Di sebuah lingkungan asrama tentara yang tertib dan penuh disiplin, tumbuh seorang bocah kecil bernama Wahyu Junior Zhafi Hannan Biantara. Senin 2 Juni ini genap berusia 2 tahun 9 bulan. Dia lahir, pada 2 September 2025, tingkah laku dan kecerdasannya sering membuat orang dewasa tersenyum kagum.
Sejak membuka mata di dunia, Zhafi telah akrab dengan suasana khas kehidupan militer. Setiap pagi tepat pukul 06.00 WIB, suara terompet penaikan bendera membangunkannya. Sore hari, pukul 18.00 WIB, suara terompet kembali terdengar mengiringi penurunan Sang Merah Putih. Bagi Zhafi, bunyi-bunyian itu bukan sesuatu yang asing. Ia tumbuh bersama irama kedisiplinan yang mengalun setiap hari.
Karena itulah kata anak dari pasangan Sertu Wahyu Apriyandi dan Ayu Mustika Asih S.I.Kom, Zhafi berbeda dari banyak anak seusianya. Ketika anak-anak lain mungkin merasa takut melihat prajurit berseragam loreng dengan senjata di tangan, Zhafi justru menunjukkan keberanian yang menggemaskan. Begitu melihat seorang tentara melintas, ia akan berlari kecil dengan langkah lincah sambil melambaikan tangan dan memanggil,
“Om… Om…!”
Para prajurit yang melihat tingkahnya sering tertawa dan menggendongnya. Mereka sudah mengenal bocah kecil itu. Tak heran jika banyak yang menjulukinya “Si Anak Kolong”, sebutan akrab bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan militer.
Namun bukan hanya suara terompet yang menemani masa kecilnya. Rumah Zhafi hanya berjarak sekitar tiga meter dari masjid. Sejak bayi, telinganya terbiasa mendengar lantunan azan lima kali sehari. Suatu hari, keluarganya dibuat terharu sekaligus tertawa ketika melihat Zhafi berdiri tegak, lalu menutup kedua telinganya seperti seorang muazin. Dengan suara khas anak kecil yang belum jelas pengucapannya, ia mencoba menirukan azan yang sering didengarnya.
“Allaaah… Akbaaa…”
Meski terdengar terputus-putus, semua yang melihat tahu bahwa bocah kecil itu sedang meniru panggilan suci yang begitu akrab di telinganya.
Di rumah, Zhafi juga mendapat perhatian dan bimbingan penuh kasih dari sang oma tercinta, Pujiati. Dengan sabar, sang oma mengenalkannya pada gerakan-gerakan sholat. Sedikit demi sedikit, Zhafi mulai meniru apa yang dilihatnya.
Saat orang dewasa sholat, ia ikut berdiri. Ketika mereka rukuk, ia ikut membungkuk. Saat sujud, dahinya pun menempel ke lantai. Bahkan setelah selesai, ia mengangkat kedua tangannya seolah sedang berdoa dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang dibacanya. Kata-katanya masih berupa gumaman khas balita. Namun wajah polosnya yang khusyuk membuat siapa pun yang melihat merasa haru. Di usia yang masih sangat belia, ia telah menunjukkan kemampuan meniru, mengingat, dan belajar yang luar biasa.
Geraknya lincah. Rasa ingin tahunya besar.
Keberaniannya mengagumkan. Kecerdasannya mulai tampak sejak dini. Semua itu tumbuh dari lingkungan yang mengelilinginya lingkungan yang penuh disiplin, kebersamaan, dan nilai-nilai keagamaan.
Zhafi adalah pengingat bahwa anak-anak ibarat kertas putih. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari akan menjadi warna yang menghiasi kehidupannya kelak. Suara terompet, langkah para prajurit, lantunan azan, dan doa-doa yang ia dengar sejak kecil, semoga menjadi fondasi yang kuat bagi masa depannya.
Seorang Kakek berharap kepada cucunya kelak, Semoga Wahyu Junior Zhafi Hannan Biantara tumbuh menjadi anak yang saleh, cerdas, berani, berbakti kepada orang tua, berguna bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


