Hari Asyura dan Momentum Memperkuat Solidaritas Dakwah Kebangsaan

Oleh : Maulana Maududi (Pemimpin Redaksi Solidaritas Times/Angkatan 18 Ponpes Darunnajah Jakarta dan Ketua Umum DPP Solidaritas Dakwah Kebangsaan).

Merawat hari Asyura (10 Muharam) dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas dakwah kebangsaan melalui amalan sosial dan spiritual. Ini dilakukan dengan menebar kepedulian seperti menyantuni anak yatim, bersedekah, dan berpuasa sebagai wujud syukur atas nilai-nilai perjuangan dan persatuan bangsa.

Menebar kepedulian seperti menyantuni anak yatim, bersedekah, dan berpuasa merupakan bentuk nyata rasa syukur yang memperkuat solidaritas sosial dan persatuan bangsa. Amalan ini mencerminkan semangat gotong royong dan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan yang sejalan dengan fondasi moral bangsa dan ajaran agama.

Praktik ibadah sosial ini memiliki keutamaan dan manfaat mendalam, meliputi menyantuni anak yatim, merupakan amalan mulia yang menjanjikan kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga kelak, sekaligus meringankan beban dan menjaga masa depan mereka. Melalui bersedekah, dapat membersihkan harta, melipatgandakan pahala, serta menumbuhkan jiwa kedermawanan dan rasa empati terhadap sesama yang membutuhkan. Dan dengan berpuasa, melatih pengendalian diri (jihad melawan hawa nafsu), menumbuhkan rasa syukur, serta menumbuhkan kesederhanaan dan kepedulian yang setara dengan kaum dhuafa.

Untuk merealisasikan gerakan tersebut di tengah masyarakat, sejatinya dapat dirancang melalui langkah-langkah strategis melalui Gerakan Peduli Anak Yatim & Duafa. Tradisi memuliakan anak yatim pada 10 Muharam dapat ditransformasikan menjadi program filantropi lintas agama dan golongan. Hal ini mencerminkan nilai gotong royong yang menjadi pilar kebangsaan.

Memuliakan anak yatim pada 10 Muharram (Hari Asyura) adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam dan sering disebut sebagai “Lebarannya Anak Yatim”. Keutamaannya sangat luar biasa, di mana umat Islam yang menyantuni dan menyayangi mereka dijanjikan akan dekat dengan Rasulullah SAW di surga kelak.

Keutamaan Amalan dalam memuliakan anak yatim adalah kedekatan dengan Nabi. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang menanggung kehidupan anak yatim dan berbuat baik kepadanya akan berada dekat dengan beliau di surga, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. Menghapus Dosa dan Melembutkan Hati dengan mengusap kepala anak yatim semata-mata karena Allah SWT bernilai pahala, mendatangkan kebaikan, dan menjadi salah satu cara untuk melembutkan hati yang keras.

Keberkahan bulan mulia dengan bersedekah pada 10 Muharram berlipat ganda keberkahannya karena dilakukan di salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dengan cara memuliakan anak yatim yakni memberikan santunan yang umumnya masyarakat memberikan santunan berupa uang tunai, kebutuhan pokok, atau perlengkapan sekolah untuk meringankan beban mereka.

Adapun dengan mengusap kepala dan memberi kasih sayang, menunjukkan kasih sayang secara langsung, bersikap ramah, dan memberikan perhatian yang mungkin tidak mereka dapatkan karena ketiadaan seorang ayah. Dengan membahagiakan mereka dan memberikan hadiah, pakaian baru, atau mengajak mereka makan bersama agar mereka merasakan kebahagiaan dan tidak merasa kekurangan.

Kemudian dengan Puasa Asyura Bersama dengan Mengajak jamaah dan masyarakat untuk melakukan ibadah bersama guna meningkatkan spiritualitas, yang kemudian dilanjutkan dengan dialog kebangsaan untuk merekatkan persatuan.

Ibadah bersama yang dilanjutkan dengan dialog kebangsaan merupakan kegiatan yang sangat efektif untuk memperkuat kerukunan dan persatuan. Melalui refleksi spiritual, peserta menyamakan visi moral, yang kemudian dibedah secara konkret melalui diskusi kenegaraan untuk merajut harmoni di tengah keberagaman.

Dan melalui Dakwah Moderasi Beragama dapat menyampaikan pesan-pesan dakwah yang menonjolkan nilai toleransi, meneladani perjuangan Nabi Musa AS, serta menolak segala bentuk perpecahan dan kezaliman di lingkungan masyarakat.

Meneladani perjuangan Nabi Musa AS berarti menerapkan sikap keberanian dalam menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk kezaliman maupun penindasan. Di tengah masyarakat, hal ini diwujudkan dengan berani membela kaum lemah, mengedepankan musyawarah untuk mencegah perpecahan, dan menolak tindakan sewenang-wenang seperti perundungan.

Praktik keteladanan ini dalam kehidupan bermasyarakat harus diaplikasikan dengan berani menyuarakan kebenaran. Mencontoh keberanian Nabi Musa saat menghadapi Firaun, kita harus senantiasa berkata jujur dan berani menolak ketidakadilan, korupsi, atau penindasan terhadap sesama.

Menghindari Perpecahan (Ukhuwah) dengan menerapkan sikap kasih sayang dan persaudaraan tanpa memandang latar belakang. Nabi Musa mengajarkan pentingnya menjaga kerukunan antar sesama umat manusia. Dan mencegah Kezaliman dalam Komunitas, dapat membantu kelompok yang tertindas atau termarjinalkan, serta menolak segala bentuk diskriminasi, fitnah, dan kekerasan.

Meneladani sikap sabar dan bijak, seperti Nabi Musa yang sabar dalam membimbing kaumnya, kita perlu menyelesaikan konflik di lingkungan sekitar melalui cara-cara yang damai, santun, dan edukatif.

Jakarta, 24 Juni 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']