Rel Sumatra Disorot, DPR Minta Jalur Banda Aceh–Lampung Tak Sekadar Proyek Ambisius

DETEKSI.co-Jakarta, Rencana pembangunan konektivitas jalur kereta api yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung mendapat dukungan sekaligus catatan penting dari Komisi VI DPR RI. Program yang menjadi bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan jaringan rel terintegrasi di Pulau Sumatra dinilai harus dijalankan secara realistis dan bertahap.

Rel Sumatra yang dirancang menghubungkan wilayah paling utara hingga selatan Pulau Sumatra dianggap sebagai visi besar yang berpotensi memperkuat konektivitas antarwilayah, menekan biaya logistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, Anggota Komisi VI DPR RI, Gus Rivqy Abdul Halim, mengingatkan bahwa pembangunan jaringan rel tidak boleh hanya berorientasi pada penambahan panjang jalur semata. Menurutnya, manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha harus menjadi ukuran utama keberhasilan proyek tersebut.

“Kita mendukung penuh visi Presiden untuk menghadirkan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Namun pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada panjang jalur yang dibangun. Yang lebih penting adalah memastikan jalur yang sudah ada berfungsi optimal, cepat, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” ujar Gus Rivqy.

Jalur kereta api Sumatra saat ini dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa lintasan yang telah beroperasi disebut masih membutuhkan peningkatan kapasitas, efisiensi, dan kecepatan perjalanan agar mampu memberikan layanan yang lebih baik.

Gus Rivqy menyoroti sejumlah koridor penting seperti Lampung–Palembang dan Palembang–Lubuk Linggau yang menurutnya masih memerlukan penguatan agar benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas penumpang maupun distribusi barang.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ribuan kilometer jalur baru seharusnya dibarengi dengan optimalisasi infrastruktur yang sudah tersedia.

“Jangan sampai kita berbicara membangun ribuan kilometer rel baru, sementara pada beberapa jalur eksisting kereta masih bergerak relatif lambat dan utilisasinya belum maksimal,” tegas politisi Fraksi PKB tersebut.

Transportasi kereta di Sumatra selama ini juga masih didominasi oleh angkutan barang, terutama untuk kebutuhan komoditas tambang dan logistik. Karena itu, pembangunan jaringan lintas Sumatra harus mampu menciptakan keseimbangan antara layanan angkutan barang dan transportasi penumpang.

Menurut Gus Rivqy, rel kereta di Sumatra ke depan tidak boleh hanya dipandang sebagai sarana distribusi komoditas. Kehadirannya juga harus mampu meningkatkan mobilitas masyarakat, membuka akses ekonomi baru, memperkuat sektor pariwisata, serta menghubungkan pusat-pusat pertumbuhan daerah.

Selain itu, ia menilai pembangunan rel lintas Sumatra harus terintegrasi dengan infrastruktur lain yang sudah lebih dulu dibangun, termasuk Jalan Tol Trans Sumatra.

Tol Trans Sumatra disebut menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar harus didukung perencanaan matang dan proyeksi kebutuhan yang jelas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Menurutnya, pembangunan rel lintas Sumatra harus didasarkan pada kajian komprehensif, proyeksi permintaan yang kuat, serta kemampuan pembiayaan yang terukur sehingga tidak berakhir menjadi proyek besar yang kurang memberikan dampak nyata.

Gus Rivqy mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama pemerintah untuk menyusun peta jalan yang jelas dan terukur. Tahapan pembangunan sebaiknya dimulai dari optimalisasi jalur eksisting, peningkatan kecepatan perjalanan, pembangunan jalur penghubung yang memiliki urgensi ekonomi tinggi, hingga konektivitas penuh Banda Aceh–Bandar Lampung secara bertahap.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan proyek rel lintas Sumatra nantinya harus dinilai dari manfaat yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha, bukan semata-mata dari panjang rel yang berhasil dibangun.

“Visi besar harus disambut dengan langkah yang realistis. Kita ingin rel lintas Sumatra menjadi simbol kemajuan transportasi nasional, tetapi keberhasilannya harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dan dunia usaha,” pungkasnya. (Ril)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']