aek ni latong adalah peringatan moral yang tajam tentang daya kata. Kata dapat menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan, tetapi juga dapat menjadi racun yang merusaknya. Ia dapat menjadi sumber damai, tetapi juga sumber konflik. Karena itu, setiap orang dituntut untuk menjadi penjaga kata-katanya sendiri.
Jangan menjadi latong di tengah kawan. Jadilah pribadi yang menghadirkan keteduhan dalam pergaulan, yang ucapannya memperkuat kepercayaan, dan yang kehadirannya menenteramkan. Sebab manusia tidak diukur dari banyaknya ia berbicara, tetapi dari damai atau tidaknya jejak yang ia tinggalkan dalam kehidupan orang lain.


