DETEKSI.co-Cianjur, Istana Kepresidenan Cipanas menjadi perhatian Komisi XIII DPR RI dalam kunjungan kerja spesifik yang dilakukan di Cianjur, Jawa Barat. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, menilai istana bersejarah tersebut memiliki nilai penting sebagai sarana pendidikan kebangsaan dan penguatan nasionalisme generasi muda.
Kunjungan Komisi XIII DPR RI ke Istana Kepresidenan Cipanas disebut menjadi momentum memperkuat pemanfaatan situs sejarah nasional sebagai ruang edukasi publik. Menurut Sugiat, Istana Cipanas bukan sekadar bangunan negara, tetapi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Dalam keterangannya kepada Parlementaria di Cianjur, Kamis (21/5/2026), Sugiat menjelaskan bahwa Istana Kepresidenan Cipanas merupakan istana kepresidenan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1742. Bangunan tersebut menyimpan banyak peninggalan sejarah yang dinilai penting dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Banyak sekali peninggalan sejarah yang apabila diperkenalkan kepada generasi muda akan semakin meningkatkan rasa nasionalisme, cinta tanah air, dan patriotisme,” ujarnya.
Program Istana untuk Rakyat atau Istura juga mendapat perhatian khusus dari Komisi XIII DPR RI. Sugiat menilai program yang dijalankan Kementerian Sekretariat Negara itu memiliki nilai strategis karena membuka akses masyarakat untuk mengenal sejarah bangsa secara langsung melalui kunjungan ke istana kepresidenan.
Program tersebut saat ini telah diterapkan di beberapa istana kepresidenan, di antaranya Istana Kepresidenan Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring. Melalui program itu, masyarakat dapat mengunjungi istana secara gratis sesuai mekanisme pelayanan yang telah ditetapkan pemerintah.
Menurut Sugiat, program Istura harus diperluas agar menjangkau lebih banyak masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak usia dini, pelajar sekolah dasar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Melalui kunjungan langsung ke istana kepresidenan, masyarakat diharapkan dapat memahami nilai sejarah bangsa sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air.
“Program ini harus digaungkan sebesar-besarnya agar masyarakat mengetahui bahwa istana benar-benar terbuka sebagai ruang pembelajaran sejarah dan kebangsaan,” ungkap Politisi Fraksi Gerindra tersebut.
Selain menyoroti program edukasi sejarah, Komisi XIII DPR RI juga menekankan pentingnya penguatan tata kelola Istana Kepresidenan. Sugiat menyebut pengelolaan aset negara yang memiliki nilai sejarah tinggi tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Ia menilai penguatan anggaran dan penambahan sumber daya manusia menjadi kebutuhan penting agar proses perawatan dan pengelolaan istana dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
“Komisi XIII tentu mendukung dan juga mendorong bagaimana peningkatan kapasitas dari pengelolaan Istana Kepresidenan seperti penguatan dalam anggaran misalnya, soalnya ini tidak boleh main-main dalam merawat dan mengelola istana presiden,” jelasnya.
Sugiat juga memastikan usulan terkait penguatan anggaran dan SDM tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam rapat kerja bersama Kementerian Sekretariat Negara.
Menurutnya, pengelolaan istana kepresidenan harus dilakukan secara serius agar situs sejarah nasional tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan kebangsaan bagi masyarakat luas.
“Terkait dengan penambahan SDM, saya pikir nanti akan saya sampaikan di rapat kerja kita dengan Mensesneg terkait dengan dua poin tadi. Kita tidak boleh main-main dalam merawat dan mengelola Istana Presiden,” tutupnya. (Red/d)


