Indonesia Dorong Sinergi dan Kolaborasi G20 Rumuskan Kebijakan Fiskal dan Moneter

Share on facebook
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Presiden Jokowi saat membuka the 1st Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting – G20, secara virtual, Kamis (17/02/2022). (Foto: Pool/Antara)
Presiden Jokowi saat membuka the 1st Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting – G20, secara virtual, Kamis (17/02/2022). (Foto: Pool/Antara)

DETEKSI.co-Jakarta, Presidensi G20 Indonesia mendorong sinergi dan kolaborasi antarnegara dalam merumuskan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk mengatasi permasalahan global.

Hal tersebut disampaikan Presiden RI Joko Widodo saat membuka Pertemuan Pertama Para Menteri dan Gubernur Bank Sentral G20 atau the 1st Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting – G20, secara virtual, dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (17/02/2022).

“Indonesia sangat antusias menjalankan peran presidensi G20 untuk berkontribusi kepada dunia. Indonesia akan mendorong sinergi dan kolaborasi termasuk sinergi dan kolaborasi antar menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 dapat merumuskan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk mengatasi permasalahan dunia,” ucap Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Presiden pun optimistis, rangkaian pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral tersebut dalam merumuskan langkah konkret yang bisa segera dilaksanakan.

“Saya menaruh harapan besar kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20. Saya berharap pertemuan ini akan menghasilkan langkah-langkah sinergis dan kolaboratif yang konkret, yang segera bisa dilaksanakan, dan segera tampak hasilnya,” ujarnya.

Kepala Negara menekankan, negara-negara G20 harus bersinergi dan berkolaborasi dalam menghadapi ketidakpastian global yang terjadi saat ini. Anggota G20 harus terus bekerja sama dalam mengatasi permasalahan seperti mengendalikan inflasi yang cenderung meningkat, mengantisipasi kelangkaan dan kenaikan harga pangan, mengatasi kelangkaan kontainer dan rantai logistik lainnya, serta mencegah terjadinya kelaparan.

“Kita juga mempunyai tugas untuk melakukan beberapa transformasi, kita harus mempercepat proses transisi menuju ekonomi baru, kita harus mempercepat transformasi digital yang merata dan terjangkau, dan kita harus mendukung kebangkitan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah),” tegasnya.

Negara G20, imbuh Presiden harus berkolaborasi untuk menangani isu–isu strategis global tersebut dengan capaian-capaian yang nyata serta terukur untuk mengatasi dan mencegah masalah, agar pertumbuhan ekonomi dunia lebih inklusif dan berkelanjutan.

“Dengan semangat recover together, recover stronger, Indonesia mendorong pembahasan agenda-agenda prioritas dunia. Kita harus memperkuat penguatan arsitektur kesehatan global. Kita harus memfasilitasi dan membiayai transisi energi menuju ekonomi hijau dan mempercepat transformasi ekonomi digital,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Kepala Negara kembali menekankan bahwa pandemi belum berakhir dan tidak ada negara yang dapat bangkit sendirian. Semua negara saling terkoneksi dan tidak ada yang terisolasi.

“Sebagaimana saya katakan pada IMF–World Bank Annual Meeting tahun 2018: the winter is coming. Saat ini, winter yang berat benar-benar datang, pandemi belum berakhir dan ekonomi dunia masih terguncang. Dalam situasi seperti ini, tidak ada satu negara pun yang bisa bangkit sendirian,” ujarnya.

Dalam situasi yang seperti ini, lanjutnya, bukan saatnya untuk membuat ketegangan baru yang mengganggu pemulihan dunia, apalagi yang membahayakan keselamatan dunia.

“Saat ini semua pihak harus menghentikan rivalitas dan ketegangan. Kita harus fokus untuk bersinergi, untuk berkolaborasi menyelamatkan dan membangkitkan dunia tempat kita hidup, untuk segera bangkit kembali, pulih kembali,” tandasnya. (DND/UN)