DETEKSI.co-Medan, Keterhubungan Perumnas Mandala dengan Kota Medan dinilai tidak lagi sekadar soal kedekatan geografis. Dalam kehidupan sehari-hari, kawasan yang secara administratif berada di Kabupaten Deli Serdang itu telah menjadi bagian dari sistem sosial, ekonomi, dan aktivitas perkotaan Medan.
Tokoh masyarakat Perumnas Mandala, Efendy Naibaho, menilai hubungan antara Perumnas Mandala dan Kota Medan telah berlangsung selama puluhan tahun dan terlihat nyata dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Mayoritas warga Perumnas Mandala beraktivitas di Kota Medan. Mulai dari bekerja, bersekolah, berobat, berbelanja hingga mengurus berbagai kebutuhan jasa modern. Secara fungsional, masyarakat sudah sangat terhubung dengan Kota Medan,” ujar Efendy Naibaho kepada wartawan deteksi.co, Jumat (12/6/2026).
Perumnas Mandala selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan permukiman terbesar yang berada di wilayah perbatasan antara Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan. Posisinya yang berdampingan langsung dengan Kota Medan membuat mobilitas masyarakat berlangsung tanpa hambatan administratif dalam aktivitas sehari-hari.
Menurut Efendy, keterhubungan tersebut terlihat dari pola perjalanan harian masyarakat yang sebagian besar menuju pusat-pusat ekonomi di Kota Medan. Banyak warga bekerja di sektor formal maupun informal yang berlokasi di berbagai kawasan bisnis dan perdagangan kota.
Selain itu, aktivitas perdagangan masyarakat juga memiliki hubungan erat dengan pasar dan pusat ekonomi Kota Medan. Berbagai kebutuhan rumah tangga, perdagangan, hingga distribusi barang lebih banyak bergantung pada jaringan ekonomi perkotaan.
Hubungan ekonomi Perumnas Mandala dengan Kota Medan juga semakin kuat karena akses terhadap layanan modern yang sebagian besar tersedia di kota tersebut. Mulai dari layanan perbankan, pendidikan tinggi, rumah sakit spesialis, hingga berbagai jasa profesional menjadi tujuan utama masyarakat Perumnas Mandala.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Perumnas Mandala tidak berdiri sendiri. Ada hubungan ekonomi yang sangat kuat dengan Kota Medan sehingga kawasan ini menjadi bagian penting dari sistem metropolitan Medan,” kata Efendy.
Tidak hanya dari sisi ekonomi, integrasi sosial antara masyarakat Perumnas Mandala dan warga Kota Medan juga berkembang secara alami. Interaksi berlangsung melalui kegiatan pendidikan, pekerjaan, organisasi kemasyarakatan, kegiatan keagamaan, hingga aktivitas budaya.
Menurut Efendy, jaringan sosial masyarakat saat ini sudah melampaui batas-batas administratif yang ada di atas peta pemerintahan.
“Warga Mandala memiliki hubungan sosial yang luas dengan masyarakat Kota Medan. Banyak kegiatan yang dilakukan bersama tanpa melihat batas wilayah administrasi,” ujarnya.
Integrasi sosial Perumnas Mandala tersebut dinilai menjadi salah satu ciri kawasan metropolitan modern, di mana hubungan masyarakat terbentuk berdasarkan aktivitas sehari-hari dan kebutuhan bersama, bukan semata-mata berdasarkan batas pemerintahan.
Meski demikian, Efendy mengingatkan bahwa kedekatan geografis dan keterhubungan fungsional tidak otomatis menjadi alasan untuk melakukan perubahan batas administrasi wilayah.
Menurutnya, persoalan administrasi harus dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai aspek penting lainnya.
“Perubahan status wilayah bukan hanya soal jarak atau kedekatan dengan Kota Medan. Ada faktor pelayanan publik, tata ruang, kemampuan fiskal daerah, kepentingan pembangunan jangka panjang, dan yang paling penting adalah aspirasi masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus di Indonesia terdapat wilayah yang berdekatan dengan kota besar tetapi tetap berada dalam administrasi daerah yang berbeda. Karena itu, hubungan fungsional dapat dikelola melalui kerja sama antardaerah tanpa harus langsung mengubah batas wilayah.
Berdasarkan berbagai indikator geografis, sosial, ekonomi, dan spasial, Perumnas Mandala dinilai telah menjadi bagian dari struktur metropolitan Medan. Hal itu terlihat dari keterhubungan jaringan jalan, tingginya mobilitas penduduk, hubungan ekonomi yang intensif, integrasi sosial yang kuat, serta kesinambungan kawasan terbangun dengan wilayah Kota Medan.
Namun demikian, Efendy menegaskan bahwa diskusi mengenai masa depan Perumnas Mandala harus diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Kajian yang paling penting ke depan adalah bagaimana meningkatkan pelayanan publik, mempercepat pembangunan infrastruktur, dan memastikan masyarakat memperoleh manfaat yang maksimal dari perkembangan kawasan metropolitan ini,” katanya.
Ia berharap berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun pemangku kepentingan lainnya, dapat melihat Perumnas Mandala secara objektif berdasarkan kondisi riil yang terjadi di lapangan sehingga kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat. (gaho)


