Perspektif: Samosir Jantung Even Wisata Dunia di Indonesia, Kenapa Tidak ?

Penulis: Paul Manjo Sinaga,SE

Jika Bali punya Kuta dan Labuan Bajo punya Komodo, Samosir punya sesuatu yang tidak dimiliki keduanya: Berada tepat di jantung Geopark Kaldera Toba, anggota UNESCO Global Geopark.

Di dalam kaldera supervolcano itu, ada tiga kekayaan yang tak terpisahkan yang menjadi prasyarat pariwisata dunia: Geo Diversity, Bio Diversity, Culture Diversity.

Keragaman bebatuan, keragaman flora fauna, dan keragaman budaya Batak yang berpusat di Pusuk Buhit.

Dengan modal sebesar itu, pertanyaan yang menggelitik adalah: kenapa Samosir belum menjadi jantung event wisata dunia di Indonesia?

Jawabannya ada pada visi pemimpin dan keberanian mengubah ketertinggalan menjadi strategi.

Ketertinggalan itu nyata. Kemandirian fiskal Samosir hari ini masih di angka sekitar 13 persen, bahkan data 2022-2024 menunjukkan rasio kemandirian keuangan daerah masih di bawah 10 persen, kategori sangat rendah. Artinya, 90 persen lebih pembangunan masih ditopang transfer pusat dan propinsi.

Tanpa event, tanpa ekonomi kreatif yang berputar, PAD tidak akan pernah melonjak

Mari kita bedah dengan kacamata SWOT secara populer.
1. STRENGTH (Kekuatan): Modal Alam dan Budaya yang Tak Ada Duanya
Inilah kartu AS Samosir.

Pertama, Geopark Dunia. Dari 16 geosite Kaldera Toba, 5 di antaranya ada di Samosir, termasuk Pusuk Buhit, Tele-Efrata, Huta Tinggi Sidihoni, dan Simanindo-Batu Hoda. Ini bukan sekadar pemandangan, ini laboratorium bumi.

Kedua, Budaya yang Hidup. Samosir sudah ditetapkan sebagai Kabupaten Kreatif Indonesia sejak 2022 dengan subsektor seni pertunjukan. Ada 63 komunitas dan sanggar seni yang aktif. Ini adalah pasukan budaya yang siap tampil, bukan budaya yang diciptakan dari nol.

Ketiga, Status DPSP. Samosir adalah bagian dari Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional. Jalan tol, bandara Silangit, dan infrastruktur sudah dibangun negara. Panggungnya sudah ada, tinggal mengisinya.
2. WEAKNESS (Kelemahan): Fiskal Lemah, Kalender Acak-acakan
Kelemahan terbesar Samosir bukan alamnya, tapi tata kelolanya.

Fiskal yang sangat tergantung. Dengan kemandirian 13 persen, Samosir tidak mampu membiayai event internasional secara mandiri setiap tahun jika hanya mengandalkan APBD. Ini lingkaran setan: tidak ada event -> tidak ada wisatawan -> tidak ada PAD -> tetap miskin.

Event musiman, bukan kalender tetap. Selama ini Festival Danau Toba, Horas Samosir Fiesta, dan festival lainnya datang dan pergi tanpa tanggal pasti. Wisatawan dunia tidak bisa memesan tiket untuk sesuatu yang tanggalnya baru diputuskan 2 bulan sebelumnya.

Partisipasi masyarakat rendah. Salah satu catatan UNESCO saat revalidasi Geopark Kaldera Toba adalah rendahnya keterlibatan masyarakat lokal. Event masih dilihat sebagai proyek pemerintah, bukan pesta rakyat.
3. OPPORTUNITY (Peluang): Dunia Sedang Mencari yang Autentik
Inilah momentumnya.

Dunia sudah bosan dengan wisata buatan. Tren global adalah authentic experience dan geotourism. Turis Eropa dan Asia rela membayar mahal untuk menyaksikan opera Batak yang asli, ritual gondang, tenun Ulos yang ditenun langsung, dan solu bolon yang melaju di atas kaldera purba. Itu tidak bisa ditiru di Bali.

Peluang kedua adalah 17 Oktober sebagai Hari Ulos yang bisa di-branding menjadi World Ulos Day di jantung kaldera. Dan peluang ketiga, kolaborasi lintas kabupaten: Samosir sebagai jantung, tapi pasokannya dari Karo (bunga), Nias (Ahooy), Pakpak Bharat, hingga Kuansing (Pacu Jalur) untuk Solu Bolon internasional.

Jika dikelola sebagai core event tahunan di Oktober dengan pra-event bulanan (Festival Aek dan Sungai dari Januari-September), Samosir akan memiliki Annual Cultural Calendar seperti Edinburgh Festival atau Pekan Kebudayaan Bali yang membuat orang booking hotel setahun sebelumnya.
4. THREAT (Ancaman): Jika Tidak Sekarang, Dilupakan
Ancamannya nyata.

Pertama, pencabutan status UNESCO. Geopark Kaldera Toba sedang dalam proses revalidasi untuk mempertahankan kartu hijau UNESCO. Tanpa event yang mendukung tiga pilar geopark itu – geo, bio, culture diversity – status itu bisa hilang.

Kedua, generasi menunduk. Jika panggung budaya tidak diberikan kepada 63 sanggar itu, generasi muda akan memilih TikTok dan judi online sebagai panggungnya. Budaya akan benar-benar raib.

Ketiga, disalip tetangga. Kabupaten lain di sekitar Danau Toba sudah bergerak lebih agresif menjual event. Jika Samosir yang secara geologis adalah jantungnya, justru diam, maka ia hanya akan menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Penutup: Butuh Visi, Bukan Sekadar Program
Samosir punya semua syarat untuk menjadi jantung event wisata dunia. Syaratnya bukan lagi membangun panggung fisik, tapi membangun kalender budaya yang tetap, visi yang matang, dan keberanian menjadikan kebudayaan sebagai industri.

Jangan lagi berpikir PAD dari pajak hotel saja. Pikirkan PAD dari 30 hari kalender event yang membuat 1.000 kamar homestay penuh, 63 sanggar dapat honor, penenun ulos dapat order dunia, dan anak muda kembali bangga menjadi Batak.

Hanya dengan begitu, kemandirian fiskal 13 persen itu bisa naik menjadi 30, 40, 50 persen atau bahkan 90 persen seperti Kabupaten Badung Bali.

Karena Samosir tidak butuh dikasihani. Samosir butuh diberi panggung dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']