Mahasiswa Apatis, Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta: Pentingnya Kesadaran Kolektif bagi Kaum Inteletual Muda

Oleh : La Ode Muh.Firmansyah (Ketua DPK GMNI STIE Indonesia Jakarta)

Fenomena menurunnya minat mahasiswa dalam mengikuti organisasi dan pergerakan kemahasiswaan saat ini menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga krisis yang terjadi di masyarakat. Justru banyak mahasiswa memilih bersikap pasif, apatis dan menjauh dari ruang-ruang perjuangan intelektual maupun gerakan sosial. Kondisi ini tentu menjadi alarm bagi dunia pendidikan dan gerakan mahasiswa karena mahasiswa sejatinya merupakan kelompok intelektual muda yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kehidupan bangsa dan negara.

Bahwa perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap pola pikir generasi muda. Arus informasi yang begitu cepat melalui media sosial membuat banyak mahasiswa lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaku perubahan. Mahasiswa saat ini cenderung sibuk mengkonsumsi konten digital, mengikuti tren sesaat serta lebih fokus pada kepentingan pribadi dibanding membangun kesadaran kolektif terhadap persoalan rakyat.

Padahal sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa mahasiswa selalu memiliki posisi penting dalam setiap momentum perubahan. Dari perjuangan kemerdekaan, gerakan reformasi hingga berbagai perjuangan sosial lainnya mahasiswa hadir sebagai kekuatan moral yang menyuarakan kepentingan rakyat. Semangat kritis, keberanian bersikap, serta kepedulian sosial merupakan identitas utama kaum intelektual kampus. Ketika mahasiswa mulai kehilangan semangat tersebut, maka bangsa ini akan kehilangan salah satu pilar pengontrol kehidupan demokrasi.

Sikap apatis yang berkembang di kalangan mahasiswa tidak boleh dianggap sebagai hal biasa. Apatisme akan melahirkan generasi yang individualistis, tidak peduli terhadap ketidakadilan, serta kehilangan keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka ruang demokrasi akan semakin lemah karena minimnya partisipasi generasi muda dalam mengawal kebijakan publik dan kehidupan sosial masyarakat.

Organisasi kemahasiswaan sejatinya bukan hanya tempat berkumpul atau kegiatan seremonial semata. Organisasi merupakan ruang pembelajaran untuk membangun karakter, melatih kepemimpinan, memperkuat mental perjuangan, serta membentuk kemampuan berpikir kritis dan analitis. Di dalam organisasi, mahasiswa belajar memahami realitas sosial, belajar berdiskusi, menyampaikan gagasan, menyusun gerakan, hingga membangun solidaritas sesama anak bangsa. Oleh sebab itu, anggapan bahwa organisasi tidak relevan merupakan pandangan yang keliru dan berbahaya bagi masa depan generasi muda.

Salah satunya Gerakan Mahasjswa Nasional Indonesia (GMNI), sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan memandang bahwa mahasiswa harus kembali menghidupkan tradisi intelektual dan semangat keberpihakan terhadap rakyat kecil. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang mengejar nilai akademik semata, tetapi juga harus menjadi tempat lahirnya gagasan, kritik, dan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Mahasiswa tidak boleh kehilangan idealisme dan keberanian untuk bersuara. Perlu disoroti bahwa salah satu penyebab menurunnya minat mahasiswa terhadap organisasi adalah berkembangnya budaya pragmatis dan instan. Banyak mahasiswa mulai memandang aktivitas organisasi hanya dari sisi keuntungan pribadi dan materi. Padahal nilai utama dari pergerakan mahasiswa adalah pengabdian, proses pembelajaran, dan penguatan karakter. Mentalitas pragmatis inilah yang perlahan mengikis semangat perjuangan dan solidaritas di lingkungan kampus.

Atas dasar tersebut, kepada seluruh mahasiswa agar mulai kembali peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Keterlibatan dalam organisasi, forum diskusi, kajian ilmiah, maupun aksi sosial merupakan bagian penting dari proses pembentukan diri sebagai kaum intelektual muda. Perubahan tidak akan lahir dari sikap diam dan ketidakpedulian. Perubahan hanya dapat tercipta apabila mahasiswa memiliki keberanian untuk berpikir, bersikap, dan bertindak.

Yakin dan percaya bahwa generasi muda Indonesia masih memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan perubahan. Namun potensi tersebut harus dibangun melalui kesadaran kolektif, pendidikan politik, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial masyarakat. Mahasiswa harus kembali menjadi pelopor gerakan moral, pelindung nilai-nilai keadilan, dan penyambung suara rakyat.

Melalui pernyataan ini, mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak larut dalam budaya apatis dan individualisme. Sudah saatnya mahasiswa kembali menghidupkan semangat perjuangan, memperkuat tradisi intelektual, serta hadir di tengah masyarakat sebagai agen perubahan yang membawa harapan bagi masa depan bangsa. Sebab sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar lahir dari keberanian generasi muda untuk bergerak dan memperjuangkan kebenaran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER

[wpp post_type='post' limit=5 range='daily' order_by='views']