Oleh : Maulana Maududi, Pemimpin Redaksi Solidaritas Times dan Ketua Umum DPP Solidaritas Dakwah Kebangsaan
Kembalinya seorang tokoh Islam Berpengaruh Joko Widodo (Jokowi) ke panggung politik nasional melalui Partai Solidaritas Indonesia dipastikan akan memberikan dampak positif yang sangat signifikan terhadap keberlanjutan penguatan Solidaritas Dakwah Kebangsaan.
Suka atau tidak suka, bahkan senang ataupun tidak senangnya bagi siapapun yang melihat dan menilai sosok yang selama 10 tahun berkuasa sebagai orang nomor 1 di Republik ini, tetaplah menegaskan bahwa ikon ketokohan dan familiar nya Jokowi terbukti mampu membawa dampak positif melakukan moderasi dan membawa Islam berada pada posisi strategis dalam memainkan peranan baik di wilayah nasional maupun kaukus internasional.
Tak terbantahkan bahwa Presiden RI ke 7 Haji Joko Widodo (Jokowi) diakui dunia sebagai salah satu tokoh Islam paling berpengaruh di daftar The Muslim 500. Pengakuan ini diberikan oleh lembaga riset Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISCC) atas kepemimpinannya dalam mengayomi umat Islam serta menjaga toleransi di Indonesia.
Kehadiran Jokowi dalam deretan tokoh muslim berpengaruh membuktikan pengakuan dunia atas efektivitas kepemimpinan Jokowi.
Jokowi dianggap sukses memimpin negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Hal ini membuktikan pengakuan masyarakat dunia terhadap legitimasi dan efektivitas kepemimpinan Jokowi yang sukses memimpin sebuah negara besar yang berpenduduk muslim terbesar di dunia dalam sebuah negara yang bukan sebagai negara yang berbentuk negara agama tetapi negara nasional religius.
Kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) dalam mengayomi umat Islam dan menjaga kemajemukan NKRI dicapai melalui pendekatan moderasi, pembangunan infrastruktur keumatan yang merata, dan pengakuan internasional terhadap Islam Indonesia yang damai. Hal ini menjadikan Indonesia rujukan global dalam mengelola keberagaman di tengah populasi Muslim terbesar di dunia.
Pengaruh kepemimpinan Jokowi terhadap umat Islam dan kemajemukan NKR adalah pengayoman Umat Islam dan Pengakuan Internasional yang telah disebutkan dibatas bahwa Jokowi konsisten masuk dalam daftar The Muslim 500 sebagai salah satu tokoh Muslim paling berpengaruh di dunia. Pengakuan ini didasarkan pada visinya mengenai corak “Islam Jalan Tengah” yang damai dan menghargai budaya.
Lalu pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan Islam yakni dengan kebijakan seperti penguatan ekonomi syariah dan penetapan Hari Santri Nasional memperlihatkan afirmasi nyata terhadap peran kaum santri dan pesantren dalam pembangunan negara. Merangkul Ulama adalah pendekatan dialogis sering dilakukannya bersama alim ulama, kyai, dan ormas Islam arus utama (seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah) untuk merumuskan kebijakan kebangsaan dan menjaga stabilitas sosial.
Penjagaan Kemajemukan NKRI untuk Islam Rahmatan lil Alamin sebagai Benteng Toleransi dengan Jokowi secara aktif mempromosikan nilai-nilai Islam yang ramah, santun, dan toleran. Pemahaman ini menjadi fondasi bagi umat Islam untuk hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain di Indonesia. Kemudian menjadikan keberagaman sebagai kekuatan di berbagai forum, Jokowi menegaskan bahwa kemajemukan suku dan agama di Indonesia (seperti keberadaan 714 suku) adalah anugerah yang harus terus dirawat sebagai identitas pemersatu bangsa.
Lebih lanjut dengan pembangunan merata yang dilakukannya saat itu dan melihat keadilan sosial sebagai syarat utama kemajemukan. Pembangunan infrastruktur di berbagai daerah di luar Jawa dilakukan untuk memastikan seluruh elemen bangsa merasakan keadilan dan kesejahteraan, sehingga potensi perpecahan akibat ketimpangan dapat diredam.
Berlanjut kepada dinamika dan tantangan kebebasan beragama yang meskipun upaya menjaga kerukunan terus berjalan, catatan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan pegiat Hak Asasi Manusia menunjukkan bahwa insiden terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan masih menjadi tantangan yang perlu dievaluasi. Juga menolak radikalisme: dalam mengayomi umat, sebagai pemimpin, Jokowi juga bersikap tegas terhadap kelompok yang dinilai menyebarkan paham radikal dan intoleran, yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap ideologi Pancasila dan kemajemukan NKRI.
Disisi lainnya, pengembangan ekonomi syariah dengan membentuk Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) serta menggalakkan program Bank Wakaf Mikro untuk memberdayakan umat. Tak kalah penting kemudian melalui pembangunan infrastruktur pesantren dengan memberikan dukungan penuh terhadap fasilitas pendidikan Islam, termasuk program Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas di berbagai pondok pesantren yang secara sistematis pernah dilakukan oleh Jokowi.
Bahkan dukungan Internasional pun beliau dapatkan dengan konsisten menyuarakan kemerdekaan Palestina dan mempromosikan citra Islam yang damai dan toleran di panggung dunia.


