Oleh : Maulana Maududi (Pemimpin Redaksi Solidaritas Times & Ketua Umum DPP Solidaritas Dakwah Kebangsaan
Patut menjadi tela’ah kita bersama bahwa pengaruh yang didedikasikan oleh seorang H Ahmad Ali selama ini terkait Solidaritas Dakwah Kebangsaan berpusat pada upaya memperkuat Islam washatiyah (jalan tengah) untuk merawat kebinekaan, mencegah radikalisme, dan mendorong pembangunan inklusif.
Pendekatan ini dilakukan beliau untuk menekankan kolaborasi antara ulama dan umara dalam menjaga persatuan nasional di tengah kemajemukan Indonesia. Dan pilar utama dalam diskursus tersebut meliputi penguatan Islam Washatiyah (Jalan Tengah) dengan mendorong dakwah yang damai, toleran, dan moderat untuk membendung narasi ekstremisme dan politisasi identitas.
Kemudian revolusi mental menjadi instrumen kebijakan untuk membangun karakter bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, dan gotong royong.
Lalu kerjasama lintas sektoral dengan melibatkan tokoh agama dan organisasi masyarakat sipil sebagai mitra strategis dalam program kesejahteraan sosial dan penurunan angka kemiskinan adalah ruh perjuangan Jokowi yang sangat signifikan dalam menguatkan Solidaritas Dakwah Kebangsaan.
Keinginan luhur H Ahmad Ali adalah menjadikan instrumen Solidaritas Dakwah Kebangsaan dalam mengoordinasikan program penguatan wawasan kebangsaan bagi para da’i dan penyuluh agama melalui jalur yang terkoordinasi dengan baik.
Pastinya bagi H Ahmad Ali yang kini selaku Ketua Dewan Pembina Dewan Pengurus Pusat Solidaritas Dakwah Kebangsaan (DPP SDK) yang dikenal luas pernah menjadi kekuatan utama Partai Nasdem sebagai Wakil Ketua Umum dan Ketua Fraksi di DPO RI menegaskan bahwa Solidaritas Dakwah Kebangsaan untuk Hijrah Keumatan adalah sebuah gerakan yang mengintegrasikan semangat transformasi spiritual (hijrah) dengan nilai-nilai persaudaraan (solidaritas) dan cinta tanah air (kebangsaan) guna menciptakan peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Gerakan ini berfokus pada kolaborasi umat tanpa memandang sekat-sekat perbedaan.
Dan bagi Ahmad Ali gerakan ini berlandaskan pada tiga pilar utama untuk membangun masyarakat dengan Hijrah sebagai Transformasi Menyeluruh dan Mengarahkan proses hijrah tidak hanya sebagai perubahan penampilan atau rutinitas ibadah, tetapi menjadi perbaikan akhlak, peningkatan literasi keagamaan, dan penguatan kontribusi sosial umat melalui Dakwah yang Merangkul dan Mengayomi.
Dengan mengedepankan pendekatan dakwah yang sejuk, santun, dan toleran. Ini menolak ekstremisme dengan mempromosikan Islam yang moderat (washatiyah) di tengah masyarakat majemuk plus membangun Solidaritas Kebangsaan (Ukhuwah Wathaniyah) dengan menjadikan semangat persaudaraan umat Islam sebagai perekat persatuan bangsa. Gerakan ini menekankan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah kewajiban bersama.Untuk memperkuat implementasi gerakan ini di tengah masyarakat, terdapat beberapa langkah strategis yang biasanya dilakukan oleh komunitas dan lembaga dakwah.
Lebih jauh, pemberdayaan Ekonomi Umat adalah motivasi H Ahmad Ali untuk mengembangkan program filantropi, zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf (ZISWAF) demi mengentaskan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Penguatan Pendidikan dan Karakter adalah dengan membangun pusat-pusat pendidikan Islam yang melahirkan generasi muda berakhlakul karimah, berwawasan luas, dan memiliki nasionalisme tinggi.
Kolaborasi Digital juga sangat dibutuhkan dengan memanfaatkan platform media sosial untuk menyebarkan konten-konten dakwah positif dan membangun kesadaran kolektif umat di era modern. Gerakan ini sering menjadi pedoman Dewan Pengurus Pusat Solidaritas Dakwah Kebangsaan (DPP SDK) dalam merancang program-program kaderisasi ulama dan penguatan moral bangsa. Pandangan mengenai integrasi hijrah dan persaudaraan.
Maka berbagai program jangka pendek dan menengah menjadi agenda kegiatan utama dalam waktu dekat diantaranya adalah Gebyar Muharam 1447 H Sekaligus Deklarasi Dewan Pengurus Pusat Solidaritas Dakwah Kebangsaan (DPP SDK). Kemudian Silatnas Da’i Muda Solidaritas Dakwah Kebangsaan dan dilanjutkan dengan Safari Dakwah Nusantara Solidaritas Kebangsaan.


